Hikmah Sandal yang Hilang

Kira-kira seminggu yang lalu, sepatu sandal suamiku yang ditaruh di rak sepatu beranda depan, hilang. Aneh. Padahal selama ini apabila kami tinggal menginap di luar kota, tidak pernah ada pencurian. Lha ini, saat ada orang, kok tiba-tiba hilang. Memang sih, tidak tahu persis hilangnya kapan. Entah malam, atau siang saat suamiku pergi bekerja. (Waktu itu aku masih di Jogja, jadi rumah ada orang waktu sore/malam.)

Respons kami jelas kaget ya. Tapi mau bagaimana lagi? Untung yang hilang itu hanya sepatu sandal. Untung malingnya tidak menjebol jendela. Ya, untung yang hilang cuma sandal, yang kalau mau beli lagi, tidak perlu pakai nabung berbulan-bulan. Hehe. Yang hilang sebetulnya dua pasang sepatu sandal. Tapi yang sepasang adalah sepatu sandal yang sudah rusak dan tidak pernah dipakai. Sedangkan yang satunya lagi adalah sepatu sandal yang masih sering dipakai suamiku. Akhirnya, ya suamiku beli lagi.

Nah, gara-gara sandal yang hilang ini, aku akhirnya meminta suamiku selalu menaruh sepatu dan sandalnya di dalam rumah. Sebetulnya aku kurang suka sih cara ini. Aku lebih suka, alas kaki itu diletakkan di luar rumah. Tapi daripada kecolongan lagi, kan gondok tuh? Lebih baik rumah kotor sedikit.

Beberapa hari yang lalu, ada temanku yang tinggalnya tidak jauh dari rumahku, menceritakan bahwa sepeda anaknya hilang. Lah? Setelah kutanya, ternyata peristiwa kehilangan itu tak lama dari hilangnya sepatu sandal suamiku. Kok bisa sih? Apa jangan-jangan ini sedang musim pencurian? Serem amat? Kenapa orang mencuri? Jelas tidak mungkin orang mencuri hanya karena hobi mencuri kan? Itu sih kelainan. Pasti karena desakan ekonomi.

Dari peristiwa dua kehilangan ini aku jadi teringat obrolan saat aku ke Rawaseneng beberapa bulan yang lalu. Ceritanya, saat kami berjalan-jalan di kebun kopi, kami bertemu dengan beberapa ibu yang bertugas membersihkan rumput dan semak di sela-sela tanaman kopi. Penghasilan mereka tidak seberapa. Terus terang aku lupa, berapa yang mereka dapatkan. Tapi menurutku, rasanya sedikit sekali. Penghasilan mereka itu banyak terpakai saat Lebaran. Soal ini aku bisa sedikit membayangkan mengingat masyarakat di desa kakekku. Biasanya saat Lebaran, orang-orang banyak yang membeli baju baru, lalu mereka berkunjung ke sanak saudara. Selain itu, di rumah pun akan masak besar untuk menjamu tamu-tamu yang akan datang. Semua itu tentu memerlukan banyak uang, bukan? Nah, jadi uang mereka banyak tersedot di situ.

Kejadian lain yang masih kuingat adalah ketika aku melihat ada beberapa orang mengejar-ngejar mobil. Mobil itu ngebut sekali. Awalnya aku bingung, ada apa sih kok ramai-ramai begitu? Ternyata … itu pencurian mobil. Ampun deh! Aku padahal sempat lihat mobil tersebut keluar dari sebuah jalan kecil. Aku jelas tidak sempat mencatat nomor polisinya dan hanya bengong menyaksikan kejadian tersebut. Dan lagi-lagi, peristiwa itu terjadi menjelang hari raya.

Sebetulnya aku menyayangkan timbulnya desakan untuk mendapatkan lebih banyak uang menjelang hari raya keagamaan. Apa pun hari rayanya deh. Aku sendiri lebih suka biasa-biasa saja saat melalui hari raya. Tidak perlu dipaksakan untuk bepergian atau beli ini dan itu kalau memang tidak ada uang. Hanya saja, ini memang sulit dilakukan. Dibutuhkan keberanian untuk melakukannya.

Yang pasti sih, sejak adanya sandal yang hilang itu, aku jadi lebih waspada. Semoga tidak ada pencurian lagi deh ya!

 

 

 

Advertisements