Se-Gadget Apakah Kamu?

Terus terang aku bukan orang yang gemar membeli gadget baru. Bahkan belakangan ini boleh dikatakan seleraku terhadap gadget menurun. Ponsel yang kupakai pun tergolong jadul. Sangat tidak menarik, kurasa. Sengaja aku memilih ponsel yang hanya bisa untuk bertelepon dan kirim sms, layarnya pun tidak berwarna. Kenapa? Selama di Jakarta aku masih naik kendaraan umum, ponsel semacam itulah yang tidak membuatku deg-degan saat aku harus memakainya di tempat umum. Di Jakarta aku sebetulnya cukup sering menyaksikan orang-orang memakai ponsel bagus saat sedang di jalan atau di tengah keramaian. Tapi nyaliku tidak sebesar itu. Di kepalaku masih tertanam kota ini kurang ramah. Jadi, aku mesti ekstra hati-hati supaya keselamatan diriku tidak terancam. Bayangkan, jika aku jadi sasaran jambret atau copet hanya karena punya ponsel bagus, apa untungnya bagiku?

Dulu, pandanganku terhadap ponsel tidak seperti itu. Pandangan yang kuanut waktu awal-awal aku punya ponsel adalah, semakin canggih ponselku, semakin kerenlah aku. Walaupun aku saat itu belum mampu beli ponsel bagus, diam-diam aku suka kagum saat melihat orang yang pakai ponsel bagus. Lalu aku mulai berpikir, kapan ya aku bisa beli ponsel baru yang keren? Setidaknya, yaaa … punya gadget atau ponsel yang kaya orang-orang itu lo. Tapi itu dulu. Sekarang malah sepertinya kebalikannya. Semakin banyak orang pakai gadget tertentu, aku malah jadi semakin malas untuk memiliki gadget serupa. Pandangan yang antik, kurasa.

Tapi barangkali seleraku soal gadget itu memang rendah. Wong gaptek, je! Dan kenyataannya aku tidak pernah punya smartphone atau gadget nan keren-keren itu. Mungkin ini adalah gabungan antara selera gadget yang rendah dan pelit. Sangat sedikit uang yang kualokasikan untuk membeli gadget. Asal bisa memenuhi kebutuhan utamaku, cukuplah. Dan rasa-rasanya saat aku mengeluarkan ponselku yang unyu-unyu itu, dia tampak tenggelam di antara kecanggihan gadget yang dimiliki orang lain.

Sehari setelah aku dan suamiku ikut lokakarya di Erasmus tempo hari, suami berkata, “Kamu perhatikan tidak, bule-bule yang ikut lokakarya kemarin itu kebanyakan (atau malah semuanya?) tidak sibuk dengan gadget, ya?” Kuingat-ingat, memang iya sih. Mungkin kalaupun mereka punya ponsel atau gadget, tidak bisa dipakai di sini? Mungkin. Aku juga tidak sempat tanya ke mereka. 😀 Tapi seingatku, tidak kulihat ada yang mengeluarkan tablet dan uplek sibuk sendiri. Memang ada yang membuka laptop, tapi intensitas pemakaiannya kulihat tidak sebanyak orang Indonesia. Mereka kulihat tampil sederhana dan saat berbincang dengan orang lain tidak disambi dengan mengutak-atik gadget atau smartphone. Malah ada yang masih mencatat di agenda kecilnya. Begitu, seingatku.

Yah, pada akhirnya setiap orang bebas memilih. Mau selalu mengikuti gadget terbaru, silakan. Mau uplek dengan smartphone-nya, ya monggo kerso. Boleh-boleh saja. Tapi sampai sekarang aku masih memilih memakai ponsel bututku yang unyu itu. Tak apalah tampak jadul, yang penting ponselku selalu ada pulsanya. 😀 😀 Entah sampai kapan aku memegang prinsip ini. Tapi rasa-rasanya aku kini cenderung kagum pada orang yang tidak selalu sibuk dengan gadgetnya. Atau, kalaupun dia punya gadget bagus, tidak pamer dan hanya memakai seperlunya. Nah, kalau kamu bagaimana?