Sang Legenda

Sebelum mengunggah tulisan ini, aku melongok kamus sebentar. Karena tak punya KBBI (payah ya? kerjanya nguplek-uplek kalimat, malah tak punya KBBI :D), aku mengintip kamus Longman. Entah kenapa ya, aku malas beli KBBI. Agak panjang menjelaskannya, bisa jadi satu tulisan tersendiri deh.

Oke, jadi apa yang kutemukan dalam kamus Longman untuk kataΒ legend yang diterjemahkan legenda dalam bahasa Indonesia?

Legend punya empat arti:
1 [countable] an old, well-known story, often about brave people, adventures, or magical events: the legend of Rip Van Winkle who slept for 100 years (Kisah kuno, yang sudah terkenal, kerap kali tentang orang yang pemberani, petualangan, atau peristiwa-peristiwa yang ajaib. Kalau di Indonesia, contohnya legenda Malin Kundang kali ya?)

2 [uncountable] all stories of this kind: Celtic legend (Semua cerita yang berjenis legenda)

3 [countable] someone who is famous and admired for being extremely good at doing something: Pele, Maradona, and other footballing legends (Orang yang terkenal dan dikagumi karena melakukan suatu hal yang luar biasa bagus)

4 [countable usually singular]
Β Β  Β a) literary words that have been written somewhere, for example on a sign: A sign above the door bore the legend `patience is a virtue’. (Kata-kata yang tertulis di suatu tempat, misalnya untuk suatu tanda.)

b) old-fashioned the words that explain a picture, map etc (ini untuk pemakaian kuno; yaitu kata-kata yang menjelaskan suatu gambar, peta, dll).

Untuk arti yang keempat ini sepertinya jarang dikenal ya? Aku tidak tahu berapa arti kata legenda dalam KBBI.

Nah, ceritanya hari Minggu yang lalu aku datang ke reuni asramaku, Syantikara. Eh, sebenarnya untukku istilah reuni agak kurang tepat. Kenapa? Karena kalau reuni berarti kita akan bertemu teman-teman lama kan? Padahal untukku tidak begitu, karena di acara itu aku justru bertemu orang-orang baru. Bingung kan? πŸ˜€

Jadi, reuni kemarin itu dihadiri oleh kakak-kakak asramaku yang angkatannya jauh di atasku. Aku angkatan paling muda di acara itu, dan cuma aku satu-satunya angkatan ’96. Yang angkatannya di atasku adalah Mbak Nana Lystiani, angkatan ’90. Jelas, aku belum pernah bertemu dengan kakak-kakak asrama itu. Bagaimana mau ketemu? Kebanyakan dari mereka masuk asrama pada tahun 80-an, sedangkan aku, tahun 80-an masih balita hehe. Lumayan jauh kan selisih umurnya? πŸ™‚

Awalnya aku ragu, karena kok sepertinya teman-teman yang seangkatan denganku atau yang tak terlalu jauh selisih angkatannya tidak ada yang datang ya? Aku sebenarnya sudah sempat memberitahu temanku yang angkatan ’98 yang rumahnya tak jauh dari rumahku, tetapi dia tidak bisa datang. Jadi, yo uwis, aku datang sendiri sebagai wakil angkatan ’96. πŸ˜€ Tapi barangkali aku kurang gencar dalam memberi pengumuman ya? Maafkan aku ya teman-teman seangkatan ….

Sebenarnya yang mendorongku datang ke acara itu karena di acara reuni itu acara utamanya adalah memberikan dukungan kepada Kak Mimi yang akan dipindahtugaskan ke Sungailiat. Siapa Kak Mimi? Bagiku, Kak Mimi adalah seorang legenda di asrama kami. Sr. Ben, kepala asrama kami, beberapa kali menyebut namanya sebagai teladan anak asrama. Ya, Kak Mimi adalah hakim tipikor, yang di masyarakat biasa dikenal dengan nama Albertina Ho. Dia inilah yang menyidang Gayus, Cirus Sinaga, dan Anand Khrisna. Dari media massa yang kubaca, sepertinya Bu Allbertina Ho ini cukup disegani karena kelurusan dan ketegasannya. Dulu Sr. Ben pernah menceritakan bahwa ketika ia menjadi hakim, dia mendapat rumah dinas, dan rumah dinas itu masih belum ada perabotannya. Lalu ada pengusaha yang memberinya kursi tamu. Namun, pemberian itu ditolaknya. Kabarnya untuk kasus-kasus yang ditanganinya, Kak Mimi ini tidak pernah mau menerima sogokan. Di Indonesia, hal seperti ini agak aneh barangkali ya? Padahal, bukankah sudah semestinya demikian?

Aku datang ke acara reuni itu dengan nebeng Mbak Nana. Aku juga belum pernah bertemu dengan Mbak Nana sebelumnya. Iyalah, dia angkatan 90, aku 96. Anak asrama biasa tinggal di Syantikara 5 tahun, bahkan banyak yang belum genap 5 tahun sudah keluar dan kos di luar. Aku sengaja nebeng karena aku buta daerah yang akan dituju, BSD. Katrok ya? Tiga tahun di Jakarta, tapi belum pernah sampai BSD. Sebenarnya ada bus patas dari dekat tempat tinggalku yang sampai BSD, tapi daripada aku nyasar dan kebingungan di jalan, aku nebeng. Memang aku jarang pergi sendiri di Jakarta. Jadi, hanya sedikit tempat yang cukup akrab bagiku. Entah kenapa, ingatanku pernah nyasar di Jakarta masih membuatku takut. Hehe. Padahal kalau di kota lain, rasanya aku nggak setakut ini. Kayaknya sudah parno duluan bakal dijahati sama orang asing. Dan aku pun ke acara itu diantar suamiku. Hihihi. Soalnya, ya takut kalau nyasar. Jadi, aku datang ke rumah Mbak Nana di daerah Slipi dan bertemu dengan Rheiner, putranya yang berumur 2,5 tahun. Rheiner ini menggemaskan, suka main mobil-mobilan, dan cukup hapal beberapa macam mobil. πŸ™‚

Oke deh, sampai di sana aku bertemu dengan mbak-mbak yang belum pernah kutemui. Tapi mereka baik-baik dan ramah sih. Jadi, aku tak merasa asing banget. Memang jadinya aku sempat membayangkan, kalau ketemu teman-teman seangkatan, pasti lebih seru lagi. Hehe. Mbak Lilis yang punya rumah langsung menyuguhi tekwan yang yummy! Dan di situ tersedia banyak makanan enak yang membuatku kekenyangan dalam waktu singkat.

Suasananya saat itu benar-benar mengingatkan pada asrama. Semua tampaknya dalam mood yang riang. Semacam acara rekreasi zaman asrama dulu. (Rekreasi adalah acara sebulan sekali di asrama, di mana para warga diwajibkan hadir semua. Acaranya biasanya di ruang tamu, duduk di bawah, mengobrol, makan bersama, dan suster biasanya akan memberikan wejangan atau beberapa informasi.) Di sudut kulihat Kak Mimi sedang mengobrol. Aku sempat berkenalan sebentar. Dan rasanya geli waktu menyebut aku angkatan 96. Kak Mimi angkatan 79, itu berarti aku masih berusia setahun waktu dia masuk kuliah. πŸ˜€

Setelah semua makan, Mbak Emil meminta kami semua berkumpul. Kami pun duduk melingkar. Kak Mimi duduk di tengah-tengah, lalu dihadapkan dengan Mbak Anas (Anastasia Mustika Widjaja) dan Mbak Lilis (Maria Noerlistijaningsih) Ceritanya kaya di ruang sidang. Setelah haha-hihi sebentar, Kak Mimi pun bercerita pengalamannya saat menyidang Gayus. Seru deh. Begitu pun dia juga bercerita tentang alasan dia menetapkan hukuman 7 tahun bagi Gayus juga bagaimana ia diputuskan untuk dipindah ke Sungailiat. Kami menyimak cerita Kak Mimi dengan serius. Dari ceritanya, kutangkap Kak Mimi orang yang memegang prinsip, tegas, dan berani. (Khas Syantikara kah? :D)

Acara ini ditutup dengan berfoto di tangga rumah Mbak Lilis. Kalau dulu di asrama kami suka berfoto di tangga belakang unit UGAL, sekarang tangga di depan rumah Mbak Lilis, dijadikan tempat berfoto juga. πŸ™‚

Aku senang bisa datang ke acara reuni itu. Aku merasa, Syantikara ini seperti keluarga besar yang kompak sampai sekarang. Dan jika melihat cukup banyak eks Syantikara yang datang di acara itu, aku merasa betapa kedekatan yang timbul saat tinggal di Syantikara masih terasa sampai sekarang. Menurutku, Syantikara bagaikan rumah kedua tempat kami semua bisa belajar tentang pentingnya kebersamaan dan menjadi satu keluarga. Dan aku senang bisa bertemu serta berkenalan dengan sang legenda, Kak Mimi. πŸ™‚

Semoga sukses di tempat tugas yang baru, Kak Mimi. Kami semua mendoakanmu.

Berikut ini tautan tentang “sang legenda”:
http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/09/21/136336/Albertina-Ho-Srikandi-Pengadil-yang-Tegas

http://www.detiknews.com/read/2011/09/21/153324/1727448/608/hakim-albertina-ho-tak-tergiur-mercedes-benz