Ujian Tujuh Tahun

Bulan lalu, ketika aku ulang tahun, salah satu yang mengucapkan selamat adalah seorang teman lama. Teman SD-SMP. Aku agak surprised waktu menerima ucapan darinya. Sebenarnya ucapannya biasa saja, tapi tahu bahwa dia masih ingat diriku dan ingat tanggal ulang tahunku, itu surprising. Aku sendiri, masih selalu ingat tanggal ulang tahunnya–semata-mata karena kami ulang tahun di bulan yang sama. Hanya selisih kira-kira satu minggu. Tapi memang sih di antara banyak teman sekolah dulu, hanya satu-dua orang yang masih berkontak denganku, salah satunya ya dia itu. Walaupun tidak sering kontaknya, paling tidak pas aku pulang, aku sesekali masih main ke rumahnya.

Pernah, suatu kali aku ditanya suamiku, “Kalau bisa balik ke masa lalu, kamu mau balik ke masa kapan?” Aku segera menjawab: “Masa SMP.” Bagiku, masa SMP itu asyik banget. Aku mendapat teman-teman yang menyenangkan. Guru-gurunya juga asyik. Mungkin kalau anak sekarang bilang: Guru-gurunya gaul. Salah satu ulang tahun terbaik yang pernah kualami adalah masa SMP—dirayakan pas malam satu suro, kalau nggak salah, trus waktu itu entah gimana ada beberapa teman melekan di sekolah. Hadiah yang kuterima waktu itu adalah sisir yang guedeee banget!. Haha. Aku masih ingat sampai sekarang.

Soal pertemanan, belakangan aku merasa sepertinya aku lebih banyak berteman lewat dunia maya–lewat FB dan belakangan WhatsApp (WA). Kalau di FB, teman-teman di ada di daftarku rata-rata teman sekolah dulu, teman blog, sesama penerjemah, beberapa teman penulis, teman asrama, teman eks kantor. Kalau di WA, aku ikut—lebih tepatnya diikutkan—beberapa grup. Tapi hanya dua yang biasanya aku cukup aktif nimbrung: grup teman kuliah di Sastra Inggris dulu dan grup Litara Sista—teman dari grup Litara yang pernah ikut workshop awal tahun lalu.

Di dua grup WA itu, aku merasa “punya teman.” Ng… maksudnya gini, karena aku lebih sering bekerja sendiri di rumah, tanpa rekan kerja, teman-teman di grup itu jadi semacam teman yang ada di seberang meja yang meramaikan ruang kerjaku. Di grup teman kuliah, bahasannya ngalor ngidul dan teman-teman cukup ramai sahut-sahutan. Akibatnya bagi yang tidak suka keriuhan biasanya meninggalkan grup tersebut. Kalau di grup Litara Sista, yang dibahas macam-macam. Mulai soal tips dan trik nulis sampai soal kontrakan rumah. Beneran kaya punya saudara-saudara perempuan kalau di grup ini. 😀

Dan pagi ini aku menemukan (lagi) kutipan ini: If a friendship lasts longer than 7 years, psychologists say it will last a lifetime. Jika persahabatan berjalan lebih dari 7 tahun, para psikolog mengatakan persahabatan itu akan langgeng seumur hidup. Seketika aku teringat teman-teman lamaku, juga teman-teman di grup WA tersebut. Aku tidak tahu sampai berapa lama teman-teman yang ada di grup WA itu akan bertahan. Lagi pula, WA sendiri bakal bertahan sampai berapa lama? 😀 😀 Tapi mengingat beberapa teman lamaku yang masih berkontak sampai sekarang, rasanya jelas sudah tujuh tahun berlalu kami berteman. Kalau bisa sih, saat usiaku semakin bertambah nanti, aku pengin punya teman-teman lama yang tetap saling mendukung, saling mengingat, saling menyayangi.

Advertisements

Kenapa Ngeblog?

Belakangan ini pertanyaan itu sering muncul di kepalaku. Kenapa sih aku ngeblog?

Pertanyaan ini mengingatkanku pada masa-masa ketika aku belum punya blog dan baru senang blogwalking. Membaca blog-blog yang bertebaran di dunia maya itu menghiburku. Seperti mendengar cerita dari seorang teman. Padahal ya belum tentu aku kenal para pemilik blog itu. Sebagian besar malah aku tidak kenal. Lalu aku berpikir, kayaknya asyik juga ya punya blog, bisa menulis apa saja yang ada di kepalaku dan menuangkan apa yang selama ini cuma jadi ganjalan dan tertimbun di sudut-sudut hati. Lagi pula aku bukan orang yang pandai bicara untuk mengungkapkan isi kepala dan hati. Kalau pun aku bicara, belum tentu ada yang mau mendengarkan. Siapa yang betah dicurhati terlalu lama? Siapa yang mau mendengarkan ocehan tidak berguna? Dan lagi, dengan punya blog aku bisa belajar menulis. Kalau untuk nggambleh–bicara ngalor-ngidul–saja aku tidak jago, masak aku tidak bisa menuangkan pikiranku lewat tulisan? Lha apa gunanya pelajaran mengarang selama sekolah dulu dong? Hi hi.

Aku menulis pertama-tama untuk diriku sendiri; supaya isi kepalaku tidak terlalu penuh. Dan rasa-rasanya cara itu berhasil. Selama ini aku hanya sibuk berbicara dengan diriku sendiri;  dan pikiran itu akan muncul terus sebelum aku tuliskan. Ibarat perut yang jika isinya tidak dibuang secara teratur bisa membuat mules, pikiran yang terlalu penuh kurasa hanya akan membuat stres. Jadi, blog adalah salah satu sarana supaya aku tidak perlu membayar psikolog.

Selama blogwalking, aku senang ketika menemukan teman-teman yang tulisannya asyik. Asyik buatku belum tentu asyik buat orang lain. Aku senang jika menemukan tulisan-tulisan yang mengemukakan ide-ide unik, nyeleneh, atau sekadar cerita keseharian. Senang juga jika aku menemukan informasi atau bahan pembelajaran. Kalau buatku, bahan pembelajaran yang kumaksud lebih berkaitan dengan pekerjaanku. Beberapa penerjemah membuat blog dan membagikan tips penerjemahan atau meluweskan kalimat. Dalam hal ini memiliki blog bisa menjadi salah satu sarana untuk berbagi.

Saat blogwalking, aku menemukan beberapa macam blog. Ada yang isinya iklan, ada yang jualan, ada yang memenuhinya dengan resep makanan atau tips, resensi buku. Ada blog yang isinya curhat menye-menye, kata-kata penuh motivasi, cerita tentang keluarga atau pekerjaannya. Macam-macam. Aku sendiri lebih suka membaca blog yang tidak berisi iklan (entah yang terselubung maupun tidak). Biasanya kalau di blog tersebut mulai banyak iklannya, aku jarang menengoknya lagi. Mungkin karena blog sendiri isinya tulisan biasa, ya. Jadi, lebih karena merasa “tidak nyambung” atau bukan termasuk seleraku. Dan kupikir itu pilihan masing-masing pemilik blog. Blog itu ibarat tanah kosong, terserah mau didirikan apa di situ. Mau dibuat toko, sekolah, rumah, gedung serbaguna. Terserah. Blog-blog yang kukunjungi itu juga macam-macam jika ditilik dari pengunjungnya. Ada yang tampaknya sepi pengunjung, padahal tulisan dan tampilannya bagus. Tidak sedikit yang seperti itu. Mungkin pemilik blog itu jarang blogwalking (kaya aku hi hi 😀 :D). Ada pula yang tulisan atau isinya biasa saja tapi tampaknya ramai sekali–banyak komentarnya dan kadang-kadang ada tanggapan dari pemilik blog.

Aku sendiri tidak terlalu ambil pusing soal komentar. Wong niatku ngeblog itu utamanya untuk menghibur diri, ngudar rasa, dan latihan nulis, jadi komentar teman lain itu kuanggap bonus. Yang namanya bonus, pasti diterima dengan senang hati kan? Tapi kalau sepi komentar, ya tidak apa-apa. Setidaknya tujuanku yang pertama untuk ngeblog sudah terpenuhi. Wong aku juga kalau blogwalking tidak selalu meninggalkan komentar kok menuntut orang lain berkomentar. 😀 Tapi satu hal yang perlu aku sampaikan: aku senang dengan pertemanan yang terjalin lewat blog. 🙂

Kamu sendiri, kenapa ngeblog?

Kopdar … Kopdar …

Relasiku dengan internet belakangan ini kurang begitu mulus. Beberapa kali tersendat. Bahkan ngadat. Macet. Yang terakhir adalah karena laptop di rumah yang khusus untuk internet mendadak ngambeg. Jadi, meskipun ada modem yang bisa dipakai, aku tetap tidak mau memakai PC untuk konek internet. Dulu aku sempat memakai PC untuk konek internet, dan entah kenapa rasanya PC-ku ini kurang cocok dengan internet. Suka ngambeg juga. Nah, kalau sudah ngambeg, aku yang repot. Semua data dan pekerjaan ada di situ. Kalau mesti diperbaiki selama beberapa saat, merepotkan banget. Jadi, ya sudah lah. Puasa pakai internet dulu untuk beberapa waktu.

Di masa puasa internetan itu, aku sempat berpikir, Mbak Imelda sudah sampai Jakarta apa belum ya? Apakah ada acara kopdar? Belum sempat aku ke warnet untuk tersambung dengan dunia maya, aku mendapat SMS dari Bu Enny yang mengabarkan bahwa Mbak Imelda akan mengadakan kopdar hari Jumat tgl 29 Juli 2011. Untung juga dulu sempat bertukar no hp dengan Bu Enny, jadi aku dapat info tentang dunia maya walaupun koneksi dengan internet sedang kurang bersahabat denganku.

Setelah mendapat SMS dari Bu Enny, aku mengontak Riris, menanyakan apakah dia datang di acara kopdar itu. Dia bilang dia akan datang, tapi hari Sabtu. Loh? Ada dua acara kopdar? Aduh, benar-benar jadi tulalit kalau tidak bisa konek internet nih. Tapi aku memutuskan untuk datang hari Jumat karena sudah janji dengan Bu Enny. Dari dulu janjian mau kopdar dengan Bu Enny tak pernah sukses. Kali ini mesti sukses dong. Cuma pengen tahu, rumah Bu Enny di Madiun di mana sih? Halah, nggak penting deh ya! Hehe. Aku juga belum pernah ketemu Riris, kalau dia datang Jumat itu, kan sekalian kopdarnya. Tapi rupanya dengan Riris masih belum berjodoh.

Oke, jadilah aku siap-siap berangkat hari Jumat pagi. Kira-kira pukul 10.15 aku berangkat dari rumah. Hmm… rasanya aku kurang pagi berangkatnya. Tapi sudahlah, nanti semoga lancar dapat kendaraan. Lagi pula ini sudah memasuki jam kerja, jadi kemacetan sudah berkurang. Aku memilih naik TransJakarta setelah jalan kaki plus nyambung naik mikrolet sebentar. Sebenarnya bisa saja aku naik bus patas 16 dari terminal Rawamangun, tetapi aku tidak tahu jam berangkatnya. Kalau busnya ngetem lama? Bisa terlambat kuadrat dong! Tak lama kemudian aku sudah dapat TransJakarta dan perjalanan cukup lancar sampai Dukuh Atas. Tapi waktu mau pindah halte, rupanya ada bus yang mogok sehingga antrian jadi panjaaaang sekali. Duh, bisa capek duluan sebelum sampai lokasi nih! Akhirnya aku memutuskan keluar halte dan naik taksi BB. Biar sekalian turun di depan pintu Pacific Place, tak perlu jalan kaki. Hehe. Mulai kumat males jalan kaki nih … siang yang menyengat memang bikin malas jalan kaki.

Sesudah masuk Pacific Place, aku celingak-celinguk. Wih, mall-nya gede amat yak? Norakku mulai keluar deh. Mana Urban Kitchen-nya? Daripada nyasar dan muter-muter nggak karuan, aku tanya kepada sang petugas. Ternyata Urban Kitchen ini ada di lantai 5. Sesampainya di lantai 5, aku celingak-celinguk lagi. Mana ya si dapur kota ini? Akhirnya aku menemukannya. Aku diberi kartu warna hijau oleh petugas dan masuk ke dalam. Wah, ternyata cukup besar juga tempatnya. Mana Mbak Imelda? Sepintas sempat kulihat orang yang sedang kumpul-kumpul, “Ah, itu dia.” Tapi waktu kudekati, “Loh, kok bukan?” Waduh… Piye iki? Tapi untunglah waktu aku celingak-celinguk lagi, kulihat Mbak Imelda melambaikan tangan ke arahku. Lega deh! Dan waktu itu sudah ada Bu Enny dan Mbak Indah Juli. Kali ini aku benar-benar lega karena aku pikir aku sudah sangat terlambat. Dan mereka pun belum sempat pesan makanan. Jadi, kami adalah kloter yang datang pertama.

Kloter pertama (foto oleh Mbak Imelda)

Meja yang kami tempati terletak di dekat kaca yang menghadap keluar. Jadi terang benderang. Di awal Mbak Imelda sudah bilang, “Aku pilih di smoking area ini karena terang. Kalau yang nonsmoking agak gelap.” Okelah kalau begitu. Untung aku sudah nggak sesak napas lagi dan orang-orang yang kopdar juga tak ada yang merokok. Thank, God! 🙂 Di awal memang bau rokok tidak terlalu mengganggu, tetapi begitu siang … hmmm … kalau dirasa-rasa yaaaa gitu deh. Hehe.

Pemandangan latar belakang dari balik jendela

Yang diobrolin apa sih waktu kopdar kemarin? Macam-macam. Kalau Bu Enny, seputar pekerjaan dan keluarga, juga tentang asisten rumah tangganya yang awet. Mbak Indah Juli juga begitu. Dan ternyata, Mbak Indah ini kakak ipar dengan teman sekantorku dulu waktu di Jogja. Ampuuun, dunia sempit betul! Jadi aku lumayan tahu kalau Mbak Indah cerita tentang keluarga yang dikunjungi di Jogja. Tak lama kemudian, bermunculan para blogger lain, yaitu Pak Iksa, Isnuansa, Putri Usagi. Ketiganya ini belum pernah aku jumpai dan blog mereka pun belum kunjungi . Hanya Isnuansa yang pernah aku kunjungi blognya (walaupun jarang hehehe).

Obrolan terus berlanjut. Kemudian muncul Clara, Reza (kalau tidak salah teman sekantor Clara, tapi tidak punya blog.) Kalau Clara dulu sudah pernah ketemu waktu tahun lalu Mbak Imelda mudik. Beberapa kali dia mampir ke blogku. Tapi belakangan aku agak jarang ke blognya Clara karena agak susah kalau mau komentar. (Pindah blog aja Clara, hihihi… kompoooor!!).

Tak lama kemudian datanglah Mbak Devi Yudhistira, Mas Necky, kemudian Mbak Monda. Dari ketiga blogger ini hanya Mbak Monda yang blognya cukup sering aku ikuti. Tapi acara ngobrol dengan yang lainnya pun tetap jalan dan masih nyambung. Tak lama kemudian, muncul Mas Nugroho. Wah, blognya Mas Nug ini juga tak pernah aku lihat. Cuma belakangan di FB sempat kulihat di wall Mbak Imelda ada info bahwa FB Mas Nug dihack orang. “Oh, ini to orangnya,” pikirku. Bu Enny sebelumnya sempat cerita bahwa istri Mas Nug banyak membantu waktu adik Bu Enny dioperasi di RS Harapan Kita.

Kai nangis beneran deh... Jangan lama-lama nangisnya ya Kai 🙂

Di sela-sela kami mengobrol Mbak Imelda mesti sibuk mengurus dua krucilnya. Sebenarnya pengen bisa ngobrol juga dengan Riku dan Kai, tetapi tak bisa bahasa Jepang sih. Pakai telepati saja bisa nggak ya? Haha. Kalau Riku sedikit-sedikit bisa ngomong pakai bahasa Indonesia, tetapi kalau Kai sepertinya masih belum bisa deh. (Tolong dikoreksi kalau aku salah, ya Mbak EM.) Riku pengen main di Kidzania, dan Kai sempat gerung-gerung di depan kaca jendela sampai kami kira dia nangis. Ternyata dia main sendiri haha.

Hmm, kenapa ya ngobrol dengan blogger cukup mudah nyambungnya? Karena sudah kenal dengan blognya? Akrab dengan tulisannya? Mungkin ya. Lagi pula yang ditulis di blog kan hal sehari-hari kita alami, tak jauh-jauh dengan keseharian kita. Atau yang kita tulis itu adalah hal-hal yang kita pikirkan. Biasanya kita membaca blog yang kita cocoki bukan, yang sesuai dengan minat kita, atau meskipun tidak nyambung dengan keseharian kita, masih bisa kita nikmati. Mungkin karena itulah kita bisa ngobrol dengan enak.

Ayo foto bareng! (foto oleh Mbak Imelda)

Agak sorean, datang Mbak Yoga. Aku lumayan suka dengan tulisan-tulisan di blog Mbak Yoga. Bu Enny yang sepertinya sudah cukup sering berkontak dengan Mbak Yoga. Mbak Imelda juga sebelumnya sudah pernah bertemu dengannya, jadi obrolan pun tetap nyambung.

Para blogger ini datang dan pergi. Akhirnya di sore hari, ketika beberapa blogger sudah pulang, ada kabar kalau Mbak Ira sang Itik Kecil akan datang. Wah, jauh-jauh dari Palembang lo! Penasaran juga seperti apa sih sang itik kecil ini. Tapi tidak kecil-kecil amat kok. Mbak Ira agak pendiam. Hehe, apa karena masih jetlag ya? 🙂

Mbak Ira tidak terlalu lama bergabung dengan kami. Akhirnya hanya tinggal aku, Bu Enny, Pak Iksa, Witcha, dan tentu saja Mbak Imelda sang host. Riku dan Kai sudah kembali setelah asyik bermain di Kidzania. Riku kemudian pengen sate. Wah, mana ada sate di Urban Kitchen? Tetapi akhirnya Riku setelah putar-putar ke gerai makanan ditemani Witcha, ia memilih piza. Dari sekian banyak blogger ini, hanya Witha yang bisa mengobrol dengan bahasa Jepang dengan Riku dan Kai.

Hari semakin gelap. Adik Mbak Imelda datang. Wah, iya, aku lupa memotretnya. Kemudian aku akhirnya pamit. Bu Enny pun pamit. Aku nebeng sampai jalan Sudirman dengan taksi yang dinaiki Bu Enny.

Aku melanjutkan perjalanan dengan kendaraan. Aku pulang dengan hati senang; bertemu teman-teman maya yang akhirnya jadi teman nyata. Teman-teman maya yang lama maupun yang baru. Hari itu akan selalu ingat. Terima kasih semuanya sudah menambah warna di hari itu 🙂

Evolusi HP (Sampai Facebook)

(Haiyaaa … judulnya serius sekali ya? :p)

Kapan pertama kali kamu memiliki HP sendiri? Maksudku, HP yang kamu beli dengan uang hasil keringatmu sendiri, bukan HP pemberian, bukan pula HP colongan :p

Kalau tidak salah ingat, aku membeli HP pertama kali dengan uangku sendiri sekitar awal tahun 2000-an. Entah tahun 2001 atau 2002–aku tak ingat. Aku memilih merek S****ns–semata-mata karena kakakku memakai HP dengan merek tersebut. Saat itu HP masih barang mahal. Belum terlalu banyak orang yang memiliki HP. Tidak seperti sekarang; HP (dan kartu perdana) begitu murahnya, sehingga rasanya setiap orang mampu membeli HP.

Saat itu, rasa-rasanya aktivitas yang paling banyak dilakukan orang dengan HP-nya adalah mengirim SMS. Telepon masih mahal. Setidaknya, jika hendak menelepon, orang lebih memilih menelepon ke telepon rumah atau telepon kantor yang fixed dibandingkan menelepon ke HP seseorang. Wartel juga rasanya masih cukup banyak dan lumayan laku. Permainan di dalam HP pun juga tidak bervariatif seperti sekarang. Jadi, rasa-rasanya relasi orang dengan HP masih berjarak. Setidaknya, orang tidak terlalu sering menggenggam HP-nya. Saat itu HP dilirik saat ia berdering atau kita “kebelet” mengirim SMS atau hendak menelepon. Orang pun tidak terlalu sering memasukkan kata HP atau istilah yang berkaitan dengannya dalam pembicaraan sehari-hari dengan kawan atau kerabatnya.

Sepuluh tahun berlalu. Mari kita bandingkan. Saat di kendaraan umum, berapa banyak orang yang mengeluarkan HP-nya? Ada berapa banyak orang yang sibuk memencet-mencet tombol di HP-nya untuk: SMS, membuka Facebook, mendengarkan lagu/radio? Tadi, saat aku berjalan menyusuri tiga ruas gang di sekitar rumah, di setiap gang aku selalu menemukan orang sedang sibuk dengan HP-nya. Entah mereka sedang sendirian atau bergerombol. Sekilas kudengar, mereka bicara soal HP, status Facebook, pesan singkat yang diterima/dikirim.

Di mal-mal, tak jarang kulihat orang sedang duduk, membuka laptop, dan yak betul, Facebook-lah yang sedang mereka buka. Kalau mau iseng, coba hitung berapa kali dalam sehari kamu memakai kata Facebook saat bercakap-cakap dengan teman, pasangan, atau kerabat? Atau, jika bukan kata Facebook, berapa kali kamu memasukkan kata SMS/pesan pendek saat berbincang, berpikir, atau melamun?

Dua hari yang lalu, aku mengobrol dengan seorang teman. Dia bercerita bahwa akhir-akhir ini dia jarang membuat status Facebook. “Kenapa?” tanyaku. “Banyak hati yang harus dijaga. Beberapa waktu lalu, ada yang protes padaku karena tersinggung dengan status Facebook yang kubuat.” Apakah kamu juga pernah mengalami hal serupa? Atau kamu malah menjadi pihak yang tersinggung? Atau kamu diam-diam sebal dengan status Facebook temanmu? Karena statusnya yang lebay, terlalu puitis tak karuan, atau mungkin terganggu karena temanmu melemparkan kesebalannya ke ruang publik dengan cara yang kurang pas di FB? Kurasa kejadian semacam itu sudah wajar. Setidaknya sudah tiga orang temanku yang menceritakan hal semacam itu. Ada yang kesal karena setiap statusnya selalu dikomentari dengan pedas oleh temannya.

Aku sendiri sebenarnya juga sempat mengalami hal serupa. Ada yang protes karena aku (dan beberapa teman) memberikan komentar di postingan salah satu temanku. Katanya sih, komentarku kurang pantas. Hehehe, memang kadang jari ini bisa tak terkontrol saat di depan komputer. Aku minta maaf, dan kuhapus komentarku di sana. Dan … aku kini tak pernah “menyentuh” status temanku itu sama sekali. Hahahaha! Aku pernah juga merasa sebal dengan status FB temanku. Tapi sekarang aku tak terlalu peduli dengan hampir semua status FB teman-temanku. Hanya orang-orang tertentu saja yang sering aku baca statusnya dengan cukup cermat. Jika dulu aku sebal dengan status si X misalnya, sekarang aku lewatkan saja. Toh biasanya status-status itu tak berhubungan langsung denganku. Anggaplah aku bosan dengan statusnya yang maha lebay dan terkesan mencari perhatian, lalu aku berpikir, itu haknya mengungkapkan hal seperti itu. Setiap orang berhak berpikir, memiliki perasaan tertentu, dan mengungkapkannya bukan? Aku memang kurang suka, tetapi aku tidak berhak melarang mereka berkata ini dan itu. Bagiku, kalau tidak mau terganggu, ya tidak usah dibaca atau lewati saja. Beres, kan?

Mau Nulis Seperti Apa di Blog?

Sebenarnya aku cuma ingin bercerita tentang kejadian sekitar 1 tahun lalu. Waktu itu aku sedang jalan-jalan di Bandung. Singkat, kata … aku dan suamiku pengen mampir ke sebuah toko buku. Seingatku waktu itu toko buku yang hendak kami datangi itu sedang ada promosi atau apaaa gitu. Lupa deh. Aku cuma baca sekilas informasi itu di milis.

Kupikir orang seantero Bandung tahu tentang toko buku itu. Jadi, sebelum berangkat ke Bandung aku tidak mencatat apa pun tentang alamat atau ancer-ancer lokasi toko buku itu. Nanti gampang lah tanya temen yang kujumpai di Bandung.

Sesimpel itukah? Ternyata tidak, Sodara-sodara!

Waktu itu, sebelum berangkat aku cuma tanya ke seorang teman, “Eh, kamu tahu toko X?” Temanku menggeleng. Yak, jawaban yang singkat dan tepat! Seratus. Oke, nggak apa-apa. Nanti sambil jalan saja tanya orang lagi. Waktu itu aku cuma ingat nama daerahnya. Jadi, aku cuma naik angkot ke daerah itu dan berpikir akan menemukannya dengan mudah. Tapi ternyata tidak ada yang tahu!

Huuu… Gimana nih? So, mesti tanya ke siapa lagi?

Tak lama kemudian, aku melihat ada sebuah warnet. Daripada pusing-pusing, aku masuk ke warnet itu dan bertanya ke mbah Google. Yuhuuu… dalam hitungan detik, aku mendapatkan informasi yang aku butuhkan. Untuk informasi itu, aku cukup membayar 1.000 rupiah. (Tarif minimal warnet segitu kan?) Seingatku, waktu itu aku mendapat informasi itu dari sebuah blog.

Pengalamanku itu masih sangat membekas. Dan ini berkaitan dengan pemikiranku mengenai banyaknya informasi di dunia maya. Tapi kadang saking banyaknya, informasi yang ada justru membuat kita tersesat. Tersesat? Iya, karena kadang informasi yang ada justru hanya sebuah pancingan supaya kita masuk ke situs tertentu yang isinya cuma–sorry–jualan yang nggak jelas. (Jualan di internet sah-sah saja kok. Tapi kalau yang dijual tidak jelas, itu yang bikin males.)

Nah, aku pikir … menulis hal yang berguna di blog, yang berisi informasi penting dengan bahasa yang enak, bisa jadi salah satu pilihan jenis tulisan yang akan diposting di blog. Boleh-boleh saja menulis yg isinya curhat. Tapi kalau bisa sih, curhat yang membangun, yang bisa ditarik manfaatnya oleh orang lain. Apalagi kalau tulisannya enak dimengerti, dengan font yang ramah di mata. Soalnya kadang aku mendapati blog yang amburadul–ya bahasanya, tampilannya, atau isinya. Hiks, dengan sangat terpaksa, aku akan skip blog itu. Baca aja males apalagi mau komentar.

Well, aku mau blogwalking lagi ah…

Obat Pengusir Bosan dan Suntuk

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman mengajakku chatting. Yah, sebagai teman lama, aku berusaha meladeninya dengan baik. Rupanya dia sedang bosan di tempat kerja. Bosan. Suntuk. Harap diketahui, temanku yang satu itu memiliki sebuah toko dan ia harus menjaga tokonya sepanjang hari. Eh, mungkin tidak sepanjang hari ding. Kalau tidak salah cuma dari pagi sampai sore. Dan begitu terus rutinitasnya setiap hari.

Aku bisa membayangkan bosannya menunggu toko. Sendirian di toko. Apalagi kalau tokonya sedang tidak ramai alias sepi pembeli. Wah, bisa mengantuk. Dan yang jelas, tidak bisa tidur seenaknya dong. Barang jualan atau uang yang ada di toko bisa disamber orang nanti. Kan reffoott….

Dia lalu bertanya kepadaku apa sih obat pengusir suntuk dan bosan?

Pertanyaannya itu membuatku teringat pada dua hal. Oke, kita bahas yang pertama dulu ya. Yang pertama adalah pada kebosanan yang kadang-kadang juga kualami. Aku tak tahu apakah aku termasuk makhluk pembosan atau tidak. Tetapi aku terkadang menganggap diriku pembosan. Kalau berada dalam situasi yang begitu-begitu saja, aku jadi bosan. Apalagi kalau terlibat dalam suasana di mana aku jadi “penonton” saja dan tidak bisa ikut berinteraksi di dalamnya. Misalnya nih, berada dalam obrolan bersama teman dan aku tidak tahu apa yang mereka obrolkan. Yah, kan males banget to? Atau berada di suatu tempat dan mengerjakan hal yang itu-itu terus … lama-lama bosan juga. Misalnya, berada di rumah terus selama lebih dari tiga hari dan aku cuma di depan komputer terus, lama-lama bosan juga.

Lalu, apa yang biasanya kulakukan? Dulu kalau di Jogja, aku biasanya akan menggelandang motorku ke halaman, dan weeerrr … aku lalu pergi ke mana hati ingin pergi. Kadang ke toko buku, kadang iseng ke kos teman, kadang saat di jalan ingat ada barang yang perlu kubeli, ya mampirlah aku ke toko. Dan biasanya baru beberapa ratus meter saja, rasa bosanku sudah hilang. Sudah segar lagi. Jadi, begini jawabanku kepada temanku tempo hari, “Jalan-jalan aja. Ganti suasana.” Nah, sekarang kalau di Jakarta, berhubung tidak punya motor, aku biasanya mengusir rasa bosanku adalah dengan belanja ke pasar. Hi hi. Emak-emak banget ya! Di pasar, walaupun terkadang becek dan kumuh, aku bisa merasakan semangat para penjual yang sepertinya tidak pernah lelah menawarkan barang dagangannya. Asyik juga lo! Karena itu biasanya aku tidak belanja banyak. Jadi, dalam dua atau tiga hari, aku harus ke pasar lagi untuk membeli bahan makanan untuk dimasak.

Kedua, selain mengingatkanku pada kebosanan dan rasa suntuk yang kadang juga aku alami, pertanyaan temanku tadi mengingatkanku pada kata-kata Mas Yanuar Nugroho saat dia memberi seminar di Driyarkara hari Selasa lalu (10/11/09). Dia mengatakan kira-kira begini, “Jangan terlalu GR kalau menerima SMS sapaan dari seorang teman. Bisa jadi, dia tidak benar-benar ingin menyapa kita. Mungkin dia sedang bosan nunggu bus yang tidak lewat, dan daripada tidak ada kerjaan, mending kirim SMS ke kita. Jadi SMS yang dia kirimkan itu sebenarnya ‘untuk dirinya sendiri’.” Pernyataannya itu membuatku geli. Kadang aku juga begitu soalnya :))

Dengan menjamurnya telepon genggam itu, salah satu hal yang biasa kuamati di tempat umum adalah orang yang sibuk dengan HP-nya. Tidak selalu bertelepon, cuma utak-utik HP. Biasanya sih kalau tidak ber-SMS ya main game. Orang-orang itu jarang sekali ada yang mengajak ngobrol orang yang di dekatnya. Mungkin dengan adanya alat elektronik yang bisa menghubungkan kita dengan dunia maya dan teman atau saudara kita yang berada nun jauh di sana, kita tidak terbiasa untuk saling menyapa dengan orang yang secara fisik berada di dekat kita. Itu perkiraanku loh. Salah satu alasannya barangkali adalah karena kita sering diwanti-wanti untuk tidak berakrab-akrab dengan orang asing, karena bisa jadi orang asing itu akan menyakiti kita. Jadi, cari amannya saja 😉

Kalau boleh tahu, apa sih yang biasanya kamu lakukan untuk mengusir kebosanan? Mengutak-utik HP? Jalan-jalan? Atau apa?