Malaikat Pamomong dan Sowan “Ibuk”

Ketika masih kecil dulu, aku belum punya jam beker. Aku baru punya jam beker itu ketika SMP. Pemberian. Sepertinya bukan kado ulang tahun atau peristiwa penting. Tapi aku lupa. Yang jelas, jam beker itu masih kupakai sampai sekarang. Pernah rusak sekali, tapi diperbaiki dan bisa berjalan lagi sampai sekarang. Awet ya.  Aku suka sekali dengan jam beker itu.

Ketika belum punya jam beker, sesekali aku mesti bangun pagi-pagi banget kalau aku harus mengikuti suatu kegiatan atau acara. Misalnya, mau berangkat darmawisata dan naik bus pagi-pagi. Malamnya aku biasanya mbanyaki dan takut kalau bangun kesiangan. Ibuk dan Bapak biasanya akan ngayem-ngayemi dan bilang akan membangunkanku. Tapi namanya tukang mbanyaki dan mbingungi, aku tetap cemas. Kalau aku ketinggalan bus gimana? Biasanya Ibuk lalu bilang ke aku begini: “Minta sama malaikat pamomong supaya membangunkan kamu jam 4.” Agak tidak percaya, tapi tetap kulakukan.

Dan berhasil!

Selalu berhasil seingatku. Aku selalu bangun persis atau kira-kira kurang 5 menit dari waktu yang kuminta.

Kemarin aku bertemu teman lama. Ngobrol ngalor ngidul. Panjang kali lebar. Ngobrol sama dia enaknya tidak dihakimi–bahwa aku mesti begini, begitu. Tidak saling mengunggulkan bahwa aku sudah begini, kamu pun mestinya juga sudah mencapai ini dan itu. Sebenarnya aku berangkat menemui dia dalam kondisi tidak fit. Hidung meler dan tenggorokan sudah berteriak-teriak karena hampir radang. Tapi pas mengobrol dengannya, aku seperti mendapat energi cukup positif sehingga bisa duduk beberapa jam untuk saling mendengarkan.

Lalu sampailah kami pada suatu obrolan lama tentang “unfinished business” dengan beberapa orang di masa lalu dan masa sekarang. Salah satu saran darinya mengingatkanku pada pesan ibuku: “Cobalah ajak bicara sang malaikat pelindung—alias malaikat pamomong. Ajak bicara dalam tataran jiwa.”

Haish! Berat amat ya.

Pengalaman dibangunkan pagi-pagi dulu membuatku percaya bahwa malaikat pelindung itu ada dan kita bisa minta tolong kepadanya. Entah bagaimana teorinya, tapi aku mau mencoba. Setidaknya, obrolan kami kemarin mengingatkanku untuk lebih banyak berdoa–hal yang akhir-akhir ini rada mbleret dan mbuh ra karuan.

Jadi, ya… aku mau coba memulai lagi sesuatu yang sudah lama kutinggalkan. Plus mau sowan Ibuk Maria lagi–yang pasti cuma geleng-geleng kepala melihatku yang masih begitu-begitu saja.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae.

 

Advertisements

Kenangan di Hari Hujan

Hari hujan dan suasana yang dingin dengan sempurna melemparkanku untuk menyusuri lorong-lorong waktu di masa lalu. Dan kemarin sore, setelah berhujan-hujan sepulang dari rumah teman, aku mandi lalu duduk di depan komputer–seperti biasa. Hujan memang paling nyaman dinikmati di dalam rumah. (Asal rumahnya nggak bocor atau kebanjiran ya?)

Lalu, kenangan seperti apa yang muncul saat hari hujan?

Kenangan yang pertama kuingat adalah kenangan saat aku berada di Madiun. Aku ingat, saat hari hujan, aku lalu berdiri di ruang tamu. Lalu dari balik jendela kaca, aku menikmati curahan air hujan yang menitik deras di halaman. Konyolnya, aku menganggap titik-titik air hujan itu seperti kodok yang sedang berlompatan dengan riangnya. Bukan kodok yang jorok dan muram, tetapi kodok “kartun” yang sering kulihat di buku bergambar anak-anak. Kodok yang tersenyum lebar, dan melompat sambil bernyanyi. Seolah-olah ada yang memegang gitar dan memulai koor. Bener-bener kartun deh isi kepalaku ini. He he!

Meskipun di dalam rumah, toh aku masih merasakan kedinginan. Dan aku semakin menggigil meyaksikan anak-anak yang berlari-lari, sengaja berhujan-hujan. Sepertinya mereka senang sekali. Entah sudah sampai mana mereka. Biasanya mereka bergerombol, sekitar tiga atau empat orang. Kadang sambil berteriak-teriak kegirangan. Tapi aku hampir tak pernah melihat ada anak perempuan yang ikut berhujan-hujan. Hanya anak laki-laki. Mungkin anak-anak perempuan yang lain cukup senang melihat hujan dari balik kaca jendela rumah, atau justru dilarang berhujan-hujan karena dikhawatirkan akan masuk angin dan demam sepulang menikmati guyuran hujan.

Kenangan yang kedua adalah saat aku berada di asrama. Waktu di asrama, selama tiga tahun pertama, unitku berada di dekat Sungai Babilon. Keren ya namanya? Padahal cuma sungai keruh yang mengalir di tengah halaman asrama. Kalau tidak salah, sungai itu adalah terusan Kali Mambu yang mengalir di Jalan Batikan. Kebetulan, di tahun kedua dan ketiga, aku bisa memilih tempat tidur dan meja belajar yang dekat dengan jendela. Jadi, sepanjang hari aku bisa mendengar suara aliran sungai. Nah, di saat hari hujan … Sungai Babilon ini airnya semakin tinggi. Alirannya semakin deras saja. Dan aku ingat betul, di tahun pertamaku tinggal di asrama, Sungai Babilon itu meluap sampai airnya masuk ke ruang tidur kami! Tapi waktu itu aku hanya bisa melihat teman-teman dan mbak-mbak asrama hilir mudik mengepel. Aku cuma menonton dari atas tempat tidur karena aku sedang demam. Hi hi…

Sekeluarnya dari asrama, aku dan kakakku menempati rumah di Dusun Krapyak, Wedomartani. Rumah itu cukup dekat dari kampus tempat kerja kakakku yang berada di Paingan. (Hmmm, bagi orang Jogja mungkin bisa menebak, kampus apa yang berada di Paingan itu.) Tapi dari kantorku yang terletak di Kotabaru, rumah itu lumayan jauh. Eh, tak jauh-jauh amat ding. Hanya sekitar 10-11 kilometer saja. Awalnya memang jarak rumah-kantor itu seperti menyeberangi samudera, alias juauhhh. Tapi dibandingkan perjalanan Bu Tutinonka ke tempat kerjanya, tentu perjalananku dari rumah ke kantor tak ada apa-apanya.

Di awal-awal aku menempati rumah di Krapyak itu, aku sering awang-awangen untuk pulang. (Halah, pulang kok awang-awangen to?) Karena jauhnya itu lo! Apalagi membayangkan rumah kami di tempat yang masih sepi, yang (waktu itu) tetangganya baru dua rumah, rasanya kok nglangut ya? Akibatnya, aku jadi sering berlama-lama di kantor. Aku tidak termasuk rombongan teng-go, yang begitu jam kantor usai langsung nggeblas–menghilang. Jadi, aku tetap tinggal di kantor. Kadang cuma baca-baca buku, kadang browsing internet. Tetapi tentu aku tidak sendirian dong, ada seorang kawanku Lena, yang dulu juga sering berlama-lama di kantor. Selain itu, setiap sore kantorku sering dipakai anak-anak muda untuk berbagai kegiatan. Jadi, kantorku tidak sepi di kala sore.

Suatu sore, hujan turun dengan derasnya. Waktu itu aku pikir, ah … nanti juga akan reda dalam satu-dua jam. Perkiraanku, pukul 6 pasti hujan sudah reda. Tapi perkiraanku meleset. Sampai pukul 19.30 hujan masih menggempur Jogja. Weladalah … mau pulang jam berapa ini? pikirku. Sementara itu, perutku sudah melilit. Ya, kantorku memang sebelahan dengan Mirota Bakery, tetapi kalau cuma memenuhi perutku dengan roti, mana kenyang? Maklum perut Jawa, kalau belum diisi nasi, masih berontak minta diisi. Akhirnya, dengan gagah berani aku menembus hujan. Itu berarti aku mesti siap jika motorku mogok. Waktu itu aku masih memakai BMW alias Bebek Merah Warnanya, yang kalau tidak hati-hati, kalau busi terkena air bisa mogok motorku. Wis, tak apa.

Begitu menyusuri jalan pulang, aku betul-betul deg-degan. Lha wong, aku hampir tak bisa melihat jalan. Hujan itu begitu deras, dan ada beberapa jalan yang tergenang air. Aku tak tahu mana jalan yang berlubang. Aku cuma berusaha jalan di tengah, kalau terlalu minggir, bisa-bisa kecemplung got. Hujan itu membuat pandanganku kabur. Aku berusaha keras menjaga gas motorku supaya tidak mogok. Sungguh suatu perjuangan yang membuatku mau tak mau ndremimil berdoa sepanjang jalan! Aku berdoa supaya tidak kecemplung got, tidak masuk lubang jalanan yang tertutup air, supaya tidak menabrak atau ketabrak orang. Rasa-rasanya dua putaran rosario selesai kudaraskan deh. Hihihi. Akhirnya, setelah berjuang selama empat puluh menit, aku pun sampai di rumah. Leganyaaaa…!

Kenangan pulang kantor dengan berhujan-hujan tentunya tidak hanya sekali itu saja. Beberapa kali aku terpaksa pulang menembus hujan. Tetapi ritual ndremimil berdoa sepanjang jalan itu rasanya tak berubah, sampai-sampai aku memasukkannya dalam bukuku Tuhan, Ngobrol Yuk! (Ah, buku pertamaku itu bagaimana kabarnya ya? Sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Dan sudah lama sekali aku tidak mengumpulkan tulisan-tulisanku. Apakah ini berarti sudah waktunya untuk memulai sebuah proyek untuk membuat buku lagi ya? Hujan memang punya sejuta arti…)

Teman-teman, di hari hujan, kenangan apa yang menempel kuat di benak kalian?