Apakah Kamu Berubah?

Banyak orang mengatakan rutinitas hidupnya berubah gara-gara corona. Yang biasanya berangkat ke kantor pagi-pagi, kini bisa bangun lebih siang dan bisa memilih tidak mandi. Mandi dirapel sekalian sore. Aku sempat mengalami perubahan: tidur lebih tertib–tidak lebih dari jam 10 malam; masak setiap hari dan sama sekali tidak absen; jalan pagi setiap pagi, dan lain-lain.

Namun seingatku hal itu hanya berlangsung sekitar pertengahan Maret sampai awal April. Waktu itu aku merasa lebih tegang. Setiap hari membaca berita tentang corona lalu mulai eneg. Eneg secara literal. Jadi, aku merasa pusing dan deg-degan tiap kali ada berita si virus. Tidak bisa tidak membacanya. Mata seperti otomatis mengunyah berita, tapi kepala akhirnya kekenyangan dengan segala macam info.

Sebelum bulan puasa berlangsung, aku sempat mencuri-curi beli makan di luar. Belinya di dekat-dekat sini, misalnya soto di selatan kampung. Hanya saja sekarang kalau beli makan dari luar, aku bawa rantang sendiri dan tidak lupa memakai masker. Namun, aku masih sering memasak kok. Cuma ada hari-hari ketika memasak menu sederhana terasa melelahkan–misalnya hanya sekadar bikin orak-arik.

Awal-awal, aku tiap hari melakukan gerakan yoga suryanamaskar. Minimal 25 menit setiap hari, dilanjutkan jalan pagi sambil berjemur. Rajin kan? Tapi sekarang, rebahan di kasur sambil main game atau membuka medsos betul-betul menggoda. Yang terjadi adalah, aku merasa tidak segesit kemarin-kemarin. Dengan aktivitas harian lebih banyak duduk, rebahan tentu bukan perpaduan yang tepat.

Sepertinya lama-kelamaan, tingkat keteganganku menghadapi corona mulai kendur. Yang kukhawatirkan, aku juga makin tidak waspada. Seperti pernah kubaca dalam sebuah buku, menunggu musuh datang saat perang adalah saat yang membosankan. Padahal kalau masa wabah begini, mestinya jangan sampai si musuh datang. Tak ada yang mau sakit. Tetapi aku masih rajin cuci tangan kok. Untung saja kebiasaan cuci tangan ini menempel cukup erat.

Aku lalu bertanya-tanya, apakah aku berubah? Seperti pendapatku yang dulu-dulu, aku pikir manusia itu sulit berubah. Cenderung begitu-begitu saja. Berubah itu tidak enak. Seperti menyuruh anak kecil yang lagi enak-enaknya main game di sofa, lalu disuruh menyapu seluruh rumah. Lho, gak ndelok aku lagi lapo? Sampeyan ae sing nyapu, Rek! Pasti banyak sekali alasan untuk menolak. Dorongan dari luar memang bisa mengubah seseorang, tetapi kesadaran dari dalamlah yang betul-betul menghasilkan perubahan. Perubahan yang timbul dari kesadaran itulah yang biasanya lebih langgeng.

Di satu sisi, timbul sebersit kesadaran bahwa bila aku rutin beryoga, keluhan pada kakiku akan berkurang–yang mana sangat menguntungkan aku. Namun, menggerakkan kaki dan tangan untuk menggelar matras saja kadang diganduli banyak godaan. Rasa-rasanya butuh niat sebesar galaksi untuk mengusir keengganan.

Kesan Misa Online

Beberapa bulan yang lalu, aku sudah berencana akan pulang pada Paskah tahun ini. Saat kulihat jadwal, lingkungan tidak dapat tugas besar saat Tri Hari Suci. Jadi aku bisa pulang, pikirku. Tapi aku masih menimbang-nimbang, akan naik mobil sendiri atau naik kereta. Belum sempat aku membuat keputusan, himbuan #dirumahsaja sudah mulai digaungkan. Dan demi menjaga kesehatan kita semua, aku batal pulang. Angan-angan Paskahan di rumah bareng Bapak dan Ibuk pupus.

Selama Tri Hari Suci aku ikut misa online. Memang ada yang aneh ya. Tapi lama-lama jadi biasa. Yang kurang adalah kita tidak bisa terima komuni. Tetapi kapan lagi bisa misa dengan Bapak Uskup langsung, datang kurang 5 menit, dan duduk paling “depan”? Selain itu, aku bisa “main-main” ke gereja lain, ke Jakarta, ke Pontianak, ke Semarang, dsb.

Ada teman di FB yang bilang dia merasa belum misa walau mengikuti misa online. Kalau buatku, rasanya yah separuh misa, separuh enggak. Tapi seperti kujelaskan tadi, aku mulai cukup terbiasa. Mungkin terasa praktis ya. Sempat agak terharu, tapi cuma di misa pertama saja. Selanjutnya baik-baik saja. Aku merasa gereja saat ini membuat terobosan dengan cepat.

Aku bertanya-tanya misa online seperti ini akan ada sampai kapan. Ada yang memperkirakan sampai akhir Mei. Tetapi aku pikir sepertinya bakal lama. Hitungan 1-2 bulan tidak cukup–mengingat orang Indonesia sangat sulit disiplin. Aku membayangkan, seandainya dua bulan lagi gereja sudah mengadakan misa, apakah aku akan mulai ke gereja lagi? Sepertinya aku akan berpikir-pikir dahulu. Rasanya lebih aman misa online di rumah begini. Apalagi mengingat orang Indonesia kurang disiplin, flu sedikit masih ke gereja, salaman kiri kanan. Wah, aku jadi parno sendiri. Apakah mungkin di gereja duduknya saling berjarak? Butuh berapa kali misa? Apakah bangku gereja akan cukup?

Sepertinya akan ada “new normal” gara-gara ada wabah corona ini. Mulai dari sekadar keluar pakai masker sampai misa online. Aku merasa tidak masalah jika tidak ke gereja selama beberapa bulan dan tidak komuni selama berminggu-minggu. Justru kali ini aku bisa belajar beragama secara lebih personal. Lagi pula ini demi tujuan yang lebih besar, yaitu demi keselamatan bersama. Jadi, kurasa ini tidak masalah. Bahkan kurasa ada sisi positifnya, yaitu orang-orang sakit yang selama ini sulit sekali ke gereja jadi bisa “ikut” misa. Dengan adanya misa online, mereka merasa tersapa dan dijangkau.

Sebelum tulisan ini berakhir, aku mengucapkan selamat Paskah untuk teman-teman yang merayakan. Semoga kita dimampukan untuk mencintai sesama lebih dalam. Have a happy and healthy Easter!

Love in Time of Corona

Sore ini hujan mengguyur Jogja. Ngemplak ding, tepatnya. Cuaca jadi lebih dingin. Segar. Kupikir hujan bakal berhenti sekitar jam 16.30. Tapi kok jam 5 lewat masih cukup deras? Aku mulai berpikir kakakku nanti bakal kehujanan, dong? Soal dia pulang dari kampus hujan-hujan, itu sudah biasa. Tapi yang tidak biasa adalah sekarang kan musim corona. Haish. Kalau kehujanan bisa masuk angin dan daya tahan tubuh bakal turun. Ketimbang nanti kenapa-napa, aku menawari untuk menjemputnya pakai mobil. Mumpung belum terlalu malam dan hujan tidak terlalu deras.

Baiklah, aku berangkat sendiri. Menyetir saat hujan bukan keahlianku. Agak deg-degan juga karena aku mesti nyetir sendiri. Mesti ekstra fokus mengingat air hujan yang mengenai kaca depan itu sesekali membuat pandangan ke depan jadi blawur. Selain itu, aku mesti berjuang melawan dinginnya AC mobil. Untung jarak rumah dan kampus tidak terlalu jauh. Pokoknya super hati-hati dan berdoa.

Saat lewat Stadion Maguwo kulihat beberapa warung makan masih buka. Semakin dekat Stadion, tampak beberapa penjual makanan kecil dan minuman berjualan di bawah rintik hujan. Mendadak aku nggrantes. Di antara seruan dan ajakan supaya orang tetap di rumah saja, masih ada orang yang berjualan di bawah rintik hujan. Aku tahu ini bukan pilihan yang mudah. Ada temanku yang bercerita bahwa pendapatannya diperoleh secara harian. Kalau satu hari tidak bekerja, ya tidak punya uang. Tidak ada bos yang menggaji setiap bulan. Bosnya ya diri sendiri, merangkap karyawan, dan HRD. Singkat kata, mesti bekerja tiap hari. Kalau tidak kerja, ya tidak bisa makan. Titik. Menurutku orang-orang seperti itu adalah kelompok yang rentan. Mereka bisa terpapar virus saat menghabiskan waktu di jalan. Paling tidak karena terpapar udara dingin, stamina tubuh bisa turun. Yeah, itu aku sih yang kalau kedinginan dikit bisa mendadak masuk angin. Tapi tetep saja sih kurasa orang bisa sakit kalau sering terpapar udara dingin malam hari dalam jangka panjang. Siapa yang tidak nggrantes dan sedih melihat orang-orang yang terpaksa bekerja di luar rumah seperti itu?

Seumur-umur baru pertama kali ini aku dibombardir dengan berita tentang wabah seperti ini. Rasanya capek juga. Kadang aku ingin menutup kuping dan mata dari segala berita soal corona. Tapi kok sulit ya? Hampir semua orang membicarakannya–baik di dunia nyata maupun di dunia maya, mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Seakan-akan ini perang dengan musuh tak terlihat. Menyebalkan. Kalau kita perang dan tahu musuhnya ada di mana, kita bisa melipir. Tapi kalau musuhnya tak terlihat begini, sepertinya harus pasang kuda-kuda terus. Capek tauk!

Meskipun demikian, aku berusaha melihat sisi positif selama wabah ini. Aku jadi lebih rajin menyapu, mengepel, dan mengelap meja makan/dapur. Aku jadi rajin masak. Tiap kali makan kuusahakan ada sayur baru. Minimal kalau masak sayur bisa untuk makan dua kali. Habis masak, aku bersihkan dapur. Tidak hanya nyuci alat masak, piring, dan gelas, tapi juga mengepel! Semacam kurang kerjaan saja. Biasanya, sudah bagus aku mau nyuci alat masak dan piring kotor. Ngepel? Nanti dulu lah. Sekarang, lantai berpasir sedikit, langsung ambil sapu. Begitu ada kesempatan, ambil pel. Capek? Iya. Tapi lantai yang bersih ternyata nyaman. Kupikir wabah ini membuatku jadi melihat lagi ke dalam diri. Berusaha menyayangi diri sendiri dan orang-orang di sekitarku–sahabat serta keluarga.

Semoga kita semua bisa melalui masa sulit ini dengan tabah. Semoga kita dan orang-orang yang kita kasihi senantiasa sehat. Tunjukkan perhatian dan sayang untuk mereka, ya! Jangan lupa berdoa.