Teliti Setelah Membeli

Tadi pagi, aku niat banget; pukul 09.00 kurang sedikit aku sudah sampai Gramedia Matraman. Karena toko belum buka, aku lihat-lihat buku obralan yang ada di teras depan. Setelah menunggu kira-kira 10 menit, toko dibuka, dan aku masuk.

Kunjunganku ke Gramedia ini kulakukan karena dari woro-woro yang kubaca di FB dan Twitter, Gramedia sedang mengadakan promo diskon 30% dengan menggunakan kartu Flazz dan kartu kredit BCA. Dari rumah aku sudah tahu buku apa saja yang akan kubeli. Tapi tetap saja aku keliling dari rak ke rak untuk melihat buku-buku baru. Mengunjungi toko buku, walaupun hanya melihat-lihat, itu baik buat kesehatan jiwa–setidaknya bagiku. Apalagi kalau dari rumah sudah berniat membeli buku dengan diskon.

Setelah puas keliling dari rak ke rak, aku memutuskan untuk segera ke kasir membayar buku-buku yang kubeli. Kuserahkan beberapa buku yang kubeli, lalu si mbak kasir bertanya apakah aku punya kartu anggota. Kujawab iya, sambil menyodorkan kartu Flazz yang berfungsi ganda sebagai kartu member Gramedia. Buku dipindai satu per satu lalu kubayar. Selesai? Belum. Cerita tidak berhenti sampai di sini. Kalau cuma begitu saja, tidak akan kutulis di blog dong. 😀 Ternyata waktu kucek notanya, aku tidak mendapat diskon. Loh? Ternyata begini (ini kurasa salahku juga) aku memang menyerahkan kartu Flazz, tapi karena kartu Flazz-ku belum kuisi, aku membayarnya dengan kartu debit BCA. Dulu seingatku waktu musim diskon begini, aku cukup menunjukkan kartu Flazz, membayar dengan kartu debit, dan tetap dapat diskon. Tapi okelah, aku yang keliru karena tidak menanyakan kepada si mbak kasir bagaimana persisnya untuk mendapatkan diskon. Dan mungkin sebaiknya aku tidak terlalu percaya pada ingatanku sendiri.

Karena dari rumah aku datang ke Gramedia untuk dapat diskon, aku menanyakan apakah tidak mungkin proses pembelian ini semacam dibatalkan lalu aku mengisi kartu Flazz-ku dulu supaya bisa dipakai dan dapat diskon. Ternyata bisa. Si mbak kasir cukup kooperatif. Tapi dari hal ini sebenarnya aku agak menyesalkan kenapa waktu aku menyerahkan kartu Flazz, aku tidak diberitahu semacam ini misalnya: “Kalau ingin mendapatkan diskon 30%, silakan Anda top-up dulu kartu Flazz-nya.” Atau: “Kalau ingin mendapatkan diskon, bayarnya pakai kartu Flazz. Jadi, silakan top-up dulu di lantai bawah.” Tapi kuakui, aku juga kurang proaktif untuk bertanya lebih detail. Aku hanya mengandalkan ingatan yang tidak seperti gajah ini. Oke, baiklah aku mengaku salah. Jadi, pelajaran pertama dari kejadian ini adalah: Jangan mengandalkan ingatan; tanyakan ke kasir dan dapatkan informasi sejelas mungkin bagaimana caranya untuk mendapatkan diskon. Jangan terlalu berharap pihak kasir akan memberi tahu kita bahwa ada diskon dengan menggunakan kartu tertentu. Ini penting supaya tidak menyesal.

Nah, kejadian yang menurutku agak menggelikan dan “aneh” adalah komentar petugas kasir ketika melihat satu buku anak terbitan Kiddo: “Semua dapat diskon, kecuali buku ini.”

Aku langsung menjawab, “Setahu saya, Kiddo itu lini anak penerbit KPG, Mbak.” (Agak deg-degan juga karena aku menjawab berdasarkan ingatanku saja. Beberapa hari lalu, dari seorang teman, aku mengetahui bahwa Kiddo itu bagian dari KPG.)

Si mbak kasir masih belum percaya. Lalu dia mengecek ke bagian customer service. Memang pada akhirnya buku itu dapat diskon sampai 30% sih. Tapi bukankah ini lucu? Bagaimana mungkin pegawai toko buku Gramedia tidak tahu penerbit mana saja yang termasuk kelompok Kompas Gramedia? Lagi pula, program diskon ini sudah berlangsung beberapa hari. Jangan-jangan selama beberapa hari kemarin orang-orang yang membeli buku terbitan Kiddo tidak mendapat diskon? Penerbit Kiddo tidak baru-baru banget, kan? Masak iya, tidak tahu? Nah, kini pelajaran kedua yang kupetik adalah: Kenali penerbit. Pegawai toko buku rupanya tidak selalu paham dengan nama penerbit. Kalau tidak teliti, bisa tidak dapat diskon loh. 😀

Kalau biasanya orang memakai pedoman “teliti sebelum membeli”, hari ini aku tak sengaja memakai pedoman “teliti setelah membeli”. Kalau aku tidak mengecek nota setelah dari kasir, mungkin aku tidak jadi dapat diskon saat beli buku.

Jangan Risau Jika Ada Buku Dibakar

Sebetulnya aku ingin posting dengan tema lain, tapi karena pengin mengeluarkan uneg-uneg, jadi aku tulis ini dulu saja. (Aku jadi bertanya-tanya, sebetulnya kata uneg-uneg itu berasal dari kata atau bahasa apa? Kenapa mesti ditulis berulang, bukan “uneg” saja?)

Ketika aku pernah jadi teman belajar seorang bocah, dia sempat bertanya kepadaku, “Kenapa sih perlu belajar bahasa Inggris?” Jujur saja aku agak kelabakan ditanyai seperti itu oleh anak kelas 4 SD. Apa yang mesti kujelaskan? Bagaimana menjelaskan secara lebih sederhana konsep di dalam kepalaku tentang pentingnya bahasa Inggris? Apakah cukup jika aku mengatakan bahwa dengan bersusah-susah bahasa Inggris sekarang nanti dia cas cis cus dengan orang asing kelak? Jawaban ini akan dengan mudah dia tangkis bahwa orang-orang yang dia temui adalah keluarga dan teman-temannya, dan dengan mereka semua dia cukup menguasai bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Dan memang bodohnya aku sih, tidak bisa berpikir cepat dan memproyeksikan hal-hal “berkilau” di masa mendatang yang bisa ia raih jika dia menguasai bahasa Inggris.

Namun, pertanyaan bocah itu terus melekat di kepalaku. Sampai sekarang. Mengapa perlu belajar bahasa Inggris? Mengapa perlu menguasainya? Ini pertanyaan reflektif bagiku. Mungkin aku bisa menjawab itu penting karena aku mendapat nafkah dari menerjemahkan buku bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Itu jawaban paling mudah bagiku sendiri. Tapi apakah hanya itu?

Dua hari ini aku mengikuti berita tentang sebuah buku terjemahan yang diprotes oleh ormas keagamaan tiga huruf. Bagiku menggubris ormas ini memang seperti mengikuti tuntutan orang tidak waras. Dan sayangnya pemerintah memberi ruang dan angin kepada orang-orang seperti itu. Sayangnya lagi, ternyata ada orang yang menurutku berpendidikan (setidaknya dia dosen sih) yang setuju sama tindakan ormas tersebut. Dengan kata lain, ada saja orang yang menyetujui kekerasan berkedok agama. Cuma bisa mengelus dada deh kalau begitu.

Oke, balik ke soal protes buku itu. Hari ini kubaca buku-buku itu akhirnya dibakar. Haiyaa … kecewa berat deh sama keputusan penerbit tersebut untuk membakar buku itu. Walaupun aku bisa mengerti juga apa kira-kira “ketakutan” penerbit itu sih. Mereka mengayomi banyak karyawan. Kalau toko mereka dibakar, berapa banyak orang yang kehilangan nafkah? Tapi di satu sisi, aku juga bertanya-tanya sampai kapan kita (kita? elu aja kali) akan tunduk pada ketakutan dan tuntutan orang gila? Sebetulnya pembakaran buku itu dapat dihindari kok. Aku yakin pihak penerbit dan editor tahu bagaimana caranya. Editor itu penjaga gawang atau penyaring. Kurasa kata-kata yang bisa membuat ormas tersebut murka, dipotong. (Yang aku heran, kenapa setiap ormas itu marah dan tersinggung, merepotkan banyak orang ya? Negara apa sih yang menurut begitu saja pada suatu ormas?) Itu cara paling mudah. Tapi kan sudah kebacut … nasi sudah menjadi bubur. Dan sebetulnya aku juga agak kurang sreg jika ada kata yang dipotong-potong begitu. (Bukan berarti sebuah buku tidak harus diedit, ya.) Ini bisa membuat buku kurang nendang. Menurutku sih.

Nah, di sinilah kupikir salah satu pentingnya menguasai bahasa Inggris. Dengan menguasai bahasa Inggris, kamu tidak perlu risau dengan tuntutan gila ormas keagamaan itu jika kamu saking penasarannya ingin membaca buku tersebut. Cari saja (kalau tidak punya uang, boleh pinjam, boleh unduh di internet) buku aslinya dalam bahasa Inggris, dan nikmatilah sepuasnya! Plus, kamu juga bisa membaca buanyaaak buku yang jauh lebih keren dan lebih nendang daripada buku-buku yang diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Mau cari buku apa saja ada. Tak hanya buku sebetulnya, majalah atau koran berbahasa Inggris tulisannya jauh lebih berisi. Efeknya, otakmu akan lebih berisi, wawasanmu lebih luas. Tertarik?

Ah, memang ini kedengarannya muluk-muluk dan terkesan kurang membumi, ya? Tapi dari pengalamanku sendiri, bisa membaca buku berbahasa Inggris yang tidak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia itu mengasyikkan. Dan aku merasa betapa jauh tertinggalnya pemikiran buku-buku yang ada di sini (baca: buku-buku berbahasa Indonesia). Mungkin kalau banyak buku diterjemahkan (apa adanya) dalam bahasa Indonesia, banyak orang akan terkaget-kaget :D. Dan … ormas tiga huruf itu akan lebih heboh lagi marah-marahnya. Memang susah sih ngajak orang berpikiran maju. Masih banyak orang yang lebih suka berkubang dalam ketidaktahuan.

Pilih-pilih Buku

“Bingung mau pilih buku yang mana,” ujar seorang temanku saat kuberitahu bahwa ada diskon buku. Kalau sedang ada diskon, memilih buku mana yang harus dibeli memang kadang bingung juga. Apalagi kalau semuanya (tampak) bagus, jadi ingin memborong. Padahal kalau keinginan itu dituruti, bisa miskin mendadak deh.

Senin lalu aku ke Gramedia. Setelah mendapat informasi dari milis bahwa GPU ulang tahun dan buku-bukunya didiskon 20% sampai tanggal 31 Maret 2011, aku jadi tertarik ke toko Gramedia. Memanfaatkan program diskon, nih ceritanya. Lumayan kan 20%, bisa buat ganti ongkos angkot hehe. Selama di Jakarta aku memang berdiet membeli buku. Di sini kan hanya kadang-kadang saja ada program diskon. Dulu waktu di Jogja, aku mengandalkan toko buku diskon: Toga Mas dan Social Agency. Jadi, cek-cek buku baru atau buku yang ingin kubeli di Gramedia, setelah itu belinya di toko buku diskon. Atau kalau tidak, sekarang sih memantau beberapa buku yang kuinginkan, nanti waktu pulang ke Jogja, memborong deh! Tetapi tidak selalu seperti itu. Kadang kalau pengen banget, ya langsung beli. Atau nitip beli sama teman yang bisa dapat harga miring. Atau menunggu pameran buku, yang biasanya akan memberikan diskon (walaupun tidak terlalu banyak) kepada konsumen. Yah, bisa-bisanya aja deh untuk mendapatkan harga diskon.

Belakangan ini aku hanya kadang-kadang saja ke toko buku. Sebenarnya ke toko buku merupakan “hiburan”, tetapi seringnya jadi merasa merana karena jadi pengen beli ini dan itu. Maka biasanya aku hanya memantau informasi, dan kalau ada diskon lumayan, baru deh ke toko buku. Kalau tidak, tahan dulu. Toh buku tidak langsung menghilang di pasaran dalam hitungan minggu, kan? 😀 Dan rasa-rasanya aku selama ini selalu bisa mendapatkan buku yang kuinginkan walaupun sudah agak lama dari waktu terbitnya.

Oya, balik pada kebingungan memilih buku. Aku kadang-kadang juga bingung mau membeli buku yang mana. Aku bukan orang yang melihat cover buku, langsung tertarik untuk membeli. Ada beberapa hal yang kujadikan patokan dalam memilih buku. Yang pertama sih, aku melihat pengarangnya. Kalau beberapa karya pengarang tersebut sudah kukenal, biasanya aku akan dengan mudah mencomot buku tersebut.

Yang kedua adalah penerbit. Entah kenapa aku cenderung membeli buku dari beberapa penerbit tertentu yang sudah kukenal. Dulu aku pernah membeli buku dari penerbit X. Penerbit ini cukup besar (sebesar apa, aku tak tahu, tetapi namanya sudah cukup akrab) dan kebetulan ada buku (novel terjemahan) yang kutaksir diterbitkan oleh penerbit ini. Langsung kubeli deh. Waktu kubaca, aku langsung hilang nafsu. Kenapa? Banyak salah ketik dan terjemahannya masih kaku. Aku jadi bertanya-tanya, buku ini sempat diedit apa tidak ya? Sejak saat itu, aku jadi malas membeli buku dari penerbit itu lagi. Apalagi sekarang dengan adanya e-book gratis, mengunduh buku adalah salah satu alternatif untuk mendapatkannya. Tak perlu beli :D. Lebih baik menabung untuk membeli e-book reader, supaya membaca e-book lebih menyenangkan.

Selain dua hal di atas, aku tentu mempertimbangkan tema dan harga. Dua hal ini mau tak mau jadi pertimbangan. Kadang aku juga mempertimbangkan ulasan beberapa orang tentang buku tersebut. Ulasan itu bisa didapat baik dari media cetak maupun dari Internet (milis, blog, notes di FB, dll). Ulasan dari orang terpercaya dan dipaparkan dengan jujur (tidak cuma promosi), biasanya sangat kupertimbangkan.

Nah, kalau kamu, membeli buku dengan pertimbangan apa? 🙂

 

N.B Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mempromosikan toko buku atau penerbit tertentu.