Ngalor Ngidul tentang Penjenjangan Buku Anak

Beberapa waktu yang lalu aku mengobrol ngalor ngidul dengan seorang teman. Dari soal pengalamannya mengontrak rumah sampai angan-angan untuk membuat sanggar literasi anak. Ada satu pertanyaan yang terlontar dalam obrolan kami: Kenapa budaya baca orang Indonesia masih rendah. Temanku bilang, mungkin anak-anak mengalami “kekerasan” ketika belajar membaca.

Apa maksudnya? Itu semacam mengonsumsi makanan yang tidak sesuai dengan kemampuannya dalam mencerna. Kalau anak baru lahir, tentu tepatnya mengonsumsi ASI, bukan nasi pecel, kan? Kurasa hal yang sama berlaku untuk membaca buku.

Temanku kemudian bertanya: “Apakah di Indonesia ada penjenjangan buku anak?”

Aku kurang tahu. Selama ini aku tidak terlalu memperhatikan penjenjangan buku anak. Ketika aku membuka-buka koleksi buku anak milikku sendiri (terbitan beberapa penerbit Indonesia), kulihat memang jarang sekali ada informasi buku tersebut ditujukan untuk anak dengan kemampuan baca seperti apa. Kadang ada yang menuliskan di cover belakang bahwa buku ini untuk balita atau untuk anak umur sekian. Tapi jarang yang jelas penjenjangannya.

Penjenjangan buku itu perlu. Kenapa? Yang utama adalah agar anak bisa membaca buku sesuai kemampuannya. Kalau dia baru mengenal huruf, jangan disuguhi cerpen. Dia bisa “gelagepan” dan selanjutnya akan malas membaca.

Aku merasa soal penjenjangan buku ini masih sedikit yang tahu. Mungkin, ya. Ini hanya perkiraanku sendiri. Aku sendiri belum terlalu lama tahu pentingnya penjenjangan buku anak; hanya gara-gara ikut workshop penulisan buku anak dengan Room to Read. Aku juga tak ingat buku-buku pertamaku di masa kecil. Aku hanya ingat waktu SD aku membaca Bobo, Ananda, dan ng… adakah buku lain yang kubaca? Lupa.

Soal penjenjangan buku ini kurasa perlu disosialisasikan. Penjenjangan buku itu perlu untuk mendongkrak tingkat literasi masyakat. Kenapa literasi masyarakat perlu ditingkatkan? Supaya masyarakat kita tidak bodoh. Masyarakat yang bodoh itu mudah sekali terguncang oleh berita atau informasi yang sesat. Tidak bisa membedakan mana fiksi dan mana nonfiksi. Apalagi sekarang zamannya internet, berita dan informasi mudah sekali tersebar. Kalau berita bohong tersebar dan dipercaya banyak orang, yang rugi kita sendiri.

Bagaimana caranya memilih bacaan yang tepat untuk anak?

Kalau anak masih belajar membaca, pilih buku dengan teks sedikit. Misalnya satu halaman berisi 1-2 kalimat. Satu kalimat terdiri 5-8 kata. Buku seperti itu biasanya tidak tebal, hanya sekitar 24-32 halaman. Mungkin ada orang tua yang memandang sebelah mata buku semacam itu: “Ah, bukunya tipis, teksnya sedikit, buat apa beli buku seperti itu?” Buku seperti itu malah berguna lho. Buku semacam itu menjadi jembatan agar anak lebih percaya diri untuk membaca.

Ada aturan bernama “five finger rules” yang bisa membantu kita dalam memilih bacaan untuk anak. Pertama-tama, ambil buku yang kira-kira menarik untuknya. Kemudian, mulailah membaca. Hitung kata yang tidak dimengerti anak. Kalau ada lima kata atau lebih yang tidak dipahami, berarti buku itu terlalu “berat” untuknya. Pilih buku yang lebih mudah.

Aku berharap penjenjangan buku lebih diperhatikan oleh guru, orang tua, orang-orang di balik dunia penerbitan.

Advertisements

Sepotong Cerita Titu dan I Belog dari Balik Layar

Tahun lalu, pada bulan September, aku ikut workshop penulisan cerita anak yang diadakan Room to Read dan Provisi. Awalnya aku tidak terlalu berminat ikut karena dua tahun yang lalu aku sudah pernah ikut, bukuku sendiri yang berjudul Kue Ulang Tahun Widi sudah terbit, dan memenangi Second Prize Winner di ajang Samsung Kidstime Author’s Award, Singapore. Aku tidak punya ide. Tapi entah bagaimana aku dapat wangsit ide cerita dan akhirnya terdorong ikut audisi. Ndilalah ceritaku lolos audisi, jadi akhirnya aku berangkat. (FYI, mengikuti workshop penulisan cerita anak tersebut gratis, hanya saja kami harus lolos audisi. Kalau ceritamu dianggap bagus oleh panitia, kamu bisa ikut workshop. Jadi, ada unsur kerja keras dan keberuntungan agar bisa ikut workshop tersebut.)

Uniknya, aku bisa ikut workshop itu bersama Oni, suamiku. Kalau kupikir-pikir, lucu juga kami bisa ikut berdua. Kok bisa? Aku sendiri ya heran. Waktu Mbak Rina (dari Provisi) memberitahu bahwa naskah kami lolos dan bisa ikut workshop, yang ditelepon malah suamiku. Usai ditelepon, Oni bilang bahwa aku diminta mengirim data diri ke Provisi. “Loh, kok yang ditelepon kamu?” tanyaku ke Oni. “Naskahku lolos juga,” jawabnya. Astaga, selama ini aku tidak tahu kalau Oni ikut mengirim naskah audisi. Lah, kirain yang minat nulis cerita anak aku doang. Ternyata my roommate tertarik juga. Surprising! Dan aku menyadari kelemotanku karena rupanya waktu mengirim naskah audisi, aku tidak menyertakan form yang berisi data diriku. Duh! Dasar telmi.

Keikutsertaan kami di workshop itu menjadi semacam piknik buat kami. Lumayan kan bisa jalan-jalan sampai Lembang dan dibayari. πŸ˜€ πŸ˜€ Sudah lama nggak piknik soalnya. πŸ˜€ Hal lain yang menguntungkan adalah aku bisa meminjam laptopnya saat laptopku bermasalah. Untung banget, deh!

Workshop bersama Room to Read dan Provisi selalu mengasyikkan: menambah ilmu dan meluaskan jejaring. Buatku sendiri, dengan mengikuti workshop sekali lagi, aku jadi lebih memahami seluk beluk penulisan naskah picture book, terutama untuk anak-anak yang baru belajar membaca (buku level 1 dan 2). Tidak semudah yang kubayangkan dulu. Bikin otak melintir :p. Seperti biasa, kalau Oni ikut belajar, dia biasanya lebih mudeng ketimbang aku. Jadi, aku bisa tanya-tanya lagi sama dia kalau belum mudeng. πŸ˜€ πŸ˜€

Sepulang dari workshop, kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Aku dan suamiku masuk ke grup yang didampingi Penerbit Kanisius, Jogja. Selain kami berdua, ada Yuniar Khairani dan Nancy Sitohang yang sekelompok dengan kami.

Setelah melewati masa revisi selama beberapa bulan yang cukup melelahkan, ditambah ikut field testing yang mengasyikkan, akhirnya buku kami jadi juga. Judulnya Titu dan Titi yang diilustrasi oleh Lyly Young. Sedangkan karya suamiku berjudul I Belog yang diilustrasi oleh Dewi Tri Kusumah.

Titu lagi baca buku diintip Tuti
Foto oleh: Mbak Flora.

 

I Belog yang lucu.
Foto oleh: Mbak Flora

Siang tadi, aku mendapat kiriman foto dari beberapa teman berkaitan dengan peluncuran buku kami di AFCC, Singapura. Naskah I Belog dipentaskan pada saat acara pembukaan peluncuran buku tersebut. Senang juga rasanya hasil jerih payah kami bisa mejeng di AFCC–walau kami tidak bisa datang ke sana dan menyaksikannya sendiri. Semoga lain waktu kami punya rejeki dan berkesempatan menghadiri AFCC. Selain itu–ini yang terpenting–semoga buku-buku kami bisa dinikmati anak-anak di Indonesia.

Titu dan I Belog mejeng bareng karya teman-teman yang lain.
Foto oleh: Mbak Flora

 

Pementasan I Belog
Foto oleh: Mbak Eva Nukman

Terima kasih buat teman-teman yang selalu mendukung, terutama Mbak Flora, Mas Widi, dan Mas Saras dari Kanisius. Terima kasih pada Lyly Young sebagai ilustrator yang telah menghidupkan tokoh Titu. Juga terima kasih atas kerja keras Alfredo Santos dari Room to Read, Mbak Rina dari Provisi. Salam literasi!