Henpon

Saat ini, yang namanya henpon–HP, telepon selular, telepon genggam, atau apalah namanya–adalah hal yang tidak asing lagi. Rasa-rasanya hampir semua orang punya HP. Mulai penjual mi ayam keliling sampai para pejabat, hampir semua punya.  Kadang memang tampak murahan, tapi kadang tampak kinclong.

Dulu, yang namanya telepon genggam adalah barang mewah. Untuk menelepon ke HP pun rasanya mikir seribu kali. Aku ingat betul, dulu ketika mau menghubungi temanku yang punya HP, aku mesti menyiapkan uang lumayan banyak. Zaman kuliah dulu, uang seribu-dua ribu kan cukup berharga. Perbandingannya adalah, untuk naik angkot ke kampus, dulu aku masih bayar Rp 150–walaupun kalau kita kasih duit Rp 200, keneknya sering tidak ngasih kembalian. Sekarang? Ongkos angkot minimal 2000 rupiah. Nah, waktu itu kalau aku mau telepon temanku yang ber-HP, aku harus menyiapkan uang minimal 1000 rupiah. Itu pun hanya untuk ngomong sangat sebentar. Kalau mau lebih lama, yaaa … siapkan 5000 rupiah deh. (Hiks, dulu uang 5000 bisa untuk makan mewah tuh! Minimal batagor dapat dua porsi.) Jadi, aku selalu berpikir bahwa orang yang punya HP adalah orang yang berduit. Iya dong, untuk telepon saja mahal. Belum beli HP dan nomor perdananya. Berapa ratus ribu tuh? Bisa satu jutaan lebih.

Nah, sekarang HP semakin umum dijumpai. Beberapa provider telepon selular pun memberi harga yang terjangkau kalau kita mau ngoceh berjam-jam lewat HP. SMS juga begitu. Pokoknya murah dah!

Aku tak bisa mengatakan jamaknya HP itu baik atau buruk. Memang adanya HP ini memberi pengaruh yang sangat kuat pada dinamika masyarakat. Aku sendiri cukup menikmati keberadaan HP yang semakin murah ini–baik harga handset-nya maupun pulsanya.

Tapi ada satu hal yang menurutku agak mengganggu soal HP ini. Begini ceritanya, beberapa waktu lalu–sudah lama sih–aku dan suamiku sedang naik bus patas jurusan Lebak bulus-Rawamangun. Nah, kira-kira sekitar blok M, ada seorang penumpang naik. Tak lama kemudian dia mulai bertelepon. Cukup lama dan aku bisa mendengar suaranya dengan sangat jelas. Wong dia duduk di depanku. Jadi, aku bisa mendengar seluruh pembicaraannya. Aku yang sudah setengah mengantuk, mendadak terbangun mendengar suara cemprengnya. Dia bertelepon tidak terlalu lama. Tapi selang beberapa saat kemudian, penumpang di belakangku mulai bertelepon. Sekali lagi, suara si penelepon juga sangat jelas. Dia curhat dan tampaknya sedang marah-marah. Entah apa masalahnya, pokoknya orang itu tampaknya sedang kesal. Sama sekali bukan dongeng yang menyenangkan sebelum tidur deh. Dan payahnya, dia telepon lamaaaa sekali. Lagi-lagi aku tak bisa tidur karena suaranya yang cukup keras itu.

Ya, aku terganggu dengan kebiasaan orang yang suka menelepon di kendaraan umum. Sayangnya, di Jakarta ini, rasanya cukup banyak orang yang suka bertelepon di dalam kendaraan umum ya? Mana enak sih mendengarkan curhat tidak penting dari orang yang tidak kamu kenal? Dari yang tercuri dengar olehku saat di kendaraan umum, biasanya yang dibicarakan adalah gosip atau membicarakan orang lain. Males banget deh! Yang aku heran, kok orang itu tidak malu ya? Rasanya dia tenang-tenang saja bertelepon cukup lama, dengan suara cukup kencang, dan temanya membicarakan orang lain. Aku sendiri yang mendengarkan risi, dan kadang malu tanpa sengaja mendengarkan ocehan orang itu. Tapi mau bagaimana lagi? Suaranya kenceng banget, je.

Ngomong-ngomong, punya pengalaman yang cukup mengganggu nggak soal kebiasaan ber-HP ria?

Advertisements