Jangan Risau Jika Ada Buku Dibakar

Sebetulnya aku ingin posting dengan tema lain, tapi karena pengin mengeluarkan uneg-uneg, jadi aku tulis ini dulu saja. (Aku jadi bertanya-tanya, sebetulnya kata uneg-uneg itu berasal dari kata atau bahasa apa? Kenapa mesti ditulis berulang, bukan “uneg” saja?)

Ketika aku pernah jadi teman belajar seorang bocah, dia sempat bertanya kepadaku, “Kenapa sih perlu belajar bahasa Inggris?” Jujur saja aku agak kelabakan ditanyai seperti itu oleh anak kelas 4 SD. Apa yang mesti kujelaskan? Bagaimana menjelaskan secara lebih sederhana konsep di dalam kepalaku tentang pentingnya bahasa Inggris? Apakah cukup jika aku mengatakan bahwa dengan bersusah-susah bahasa Inggris sekarang nanti dia cas cis cus dengan orang asing kelak? Jawaban ini akan dengan mudah dia tangkis bahwa orang-orang yang dia temui adalah keluarga dan teman-temannya, dan dengan mereka semua dia cukup menguasai bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Dan memang bodohnya aku sih, tidak bisa berpikir cepat dan memproyeksikan hal-hal “berkilau” di masa mendatang yang bisa ia raih jika dia menguasai bahasa Inggris.

Namun, pertanyaan bocah itu terus melekat di kepalaku. Sampai sekarang. Mengapa perlu belajar bahasa Inggris? Mengapa perlu menguasainya? Ini pertanyaan reflektif bagiku. Mungkin aku bisa menjawab itu penting karena aku mendapat nafkah dari menerjemahkan buku bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Itu jawaban paling mudah bagiku sendiri. Tapi apakah hanya itu?

Dua hari ini aku mengikuti berita tentang sebuah buku terjemahan yang diprotes oleh ormas keagamaan tiga huruf. Bagiku menggubris ormas ini memang seperti mengikuti tuntutan orang tidak waras. Dan sayangnya pemerintah memberi ruang dan angin kepada orang-orang seperti itu. Sayangnya lagi, ternyata ada orang yang menurutku berpendidikan (setidaknya dia dosen sih) yang setuju sama tindakan ormas tersebut. Dengan kata lain, ada saja orang yang menyetujui kekerasan berkedok agama. Cuma bisa mengelus dada deh kalau begitu.

Oke, balik ke soal protes buku itu. Hari ini kubaca buku-buku itu akhirnya dibakar. Haiyaa … kecewa berat deh sama keputusan penerbit tersebut untuk membakar buku itu. Walaupun aku bisa mengerti juga apa kira-kira “ketakutan” penerbit itu sih. Mereka mengayomi banyak karyawan. Kalau toko mereka dibakar, berapa banyak orang yang kehilangan nafkah? Tapi di satu sisi, aku juga bertanya-tanya sampai kapan kita (kita? elu aja kali) akan tunduk pada ketakutan dan tuntutan orang gila? Sebetulnya pembakaran buku itu dapat dihindari kok. Aku yakin pihak penerbit dan editor tahu bagaimana caranya. Editor itu penjaga gawang atau penyaring. Kurasa kata-kata yang bisa membuat ormas tersebut murka, dipotong. (Yang aku heran, kenapa setiap ormas itu marah dan tersinggung, merepotkan banyak orang ya? Negara apa sih yang menurut begitu saja pada suatu ormas?) Itu cara paling mudah. Tapi kan sudah kebacut … nasi sudah menjadi bubur. Dan sebetulnya aku juga agak kurang sreg jika ada kata yang dipotong-potong begitu. (Bukan berarti sebuah buku tidak harus diedit, ya.) Ini bisa membuat buku kurang nendang. Menurutku sih.

Nah, di sinilah kupikir salah satu pentingnya menguasai bahasa Inggris. Dengan menguasai bahasa Inggris, kamu tidak perlu risau dengan tuntutan gila ormas keagamaan itu jika kamu saking penasarannya ingin membaca buku tersebut. Cari saja (kalau tidak punya uang, boleh pinjam, boleh unduh di internet) buku aslinya dalam bahasa Inggris, dan nikmatilah sepuasnya! Plus, kamu juga bisa membaca buanyaaak buku yang jauh lebih keren dan lebih nendang daripada buku-buku yang diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Mau cari buku apa saja ada. Tak hanya buku sebetulnya, majalah atau koran berbahasa Inggris tulisannya jauh lebih berisi. Efeknya, otakmu akan lebih berisi, wawasanmu lebih luas. Tertarik?

Ah, memang ini kedengarannya muluk-muluk dan terkesan kurang membumi, ya? Tapi dari pengalamanku sendiri, bisa membaca buku berbahasa Inggris yang tidak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia itu mengasyikkan. Dan aku merasa betapa jauh tertinggalnya pemikiran buku-buku yang ada di sini (baca: buku-buku berbahasa Indonesia). Mungkin kalau banyak buku diterjemahkan (apa adanya) dalam bahasa Indonesia, banyak orang akan terkaget-kaget :D. Dan … ormas tiga huruf itu akan lebih heboh lagi marah-marahnya. Memang susah sih ngajak orang berpikiran maju. Masih banyak orang yang lebih suka berkubang dalam ketidaktahuan.