Kesan Misa Online

Beberapa bulan yang lalu, aku sudah berencana akan pulang pada Paskah tahun ini. Saat kulihat jadwal, lingkungan tidak dapat tugas besar saat Tri Hari Suci. Jadi aku bisa pulang, pikirku. Tapi aku masih menimbang-nimbang, akan naik mobil sendiri atau naik kereta. Belum sempat aku membuat keputusan, himbuan #dirumahsaja sudah mulai digaungkan. Dan demi menjaga kesehatan kita semua, aku batal pulang. Angan-angan Paskahan di rumah bareng Bapak dan Ibuk pupus.

Selama Tri Hari Suci aku ikut misa online. Memang ada yang aneh ya. Tapi lama-lama jadi biasa. Yang kurang adalah kita tidak bisa terima komuni. Tetapi kapan lagi bisa misa dengan Bapak Uskup langsung, datang kurang 5 menit, dan duduk paling “depan”? Selain itu, aku bisa “main-main” ke gereja lain, ke Jakarta, ke Pontianak, ke Semarang, dsb.

Ada teman di FB yang bilang dia merasa belum misa walau mengikuti misa online. Kalau buatku, rasanya yah separuh misa, separuh enggak. Tapi seperti kujelaskan tadi, aku mulai cukup terbiasa. Mungkin terasa praktis ya. Sempat agak terharu, tapi cuma di misa pertama saja. Selanjutnya baik-baik saja. Aku merasa gereja saat ini membuat terobosan dengan cepat.

Aku bertanya-tanya misa online seperti ini akan ada sampai kapan. Ada yang memperkirakan sampai akhir Mei. Tetapi aku pikir sepertinya bakal lama. Hitungan 1-2 bulan tidak cukup–mengingat orang Indonesia sangat sulit disiplin. Aku membayangkan, seandainya dua bulan lagi gereja sudah mengadakan misa, apakah aku akan mulai ke gereja lagi? Sepertinya aku akan berpikir-pikir dahulu. Rasanya lebih aman misa online di rumah begini. Apalagi mengingat orang Indonesia kurang disiplin, flu sedikit masih ke gereja, salaman kiri kanan. Wah, aku jadi parno sendiri. Apakah mungkin di gereja duduknya saling berjarak? Butuh berapa kali misa? Apakah bangku gereja akan cukup?

Sepertinya akan ada “new normal” gara-gara ada wabah corona ini. Mulai dari sekadar keluar pakai masker sampai misa online. Aku merasa tidak masalah jika tidak ke gereja selama beberapa bulan dan tidak komuni selama berminggu-minggu. Justru kali ini aku bisa belajar beragama secara lebih personal. Lagi pula ini demi tujuan yang lebih besar, yaitu demi keselamatan bersama. Jadi, kurasa ini tidak masalah. Bahkan kurasa ada sisi positifnya, yaitu orang-orang sakit yang selama ini sulit sekali ke gereja jadi bisa “ikut” misa. Dengan adanya misa online, mereka merasa tersapa dan dijangkau.

Sebelum tulisan ini berakhir, aku mengucapkan selamat Paskah untuk teman-teman yang merayakan. Semoga kita dimampukan untuk mencintai sesama lebih dalam. Have a happy and healthy Easter!

Catatan Misa 13 Agustus

Tadi pagi aku misa—dengan sedikit buru-buru. Sering sekali aku begitu. Awalnya pengin misa jam 5.30, tapi telat bangun. Aku malas misa jam 7.00. Entah kenapa misa jam 7 pagi itu tidak menarik. (Misa kok pakai menarik atau tidak menarik, sih?) Akhirnya menjelang jam 7, kuputuskan misa jam 7.30 di Kapel Belarminus saja. Belakangan aku suka misa di sana karena seperti “pulang”—ingat zaman kuliah aja sih karena kapel tersebut berada di lingkungan kampusku dulu.

Aku agak terlambat datang. Aku datang pas lagu pembukaan. Ternyata hari ini adalah Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Ini adalah perayaan penting bagi umat Katolik. Bacaan Injilnya adalah tentang Maria mengunjungi Elizabet.

Khotbahnya menarik. Dikatakan bahwa untuk menjumpai Elizabet, Maria harus berjalan sejauh 100-an kilometer. “Kalau dihitung-hitung, sekitar sini sampai Demak kalau ke utara. Kalau ke selatan, sampai Pacitan,” begitu kata Romo untuk memberi gambaran. Menurutku, penting untuk memberikan gambaran antara isi Alkitab dengan keadaan masyarakat sekarang dalam homili. Rentang masa, jarak, dan budaya yang begitu jauh kadang membuat umat tidak paham sisi mana saja yang harus digarisbawahi.

Sesampainya di rumah, aku membaca beberapa buku yang kurasa bisa lebih menjelaskan keadaan zaman Yesus dulu. Di buku Sketches of Jewish Social Life (hal. 46-47), dikatakan bahwa zaman itu orang biasa bepergian dengan jalan kaki dan berombongan. Sepertinya di sana lazim orang bisa menginap di sebuah rumah yang dilewatinya. Hotel belum banyak seperti zaman sekarang, kan? Jadi, ada kebiasaan orang memasang tirai di depan pintu rumah, untuk mengindikasikan masih ada kamar bagi tamu.

Kupikir Maria adalah pribadi yang menarik. Ketika masih muda, dia punya niat mengunjungi kerabatnya dengan berjalan jauh. Benar-benar jalan kaki, lo. Kurasa dia pasti seorang yang pemberani. Hatinya pasti lembut, mudah tersentuh sekaligus memiliki kemauan keras. Tidak heran jika gereja Katolik sangat menghormati Bunda Maria.