Setelah Sekian Lama

Kalau melihat catatan tanggal di blog ini, aku mulai mengisi blog ini sejak tanggal 22 Oktober 2009. Baru sekitar lima tahun. Belum terlalu lama, ya. Dan blog ini pun mengalami pasang surut. Tapi di antara blog-blogku yang lain, blog ini termasuk yang paling sering kutengok dan kuisi.

Dulu setiap kali ada orang yang tanya kepadaku, “Untuk apa ngeblog?”, jawabanku adalah: “Buat cari teman.” Ya, memang blog ini awalnya kubuat ketika aku awal di Jakarta. Pas aku suka galau gitu, deh. (Kaya sekarang enggak galau aja? Hehehe.) Dulu sih, aku merasa ngeblog itu asyik. Eh, sampai sekarang juga asyik kok. Tapi begini, dulu aku memang lumayan sering blogwalking lalu tulis komentar di beberapa blog. Akibatnya, blogku juga balik dikunjungi dan diberi komentar. Rasanya senang. Kemudian aku menulis, salah satunya adalah dengan tujuan agar dibaca orang. Ya iyalah, toh ini bukan blog yang diseting privat kan. Semua orang bisa membacanya. Tapi itu dulu.

Sekarang aku merasa, tujuanku ngeblog lebih untuk diri sendiri. Egois? Hmmm… Entahlah. Tapi aku sekarang lebih ingin menulis terutama untuk diriku sendiri. Untuk pengingat. Untuk catatan bagi diriku sendiri. Dan lagi blog ini tetap bisa dibaca umum, jadi kalau apa yang kutulis ini bisa bermanfaat untuk orang lain, ya syukur. Kalau ada yang mau memberi komentar, silakan. Asal komentarnya masih nyambung dengan isi tulisanku dan bahasanya bisa dipahami (karena kadang ada yang tulisannya tidak jelas), ya oke saja.

Aku sudah jarang sekali blogwalking. Kalaupun aku main ke blog teman-teman yang lain, biasanya sekarang aku hanya jadi silent reader. Pembaca diam-diam. 😀 Jadi penikmat saja.

Satu hal yang menjadi catatanku, menulis blog itu baik. Dengan menulis blog, pertama-tama kita belajar mengungkapkan pikiran dan (kadang) perasaan. Blog bisa jadi media untuk urun pendapat. Kalau dulu opini biasanya kita baca di koran, sekarang kita bisa menuliskan opini di halaman kita sendiri. Kedua, lewat blog kita bisa berbagi bermacam-macam hal. Bisa berbagi resep, berbagi pengalaman, berbagi informasi. Kadang kalau aku sedang googling untuk mencari suatu informasi, aku menemukan informasi tersebut dari suatu blog.

Jadi, akhir kata… aku berharap aku masih bisa tetap ngeblog. Walaupun kadang malas sekali menulis; walaupun kadang merasa tidak punya waktu… setidaknya blog ini kutulis untuk diri sendiri.

Advertisements

Di Mana Kamu Ngedumel?

Sebetulnya pertanyaannya tidak hanya “ngedumel”, tapi juga: Di mana kamu menggerutu, mengeluh, curhat, dan seterusnya. Tapi kalau itu dijadikan judul, kan terlalu panjang. Kurang nendang juga. Eh, itu kesanku saja sih. Terlalu subjektif barangkali ya.

Bagaimana aku bisa menemukan judul di atas? Ceritanya, aku belakangan ini jarang menulis di blog. Entah kenapa, pokoknya malas saja. Bahkan sebulan lalu aku tidak menulis apa-apa di blogku ini. Seperti buntu. Tapi sebetulnya ada beberapa narablog yang menjadi inspirasi buatku. Salah satunya, Mbak Imelda. Kenapa bisa begitu? Karena dia rajin posting. Itu saja. Lewat FB beberapa kali aku melihat dia memasang tulisan baru di blognya. Wah, rajin amat Mbak Imelda nih, pikirku. Melihat itu aku ada dorongan juga untuk pasang tulisan baru di blog, tapi itu baru terlaksana setelah… sebulan. Parah ya.

Selain jarang menulis di blog ini, aku juga jarang blogwalking. Tapi sejarang-jarangnya, beberapa kali tetap blogwalking kok. Menengok blog-blog “langganan” walaupun seringnya tidak meninggalkan jejak. Nah, saat blogwalking itu sempat aku menemukan satu-dua blog yang isinya curhat. Tema curhatnya macam-macam, tapi yang paling sering soal pekerjaan atau pacar/pasangannya. Kadang pemilik blog itu kukenal baik, ada yang hanya kukenal sepintas (atau kenal nama paling tidak), ada yang sama sekali tidak kukenal. Yang menarik bagiku sebetulnya kalau pemiliknya hanya kukenal sepintas dan dia curhat mengharu biru tentang orang yang sebetulnya juga kukenal. Kesanku pertama membacanya adalah, kok yang seperti ini dipublikasikan sih? Maksudku, sesuatu yang privat, kenapa dipasang untuk publik? Tapi ya, sebetulnya suka-suka si pemilik blog sih. Mau dia menulis menye-menye, mau ngerasani si XYZ, mau cerita soal pacar gelapnya sebetulnya hak dia. Sebagai pengunjung, aku terima saja suguhan cerita di masing-masing blog. Kalau nggak suka, ya sudah. Tutup saja. Lupakan.

Setiap orang kurasa memerlukan tempat untuk menumpahkan uneg-unegnya. Dunia maya adalah salah satu tempatnya–di blog, FB, twitter, dll. Tidak jarang juga aku menjumpai orang yang mengeluh atau ngedumel lewat status FB-nya. Mengganggu? Kadang. Kadang aku tutup mata saja. Malas berkomentar. Kadang aku berpikir, kalau mau ngedumel di dunia maya, mbok pakai kalimat yang agak enak dibaca gitu lo. Kreatif sedikit dong. Misalnya, dengan dibuat cerpen kek. Dibuat puisi, kek. Atau, minimal bahasanya yang manis. Eh, mungkin nggak sih? 😀  Tapi mungkin yang dirasakan sudah sampai ubun-ubun, jadi langsung ditulis apa adanya.

Nah, kalau aku sendiri, di mana ngedumelnya? Rahasia hi hi hi. Anggap saja, ini postingan “bernada” ngedumel. 😀

Bagaimana Membuat Blog?

Jujur saja, aku jarang mendapat pertanyaan seperti ini. Yang justru sering kukatakan adalah, “Kamu bikin blog dong!” Dan biasanya orang yang kukasih saran seperti ini manggut-manggut. Ada yang kemudian langsung membuat blog–walaupun jarang ini terjadi. Ada yang setelah kuberi tahu langkah-langkah untuk membuat blog, orang itu tidak kunjung memunculkan blognya. Hmm, barangkali disetel jadi private? Entahlah.

Tapi kira-kira dua atau tiga minggu yang lalu seorang teman bertanya kepadaku: “Bagaimana sih caranya membuat blog? Pengin deh punya blog yang bagus.”

Menurutku pertanyaan ini sederhana jawabannya: “Just do it!” Maksudku, kalau mau membuat blog, ya buat saja. Bikinnya bisa sekarang, tidak perlu nanti. Menurutku, untuk memiliki blog, caranya semudah membuat akun e-mail. Itu menurutku lo, ya. Karena aku kan pakai blog gratisan. 😀 Jadi, tinggal buka penyedia blog gratis, lalu buat akun di situ. Misalnya dengan membuka akun di wordpress.com atau blogger.com. Sederhana kan? Lebih baik kalau kamu sudah punya persediaan tulisan (dalam bentuk file MS Word atau notepad) dan/atau foto. Begitu sudah punya akun blog, pasang deh tulisan atau foto-foto tersebut.

Barangkali yang agak “menakutkan” untuk orang yang baru hendak membuka akun blog, itu adalah perintah-perintah di dalam blog itu sendiri. Eh, iya begitu nggak sih? Ini sih aku sok tahu saja. Hehe. Mungkin ada yang masih belum mengerti, bagaimana sih caranya agar memiliki blog dengan tampilan ciamik, meling-meling, dan membuat semua orang terpesona? Mungkin ada bertanya soal apa itu header, widget, blogroll, dll … tenang, semua itu ada petunjuknya kok kalau kita sudah membuka akun blog. Kalau masih belum mengerti, silakan bertanya kepada narablog kawakan yang bertebaran di dunia maya ini. Banyak kok narablog yang akan dengan senang hati membagikan ilmunya.

Ya, penampilan blog yang cantik atau ganteng itu tergantung si pemilik. Maksudku, ini sebetulnya tergantung apakah si pemilik pintar mendandani blognya atau tidak. Kalau aku sih barangkali termasuk pemilik blog yang sederhana saja. Masih kurang pinter berdandan. 😀 Aku sendiri lebih menyukai “isi” blog ketimbang “dandanannya.” Kalau blog itu tampak cemerlang, bagiku itu karena tulisannya atau bobot isinya. Soal warna dan gambar yang dipasang, itu kurang penting bagiku. Mungkin karena aku lebih menikmati tulisan ya. Aku pribadi lebih suka blog dengan penampilan sederhana, tapi tulisannya menarik, unik, memberi inspirasi, atau memberi pengetahuan baru. Ibaratnya, tidak apa-apa deh cuma pakai bedak saja, tidak usah pakai eye-shadow atau lipstik, asal inner beauty-nya bisa terlihat. Lagi-lagi, itu kalau menurutku lo ya. Setiap orang pasti punya pendapat masing-masing.

Maka, menurutku … membuat blog itu sederhana saja. Siapkan tulisan dan/atau foto. Buka akun blog. Pasang tulisan dan/atau fotomu di situ. Selanjutnya, yang lebih penting lagi adalah ketelatenanmu dalam merawat blog tersebut, salah satunya adalah dengan rajin memuat tulisan dan/atau foto yang baru. Selain itu penting juga membangun jejaring dengan narablog yang lain dengan berkunjung dan berkomentar pada blog teman yang lain. Kurasa seiring dengan berjalannya waktu kita akan lebih cerdas lagi dalam mengelola blog kita sendiri.

Jadi, bagaimana caranya membuat blog? Buat saja!

*Ini hanya sekadar tulisan ala kadarnya dari pemilik blog yang masih dalam tahap belajar. Kalau kalian mau berguru pada blogger yang lebih jago, sangat disarankan. Pasti kalian akan dapat ilmu yang lebih banyak lagi daripada sekadar tulisan sederhana seperti ini.*

Angka Keberuntungan

Ketika aku masih sekolah, aku biasa memiliki nomor urut absen antara nomor 6 sampai 10. Seingatku begitu. Terakhir waktu kuliah, aku dapat angka absen dengan buntut 9. Semua itu karena nama depanku diawali dengan huruf C (Caecilia).

Aku sih senang-senang saja dapat nomor urut agak awal. Tidak terlalu depan, tapi juga tidak buncit. Pokoknya pas. Dari antara angka 6 sampai 9, aku paling suka angka 7. Entah kenapa. Kayaknya pas aja. Yang agak lucu adalah nomor rumahku di Madiun mengandung angka 7, begitu pula dengan nomor rumah suamiku di Belitung sana. Jadi berasa benar-benar berjodoh, deh. Hihi. *Apa sih?* Jadi aku selalu merasa angka 7 adalah angka keberuntunganku.

Bulan ini angka keberuntunganku agaknya bergeser. Gesernya sedikit, yaitu ke angka 8 karena pada tanggal 8 kemarin aku ketiban hoki. Hari itu aku menjadi komentator ke 25.000 di blognya Mbak Imelda, Twilight Express. Hore… hore! Aku merasa beruntung sekali. Soalnya aku jarang sekali menang undian. *Rasa-rasanya aku kok belum pernah ya menang undian?* Seperti yang sudah-sudah, ketika Mbak Imelda kasih pengumuman hadiah untuk komentator ke-25.000, aku adem ayem saja. Laah… biasanya juga nggak menang. Dulu seingatku aku pernah ikut, tapi tidak menang. Dan aku seperti mengingatkan diriku sendiri bahwa aku bukan ratu undian. Maksudnya, kalau ada lomba, biasanya keberuntunganku jauh. Jadi, aku pun melipir dan melihat segala macam lomba (apa pun itu) dari kejauhan.

Tapi tanggal 8 kemarin entah kenapa aku kumat isengnya. Pagi itu aku melihat komentar TE sudah hampir mencapai 25.000. Seingatku sih masih kurang 10 atau berapa gitu. Lupa aku. Aku pikir, ah cobain deh. Mumpung masih pagi dan koneksi lagi lumayan. Kupikir tidak ada saingan. E… ternyata diam-diam Priskila juga sedang bergerilya. Ha ha ha! Tapi rupanya hari itu keberuntungan sedang berpihak padaku. 😀 😀 Ternyata seru juga saat meniti menjadi komentator ke-25.000. Deg-degan! Dan aku sempat mengingatkan diri sendiri supaya tetap kalem. Kalau tidak dapat, ya sudah. Nggak usah ngambek, hihihi. Toh ini cuma “permainan.” Harus diakui hal seperti ini seru banget. Dan top deh buat Mbak Imelda, selalu bisa saja menarik pengunjung ke TE. 🙂

Oiya, meskipun kemarin angka keberuntunganku agak bergeser, aku tetap suka angka 7. 😀 Kalau kamu, suka angka berapa?

Kenapa Ngeblog?

Belakangan ini pertanyaan itu sering muncul di kepalaku. Kenapa sih aku ngeblog?

Pertanyaan ini mengingatkanku pada masa-masa ketika aku belum punya blog dan baru senang blogwalking. Membaca blog-blog yang bertebaran di dunia maya itu menghiburku. Seperti mendengar cerita dari seorang teman. Padahal ya belum tentu aku kenal para pemilik blog itu. Sebagian besar malah aku tidak kenal. Lalu aku berpikir, kayaknya asyik juga ya punya blog, bisa menulis apa saja yang ada di kepalaku dan menuangkan apa yang selama ini cuma jadi ganjalan dan tertimbun di sudut-sudut hati. Lagi pula aku bukan orang yang pandai bicara untuk mengungkapkan isi kepala dan hati. Kalau pun aku bicara, belum tentu ada yang mau mendengarkan. Siapa yang betah dicurhati terlalu lama? Siapa yang mau mendengarkan ocehan tidak berguna? Dan lagi, dengan punya blog aku bisa belajar menulis. Kalau untuk nggambleh–bicara ngalor-ngidul–saja aku tidak jago, masak aku tidak bisa menuangkan pikiranku lewat tulisan? Lha apa gunanya pelajaran mengarang selama sekolah dulu dong? Hi hi.

Aku menulis pertama-tama untuk diriku sendiri; supaya isi kepalaku tidak terlalu penuh. Dan rasa-rasanya cara itu berhasil. Selama ini aku hanya sibuk berbicara dengan diriku sendiri;  dan pikiran itu akan muncul terus sebelum aku tuliskan. Ibarat perut yang jika isinya tidak dibuang secara teratur bisa membuat mules, pikiran yang terlalu penuh kurasa hanya akan membuat stres. Jadi, blog adalah salah satu sarana supaya aku tidak perlu membayar psikolog.

Selama blogwalking, aku senang ketika menemukan teman-teman yang tulisannya asyik. Asyik buatku belum tentu asyik buat orang lain. Aku senang jika menemukan tulisan-tulisan yang mengemukakan ide-ide unik, nyeleneh, atau sekadar cerita keseharian. Senang juga jika aku menemukan informasi atau bahan pembelajaran. Kalau buatku, bahan pembelajaran yang kumaksud lebih berkaitan dengan pekerjaanku. Beberapa penerjemah membuat blog dan membagikan tips penerjemahan atau meluweskan kalimat. Dalam hal ini memiliki blog bisa menjadi salah satu sarana untuk berbagi.

Saat blogwalking, aku menemukan beberapa macam blog. Ada yang isinya iklan, ada yang jualan, ada yang memenuhinya dengan resep makanan atau tips, resensi buku. Ada blog yang isinya curhat menye-menye, kata-kata penuh motivasi, cerita tentang keluarga atau pekerjaannya. Macam-macam. Aku sendiri lebih suka membaca blog yang tidak berisi iklan (entah yang terselubung maupun tidak). Biasanya kalau di blog tersebut mulai banyak iklannya, aku jarang menengoknya lagi. Mungkin karena blog sendiri isinya tulisan biasa, ya. Jadi, lebih karena merasa “tidak nyambung” atau bukan termasuk seleraku. Dan kupikir itu pilihan masing-masing pemilik blog. Blog itu ibarat tanah kosong, terserah mau didirikan apa di situ. Mau dibuat toko, sekolah, rumah, gedung serbaguna. Terserah. Blog-blog yang kukunjungi itu juga macam-macam jika ditilik dari pengunjungnya. Ada yang tampaknya sepi pengunjung, padahal tulisan dan tampilannya bagus. Tidak sedikit yang seperti itu. Mungkin pemilik blog itu jarang blogwalking (kaya aku hi hi 😀 :D). Ada pula yang tulisan atau isinya biasa saja tapi tampaknya ramai sekali–banyak komentarnya dan kadang-kadang ada tanggapan dari pemilik blog.

Aku sendiri tidak terlalu ambil pusing soal komentar. Wong niatku ngeblog itu utamanya untuk menghibur diri, ngudar rasa, dan latihan nulis, jadi komentar teman lain itu kuanggap bonus. Yang namanya bonus, pasti diterima dengan senang hati kan? Tapi kalau sepi komentar, ya tidak apa-apa. Setidaknya tujuanku yang pertama untuk ngeblog sudah terpenuhi. Wong aku juga kalau blogwalking tidak selalu meninggalkan komentar kok menuntut orang lain berkomentar. 😀 Tapi satu hal yang perlu aku sampaikan: aku senang dengan pertemanan yang terjalin lewat blog. 🙂

Kamu sendiri, kenapa ngeblog?

Rindu Bahasa Ibu dan Jumpa Blogger

Beberapa bulan yang lalu, aku mendapat email dari seorang kakak asramaku yang kini tinggal di Prancis. Dia menanyakan bagaimana caranya membuat blog. Katanya, dia rindu bisa menyampaikan pemikirannya dengan bahasa Indonesia. Ya, kira-kira begitulah. Meskipun dia sudah bermukim di sana belasan tahun dan menguasai bahasa Prancis, tapi dia merasa tidak sefasih orang lokal. Jadi, bisa kubilang dia merindukan bahasa ibunya.

Aku sendiri pernah mengalami hal semacam itu. Pertama kali aku pindah ke Jakarta, mendadak lidahku kangen mengobrol dengan bahasa Jawa. Tapi dengan siapa? Jelas aku tidak bisa bercakap-cakap memakai bahasa Jawa dengan suamiku. Aku menikah bukan dengan orang Jawa. Akhirnya, kerinduanku ini tersalurkan ketika aku bertemu dengan teman-teman bekas kantorku dulu, dengan temanku semasa SMP yang tinggalnya hanya selisih beberapa gang dari rumahku, dan … dengan beberapa pedagang di pasar. 😀 Lucu ya? Memang para pedagang di pasar tak jauh dari tempat tinggalku dulu banyak yang orang Jawa. Jadi, aku bisa bertransaksi dengan bahasa Jawa. Rasanya jadi lebih akrab. Padahal ya cuma beli kangkung, sawi, atau wortel. Dan aku biasanya jadi pelanggan para pedagang Jawa itu.

Aku dibesarkan di Jawa, di lingkungan yang hampir semuanya orang Jawa. Jadi, bahasa ibuku ya bahasa Jawa. Menurutku, aku lebih bisa memasukkan unsur “roso” (rasa) jika aku bicara dengan bahasa Jawa. Aku sulit menjelaskan soal ini. Gampangnya, bicara dengan bahasa Jawa itu seperti mengikutsertakan hati, begtu deh. Hehe. Dan salah satu akibatnya, aku jadi lebih akrab ketika bertukar pikiran atau bercakap-cakap ala kadarnya dengan orang lain dengan bahasa Jawa. Terlalu berlebihan kah? Entahlah. Tapi itulah yang kurasakan.

Dulu aku tidak terlalu merasakan kerinduan bahasa ibu sebelum menikah dan pindah ke Jakarta. Kerinduan bahasa ini semakin kurasakan ketika suatu kali aku ikut pulang suamiku ke Belitung. Di sana, para penduduk kebanyakan berbicara dengan bahasa Melayu dan di kalangan keluarga suamiku, mereka bicara dengan bahasa Kek. Akibatnya … aku plonga-plongo haha! Memang sih, aku masih bisa bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia. (Bahasa Melayu kan akarnya bahasa Indonesia, kan? Jadi banyak kesamaannya.) Tapi kok rasanya seperti kurang plong gitu ya? Nah, suatu kali aku bertemu dengan orang Jawa yang tinggal di Belitung. Dan serta-merta aku bicara dengan bahasa Jawa dengan orang tersebut. 😀

Pernah suatu kali aku saking “sakaw”-nya bercakap-cakap dengan bahasa Jawa, aku telepon orang rumah hanya agar bisa menyalurkan kerinduan lidahku itu. Kalau tidak, aku mengirim SMS kepada kakak atau temanku dengan bahasa Jawa.

Kini salah satu kebiasaanku selama tinggal di Jakarta adalah bicara dengan bahasa Jawa saat bertemu dengan sesama orang Jawa. Memang lalu tidak langsung pakai bahasa Jawa terus sih. Masih diselingi bahasa Indonesia. Dan satu hal lagi, aku sulit sekali mengadopsi pemakaian kata ganti “elu” dan “gue”. Entah kenapa, sulit sekali dan cenderung tidak bisa. Ya, pernah sih aku memakai kata “elu” dan “gue”, tapi itu jarang sekali.

Nah, Senin siang yang lalu (tgl 30 Juli), aku mendapat kesempatan bertemu dengan Donny Verdian (DV) di Pacific Place. Begitu dia datang, seketika aku langsung ingin bicara pakai bahasa Jawa dengannya. Dan memang rasanya canggung saat mengobrol pakai bahasa Indonesia dengannya. Tapi, tentu saja kami tidak bisa mengobrol pakai bahasa Jawa, karena selain dengan DV, ada Mbak Imelda, Joyce–istrinya DV, Odilia, dan kemudian suamiku menyusul bergabung bersama kami. Jadi, obrolan dengan bahasa Jawa tertunda dulu. Hanya jadi selingan. 🙂 Aku tidak ingin mereka yang tidak fasih bicara bahasa Jawa jadi bengong.

Aku senang bisa bertemu dengan mereka. Jujur saja, mereka adalah pendorongku saat aku kumat malasnya dalam ngeblog. Tahu sendiri kan, DV selalu bisa diandalkan posting setiap Senin dan Kamis–kecuali jika dia pamit hendak libur. Sedang Mbak Imelda? Jelas, dia rajin sekali nulis blog. Tulisannya di blog entah sudah berapa ribu. Dan barangkali aku mesti menggosok-gosok lampu ajaib supaya dapat bantuan jin cakep agar jumlah postinganku bisa menyaingi Mbak Imelda. 😀 😀

Saat sudah sore dan sudah mendekati jam buka puasa, kami hendak bubaran. Tapi, masih ada satu blogger yang kantornya tidak jauh dari tempat kami kopdar, yang sudah bersiap bertemu dengan kami. Siapa lagi kalau bukan Om NH? Ah, akhirnya setelah sekian lama, aku bisa bertemu dengan si Om penggemar bubur ayam ini. Lengkap sudah acara kopdar kami. Jadi, meskipun aku mesti meluangkan waktu di sela-sela usahaku untuk meringkus singa mati (baca: deadline/tenggat pekerjaan), rasanya tidak sia-sia karena kerinduan untuk bertemu mereka tuntas sudah! 🙂 Semoga aku tetap ingat untuk menambah tulisan di blog. Amin!

Dari kiri ke kanan: Om NH, DV, Mbak Imelda, aku.

Foto: didapat dari “nyolong” koleksi Mbak Imelda. (Pinjem ya Mbaaaak :))

Solitaire dan Sendiri

Pernah bermain solitaire? Kurasa bagi kebanyakan orang yang biasa berhadapan dengan komputer, permainan solitaire adalah permainan yang sudah diakrabi. Itu lo, game di mana kita mesti mengurutkan kartu dari As sampai King. Tapi kalau bicara solitaire, entah kenapa aku jadi ingat ketika bermain solitaire memakai kartu remi biasa. Dulu, ini adalah permainan yang rasa-rasanya cukup sering aku mainkan waktu di asrama–zaman kuliah dulu.

Begini, waktu di asrama dulu, komputer masih dirasa sebagai barang mewah. Waktu aku kuliah, komputer yang umum waktu itu sebutannya masih begini nih: 386 atau 486. Bingung kan? Hehehe… Itu sebutan untuk prosesornya. Kalau sekarang sih komputer sudah jauh lebih maju. Nah, karena komputer masih dianggap barang mewah, di asrama komputer masih dibatasi. Memang sih, di asrama ada komputer. Tapi itu pun dipakai oleh anak yang sudah skripsi. Dan kalau pakai, kita pun mesti bayar. Sistemnya seperti rental komputer, tapi Suster memberi harga lebih murah untuk sewanya dibanding kalau kita rental komputer di luar. Jadi, tak ada ceritanya main game di komputer. Kita memakai komputer memang untuk tugas kuliah saja. Lalu? Ya, akhirnya kita tidak terbiasa main game di komputer dong. Dan kartu remi menjadi salah satu “pelarian” untuk bersenang-senang bersama.

Memang sih, yang namanya asrama, pasti banyak teman kan? Masak mau main sendiri? Satu unit rata-rata isinya 4-8 orang. Jadi, mestinya tak perlu khawatir kesepian dan bisa main kartu remi ramai-ramai. Eit, tapi, jangan salah. Di asrama pun kita bisa sendirian di unit. Kok bisa? Aku ingat, saat malam minggu kadang bisa jadi saat yang tidak menyenangkan. Apalagi kalau tidak punya pacar, tidak ikut komunitas apa-apa, tidak ada teman yang mengajak ikut suatu kegiatan, malas ikut nonton tivi di ruang tamu, teman-teman seunit pergi (diapeli, pulang kampung, atau ikut acara di kampus), naaah … bisa kesepian tuh. Hihihi, kasiaaaan deh! Jadi, kadang di saat seperti itulah aku kadang bermain solitaire dengan kartu remi.

Tapi ngomong-ngomong soal solitaire, aku jadi ingat ketika pertama aku bepergian ke luar kota sendiri. Kapan itu? Waktu SD seingatku. Waktu itu, Mbah dari ibuku masih hidup dan tinggal di Jogja. Jadi saat liburan tiba, aku biasa berlibur ke rumah Mbah. (Waktu itu aku masih di Madiun). Karena kedua orang tuaku bekerja dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan, maka aku mesti pergi sendiri. Kadang sih ya aku pergi dengan kakakku, kadang ditemani pengasuhku, tapi ada kalanya aku pergi sendiri. Memang sih, waktu itu aku perginya naik travel. Jadi, tak perlu khawatir kesasar. Tapi ya, namanya pertama kali pergi ke luar kota sendiri, masih usia SD, rasanya deg-degan juga. Awalnya, Bapak yang menelepon travel, lalu menanyakan apakah masih ada jatah kursi untuk keberangkatan ke Jogja. Ternyata ada. Jadi, aku mulai mengepak baju-bajuku sendiri. Kupilih beberapa baju yang kusukai dan yang kubutuhkan, lalu kumasukkan ke dalam tas yang sudah disiapkan Ibu. Malamnya aku jadi susah tidur membayangkan perjalanan esok harinya. Aduh, jadi deg-degan betul! Aku membayangkan, besok sebelahku orangnya seperti apa ya? Bagaimana kalau travelnya ngebut? Bagaimana kalau sampai di rumah Mbah sudah malam (karena travel waktu itu mesti mengantar penumpangnya satu per satu, dan bisa jadi aku dapat jatah diantar paling terakhir)? Terus terang aku lupa bagaimana perjalanan pertamaku sendiri ke Jogja. Tapi rasanya aman-aman saja. Terbukti aku beberapa kali naik travel Madiun-Jogja pp. Kalau aku kapok atau mengalami kejadian tidak enak, pasti pengalaman itu tidak kuulangi kan? 🙂

Perjalanan sendiri ke Jogja dengan travel itu tidak menjadi perjalanan yang terakhir. Akhirnya aku jadi terbiasa pergi ke Jogja sendiri. Tapi kemudian, ketika aku sudah mulai kuliah, travel ke Jogja tidak menjadi pilihanku lagi, karena biayanya lebih mahal dibandingkan naik bus atau kereta api.

Jika perjalanan ke Jogja itu menjadi latihanku untuk mandiri, lalu hal apa yang tidak bisa kulakukan sendiri? Jawabannya adalah, pulang malam sendiri di Jakarta. Ketika awal aku akan pindah ke Jakarta, aku selalu berpikir bahwa aku bisa pergi sendiri, termasuk pulang malam sendiri. Yang kudengar waktu itu adalah, Jakarta kota yang selalu ramai, termasuk di malam hari. Dan saudaraku pernah mengatakan bahwa di malam hari pun selalu ada kendaraan umum. Jadi, tak perlu takut tak bisa pulang di malam hari. Tapi, waktu aku sudah di Jakarta, aku jadi berubah pikiran. Entah kenapa, aku merasa tidak nyaman jika pergi sendiri sampai malam. Padahal ya tidak sampai malam banget lo. Paling sampai pukul 8. Jika aku pergi sendiri, dan jam sudah menunjukkan pukul 8, aku jadi gelisah. Jadi, sebisa mungkin aku pergi siang hari. Dan kalaupun sampai malam, biasanya pulangnya aku janjian dengan suamiku atau minta dijemput. Itu pun sangat jarang, dan sebisa mungkin kuhindari.

Aku tak tahu kenapa kalau di Jakarta aku tidak bisa pulang malam sendiri. Padahal dulu, semasa di Jogja (dan sampai sekarang kalau aku di Madiun atau di Jogja), pulang malam bukan jadi hal besar bagiku. Di Jogja, rumahku ada di daerah utara dan kalau pulang aku mesti lewat daerah yang persawahan yang sepi. Tapi, kalau masih pukul 9 malam, aku bisa pulang sendiri tanpa minta dijemput kakakku. Bahkan, aku ingat, aku pernah pulang malam pukul 22.00 lewat, naik motor sendiri. Memang sih, aku tidak setiap hari pulang malam. Tapi setidaknya, aku merasa baik-baik saja jika memang harus pulang malam sendiri. Yah, ternyata sebuah kota membawa perubahan dalam diriku. Aku menyadarinya sekarang ….

Ngomong-ngomong, apa yang tidak bisa kamu lakukan sendiri? Dan apa pula yang bisa kamu lakukan sendiri? Yuk, berbagi cerita.

Tulisan ini diikutsertakan dalam perhelatan Giveaway: Pribadi Mandiri yang diadakan dua nyonya: Imelda Coutrier dan Nicamperenique. 😀