Status Facebook

Beberapa waktu lalu, aku “bertemu” seorang kawan lama di Facebook. Bukan kawan dekat sih, tapi dulu zaman kuliah kami ngobrol-ngobrol ngalor ngidul. Waktu aku sudah bekerja dan dia sedang cari-cari kontrakan, aku sempat ikut mencarikan (walaupun akhirnya dia tidak mengontrak di rumah yang aku infokan itu). Dulu aku pernah berkunjung ke kontrakannya dan mengobrol soal buku. So far so good lah hubungan kami. Jadi, ketika aku tahu akun FB-nya, ya aku add saja.

Sayangnya, baru beberapa hari kami “berteman” di FB aku sudah merasa terganggu dengan postingan status-statusnya yang njelehi, menyebalkan, dan … memuakkan. Aku sampai terheran-heran, kenapa temanku ini jadi seperti ini? Kenapa dia jadi memuakkan begini? Rasanya aku hampir tak percaya. Agak menyesal juga rasanya menambahkan dia ke dalam daftar temanku di FB. Aku terpikir untuk me-remove saja dia. Tapi, kok aku agak nggak enak sendiri ya. Wong baru add, kok langsung di-remove. Lagi pula sebetulnya aku bisa dibilang tidak berseteru panjang lebar di FB. Pernah sih aku komentar yang nadanya berseberangan dengan dia. Tapi sudahlah, aku akhirnya berpikir: sing waras ngalah (yang masih waras, lebih baik mengalah). Dan aku malas berselisih di dunia maya. Kayak nggak ada masalah yang lebih penting saja. Pengin rasanya aku melenyapkan dia dari dunia maya bernama FB itu. Untung ada Mbak Imelda, jadi aku bisa tanya bagaimana meng-hide status teman di FB. Maklum aku gaptek, jadi untuk urusan begini saja sampai minta nasihat ke Jepang. Hehehe. Nah sekarang selesai urusan … mmm, setidaknya sampai saat ini. Kalau akhirnya dia betul-betul mengganggu, mungkin betul-betul akan kuremove.

Status FB temanku yang menyebalkan itu bukan satu-satunya kasus. Ada juga teman lain yang kalau bikin status kata-katanya alay banget. Ini juga menyebalkan menurutku. Untuk si alay ini aku sudah mau remove dia. Tapi salah seorang temanku kemudian menceritakan masa lalu si alay yang kelam. Kupikir karena itulah status dan kalimat-kalimatnya jadi aneh bin ajaib begitu. Wah, aku jadi jatuh kasihan. Akhirnya aku tunda dulu niatku untuk me-remove dia. Sementara ini cukup aku hide dulu. Kalau dia sampai betul-betul menyebalkan, mungkin mau tidak mau akan kusingkirkan.

Lain lagi masalahnya dengan seorang temanku si X. Tiba-tiba belakangan ini dia suka posting bernada galau. Jelas saja beberapa teman menanyakan apa alasannya. Di dinding FBnya sih dia tidak menjelaskan kenapa dia bisa segalau itu. Dia cuma curhat tak jelas dan intinya ada masalah besar. Bikin penasaran teman-teman yang lain.

Kalau aku bertanya-tanya, apa sih sebaiknya yang perlu kita bagikan di FB? Ada orang yang mengatakan: “Suka-suka aku dong, ini kan akun pribadiku. Mau marah kek, mau misuh kek, mau menjelekkan orang lain kek, ya terserah saja.” Hmmm, begitu ya? Kalau melihat dari tiga kasus teman FB-ku itu, aku kadang suka risi lo kalau baca status orang. Apalagi yang isinya kasar (isi maupun bahasanya), menjelek-jelekkan pihak lain (dan merasa paling benar). Kadang aku juga sebal kalau ada teman yang statusnya mengeluh terus. Kadang aku suka niteni (apa ya bahasa Indonesianya?) status beberapa teman. Misalnya kalau si A, statusnya pasti berkisar soal anaknya; kalau si B, biasanya pada hari Sabtu dia akan ngomel-ngomel karena ditinggal suaminya bekerja terus; kalau si C dia akan mendewa-dewakan partai PK*; kalau si D, biasanya dia akan posting soal agama. Rasanya aku seperti bisa menebak isi kepala orang. Hihihi. (Nggak segitunya kali, ya.)

Kalau aku boleh memilih, sebetulnya aku lebih suka status yang adem, menenteramkan, atau yang lucu-lucu. Ya, FB itu barangkali cerminan situasi hidup ya? Kadang ada yang menyenangkan, ada yang tidak. Tapi mungkin suatu saat aku perlu melenyapkan beberapa kawan di FB, supaya hidup ini tidak jadi menyebalkan hanya karena hal-hal yang tidak penting.

Ngomong-ngomong, apakah kamu juga punya teman yang menyebalkan di Facebook?

Advertisements