Sang Legenda

Sebelum mengunggah tulisan ini, aku melongok kamus sebentar. Karena tak punya KBBI (payah ya? kerjanya nguplek-uplek kalimat, malah tak punya KBBI :D), aku mengintip kamus Longman. Entah kenapa ya, aku malas beli KBBI. Agak panjang menjelaskannya, bisa jadi satu tulisan tersendiri deh.

Oke, jadi apa yang kutemukan dalam kamus Longman untuk kata legend yang diterjemahkan legenda dalam bahasa Indonesia?

Legend punya empat arti:
1 [countable] an old, well-known story, often about brave people, adventures, or magical events: the legend of Rip Van Winkle who slept for 100 years (Kisah kuno, yang sudah terkenal, kerap kali tentang orang yang pemberani, petualangan, atau peristiwa-peristiwa yang ajaib. Kalau di Indonesia, contohnya legenda Malin Kundang kali ya?)

2 [uncountable] all stories of this kind: Celtic legend (Semua cerita yang berjenis legenda)

3 [countable] someone who is famous and admired for being extremely good at doing something: Pele, Maradona, and other footballing legends (Orang yang terkenal dan dikagumi karena melakukan suatu hal yang luar biasa bagus)

4 [countable usually singular]
    a) literary words that have been written somewhere, for example on a sign: A sign above the door bore the legend `patience is a virtue’. (Kata-kata yang tertulis di suatu tempat, misalnya untuk suatu tanda.)

b) old-fashioned the words that explain a picture, map etc (ini untuk pemakaian kuno; yaitu kata-kata yang menjelaskan suatu gambar, peta, dll).

Untuk arti yang keempat ini sepertinya jarang dikenal ya? Aku tidak tahu berapa arti kata legenda dalam KBBI.

Nah, ceritanya hari Minggu yang lalu aku datang ke reuni asramaku, Syantikara. Eh, sebenarnya untukku istilah reuni agak kurang tepat. Kenapa? Karena kalau reuni berarti kita akan bertemu teman-teman lama kan? Padahal untukku tidak begitu, karena di acara itu aku justru bertemu orang-orang baru. Bingung kan? 😀

Jadi, reuni kemarin itu dihadiri oleh kakak-kakak asramaku yang angkatannya jauh di atasku. Aku angkatan paling muda di acara itu, dan cuma aku satu-satunya angkatan ’96. Yang angkatannya di atasku adalah Mbak Nana Lystiani, angkatan ’90. Jelas, aku belum pernah bertemu dengan kakak-kakak asrama itu. Bagaimana mau ketemu? Kebanyakan dari mereka masuk asrama pada tahun 80-an, sedangkan aku, tahun 80-an masih balita hehe. Lumayan jauh kan selisih umurnya? 🙂

Awalnya aku ragu, karena kok sepertinya teman-teman yang seangkatan denganku atau yang tak terlalu jauh selisih angkatannya tidak ada yang datang ya? Aku sebenarnya sudah sempat memberitahu temanku yang angkatan ’98 yang rumahnya tak jauh dari rumahku, tetapi dia tidak bisa datang. Jadi, yo uwis, aku datang sendiri sebagai wakil angkatan ’96. 😀 Tapi barangkali aku kurang gencar dalam memberi pengumuman ya? Maafkan aku ya teman-teman seangkatan ….

Sebenarnya yang mendorongku datang ke acara itu karena di acara reuni itu acara utamanya adalah memberikan dukungan kepada Kak Mimi yang akan dipindahtugaskan ke Sungailiat. Siapa Kak Mimi? Bagiku, Kak Mimi adalah seorang legenda di asrama kami. Sr. Ben, kepala asrama kami, beberapa kali menyebut namanya sebagai teladan anak asrama. Ya, Kak Mimi adalah hakim tipikor, yang di masyarakat biasa dikenal dengan nama Albertina Ho. Dia inilah yang menyidang Gayus, Cirus Sinaga, dan Anand Khrisna. Dari media massa yang kubaca, sepertinya Bu Allbertina Ho ini cukup disegani karena kelurusan dan ketegasannya. Dulu Sr. Ben pernah menceritakan bahwa ketika ia menjadi hakim, dia mendapat rumah dinas, dan rumah dinas itu masih belum ada perabotannya. Lalu ada pengusaha yang memberinya kursi tamu. Namun, pemberian itu ditolaknya. Kabarnya untuk kasus-kasus yang ditanganinya, Kak Mimi ini tidak pernah mau menerima sogokan. Di Indonesia, hal seperti ini agak aneh barangkali ya? Padahal, bukankah sudah semestinya demikian?

Aku datang ke acara reuni itu dengan nebeng Mbak Nana. Aku juga belum pernah bertemu dengan Mbak Nana sebelumnya. Iyalah, dia angkatan 90, aku 96. Anak asrama biasa tinggal di Syantikara 5 tahun, bahkan banyak yang belum genap 5 tahun sudah keluar dan kos di luar. Aku sengaja nebeng karena aku buta daerah yang akan dituju, BSD. Katrok ya? Tiga tahun di Jakarta, tapi belum pernah sampai BSD. Sebenarnya ada bus patas dari dekat tempat tinggalku yang sampai BSD, tapi daripada aku nyasar dan kebingungan di jalan, aku nebeng. Memang aku jarang pergi sendiri di Jakarta. Jadi, hanya sedikit tempat yang cukup akrab bagiku. Entah kenapa, ingatanku pernah nyasar di Jakarta masih membuatku takut. Hehe. Padahal kalau di kota lain, rasanya aku nggak setakut ini. Kayaknya sudah parno duluan bakal dijahati sama orang asing. Dan aku pun ke acara itu diantar suamiku. Hihihi. Soalnya, ya takut kalau nyasar. Jadi, aku datang ke rumah Mbak Nana di daerah Slipi dan bertemu dengan Rheiner, putranya yang berumur 2,5 tahun. Rheiner ini menggemaskan, suka main mobil-mobilan, dan cukup hapal beberapa macam mobil. 🙂

Oke deh, sampai di sana aku bertemu dengan mbak-mbak yang belum pernah kutemui. Tapi mereka baik-baik dan ramah sih. Jadi, aku tak merasa asing banget. Memang jadinya aku sempat membayangkan, kalau ketemu teman-teman seangkatan, pasti lebih seru lagi. Hehe. Mbak Lilis yang punya rumah langsung menyuguhi tekwan yang yummy! Dan di situ tersedia banyak makanan enak yang membuatku kekenyangan dalam waktu singkat.

Suasananya saat itu benar-benar mengingatkan pada asrama. Semua tampaknya dalam mood yang riang. Semacam acara rekreasi zaman asrama dulu. (Rekreasi adalah acara sebulan sekali di asrama, di mana para warga diwajibkan hadir semua. Acaranya biasanya di ruang tamu, duduk di bawah, mengobrol, makan bersama, dan suster biasanya akan memberikan wejangan atau beberapa informasi.) Di sudut kulihat Kak Mimi sedang mengobrol. Aku sempat berkenalan sebentar. Dan rasanya geli waktu menyebut aku angkatan 96. Kak Mimi angkatan 79, itu berarti aku masih berusia setahun waktu dia masuk kuliah. 😀

Setelah semua makan, Mbak Emil meminta kami semua berkumpul. Kami pun duduk melingkar. Kak Mimi duduk di tengah-tengah, lalu dihadapkan dengan Mbak Anas (Anastasia Mustika Widjaja) dan Mbak Lilis (Maria Noerlistijaningsih) Ceritanya kaya di ruang sidang. Setelah haha-hihi sebentar, Kak Mimi pun bercerita pengalamannya saat menyidang Gayus. Seru deh. Begitu pun dia juga bercerita tentang alasan dia menetapkan hukuman 7 tahun bagi Gayus juga bagaimana ia diputuskan untuk dipindah ke Sungailiat. Kami menyimak cerita Kak Mimi dengan serius. Dari ceritanya, kutangkap Kak Mimi orang yang memegang prinsip, tegas, dan berani. (Khas Syantikara kah? :D)

Acara ini ditutup dengan berfoto di tangga rumah Mbak Lilis. Kalau dulu di asrama kami suka berfoto di tangga belakang unit UGAL, sekarang tangga di depan rumah Mbak Lilis, dijadikan tempat berfoto juga. 🙂

Aku senang bisa datang ke acara reuni itu. Aku merasa, Syantikara ini seperti keluarga besar yang kompak sampai sekarang. Dan jika melihat cukup banyak eks Syantikara yang datang di acara itu, aku merasa betapa kedekatan yang timbul saat tinggal di Syantikara masih terasa sampai sekarang. Menurutku, Syantikara bagaikan rumah kedua tempat kami semua bisa belajar tentang pentingnya kebersamaan dan menjadi satu keluarga. Dan aku senang bisa bertemu serta berkenalan dengan sang legenda, Kak Mimi. 🙂

Semoga sukses di tempat tugas yang baru, Kak Mimi. Kami semua mendoakanmu.

Berikut ini tautan tentang “sang legenda”:
http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/09/21/136336/Albertina-Ho-Srikandi-Pengadil-yang-Tegas

http://www.detiknews.com/read/2011/09/21/153324/1727448/608/hakim-albertina-ho-tak-tergiur-mercedes-benz

Advertisements

Lelang … Lelang (Sebuah catatan iseng)

Kemarin sore, suamiku membawa Koran Tempo (terbitan 12 Agustus 2010). Setelah membaca beberapa beritanya, sampailah aku pada bagian yang memuat daftar lelang (halaman D, berita lelang). Di situ dimuat daftar tender apa saja yang dilelangkan. Biasanya aku tak terlalu memperhatikan daftar semacam itu. Tapi kemarin aku iseng-iseng membacanya, dan ada beberapa hal yang membuatku bertanya-tanya sekaligus geli. Empat kutipan di bawah ini kukutip dari lelang suku dinas pendidikan untuk wilayah Jakarta Barat .

1. Pengadaan alat pemeriksa Lembar Kerja Siswa SD/SMPN: Rp 983.999.500 (hampir 1 milyar)
Di bagian klasifikasinya tertulis:alat/peralatan/suku cadang: komputer. Kalau kupikir-pikir pemeriksa LKS itu cukup nggak sih kalau berupa bolpen, pensil, tip-ex, penghapus “saja”? Kalau alat-alatnya seperti itu, uang 1 milyar rasanya bisa untuk beli alat tulis berkarung-karung. Apalagi kalau beli banyak kan mestinya bisa dapat diskon besar.

2. Pengadaan bio camera multimedia microscope system: Rp 3.154.228.000 (3 milyar sekian…)
Ini barangnya kayak apa ya? Mahal juga.

3. Pengadaan kit matematika SD: Rp 2.351.250.000 (2 milyar sekian…)
Kit Matematika 2 milyar. Itu berupa apa saja? Kalau pakai kertas untuk oret-oretan, bolpen, pensil, penghapus, plus berbatang-batang lidi untuk hitung-hitungan, bagaimana ya?

4. Pengadaan peralatan multimedia interaktif mengenal budaya nusantara untuk SD, standar depdiknas, nasional dan internasional.: Rp. 3.448.664.230 (hampir 3,5 milyar)
Bayanganku nih, peralatan multimedia interaktif itu yaaa … komputer, software. Hmm… apa lagi ya?

Nah, sekarang coba bandingkan dengan daftar lelang berikut ini.
1. Pengembangan sarana PAM di desa rawan air. Lokasi Nagari Silago, kabupaten Damasraya, Sumatera Barat: Rp. 249.591.000
Pengembangan sarana PAM “hanya” dua ratus jutaan? Yang benar saja. Masak lebih murah dibandingkan dengan pengadaan kit matematika SD, sih?

2. Pembangunan Jembatan Sawangan, Sulawesi Utara: Rp. 1.400.000.000
Kok rasanya tidak beda jauh dengan pengadaan alat pemeriksa LKS ya?

3. Pengadaan naskah kuno dan transliterasi naskah kuno: Rp. 1.072.540.000 (1 milyar lebih sedikit)
Lah kok sedikit banget ya kalau dibandingkan dengan pengadaan peralatan multimedia? Pantesan saja kalau naskah-naskah kuno kita diambil oleh negara asing.

Rasa-rasanya aku mau usul, bagaimana kalau ditambah pengadaan kantong ajaib Doraemon? Mungkin jatuhnya akan lebih murah. 😀

Mungkin aku ini memang kurang kerjaan. Wong daftar lelang saja kok ya diurusi. Lagi pula, aku juga tidak mungkin ikut lelang. Duit dari mana? Dari Hongkong? Atau, barangkali aku yang benar-benar tidak tahu hitung-hitungan lelang semacam itu? Ah, sebodo deh! Namanya juga lagi iseng.

Kantor Pos: Riwayatmu Dulu

Ketika masih SD, aku dan kakakku berlangganan majalah anak-anak. Kadang selama beberapa periode, kami berlangganan Bobo; jika bosan, kami berganti berlangganan Ananda. Suka-suka saja sih. Salah satu kolom yang sering aku tengok di kedua majalah itu adalah kolom Sahabat Pena. Kadang aku mencari-cari, adakah anak yang sekota denganku? Lalu, siapa ya yang seumuran denganku? Adakah yang ulang tahunnya sama denganku? Hehe, ada-ada saja ya pikiranku saat itu. Dan waktu itu, aku sempat punya sahabat pena. Aku tidak ingat, kriteria apa yang kupakai waktu memilih sahabat pena waktu itu. Sepertinya sih asal saja.

Aku pun rajin menulis surat. Jika surat balasan sudah kuterima, aku akan segera membalasnya. Dan waktu itu, aku tidak saja berkirim surat dengan sahabat penaku, aku juga bersurat-suratan dengan kakak sepupuku yang ada di Jepara. Nah, sejak itu, urusan ke kantor pos untuk membeli perangko dan mengirim surat pun menjadi suatu kegiatan tersendiri. Karena kantor pos cukup jauh dari rumahku (dulu sih rasanya cukup jauh, tapi kalau sekarang kok rasanya dekat ya?), aku kadang membeli beberapa perangko sekaligus, jadi kalau mau mengirim surat, aku cukup ke kotak pos yang tak jauh dari rumahku. Masa-masa itu adalah pengalaman pertamaku berhubungan dengan kantor pos.

Pak pos pun menjadi sosok yang aku tunggu-tunggu. Jika dari balik jendela ruang tamu kulihat Pak Pos datang dengan sepedanya, aku akan segera ke depan. Tak jarang, surat diselipkan di sela pintu ruang tamu.

Relasiku dengan kantor pos memang hanya sebatas pengiriman surat. Relasi itu terus berlangsung sampai aku kuliah di Jogja. Dulu aku masih berpikir, kalau kirim surat, ya pakai jasa pos. Aku tidak pernah terpikir untuk memakai jasa kurir yang lain. Tapi ketika aku sudah bekerja, kantorku punya langganan sebuah jasa kurir. Waktu itu aku baru tahu, bahwa mengirim surat dengan jasa kurir bisa juga (hahaha! telmi ya aku :p), dan harganya pun tak jarang lebih murah dibandingkan jasa pos biasa. Karena sudah langganan, pengiriman ke Jakarta dari Jogja, biayanya sekitar 3000 rupiah (atau malah kurang ya?). Eh, tapi itu dulu lo (sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu), sekarang sih sudah naik. Dan kiriman bisa sampai dalam waktu sehari. Dibandingkan dengan kantor pos, tentu jauh beda pelayanannya.
Meskipun aku tahu untuk mengirimkan surat atau barang bisa menggunakan jasa kurir, aku sampai dua bulan yang lalu, masih memakai jasa kantor pos. Yaaa, walaupun aku sering mendengar bahwa kantor pos kurang bagus pelayanannya, aku tetap memakai jasanya. Soalnya bisa dikatakan, aku hampir tak pernah dikecewakan dengan jasa pos. Hanya untuk pengiriman yang butuh waktu cepat aku memakai jasa kurir.

Tapi pengalamanku beberapa waktu kemarin membuatku berpikir seribu kali untuk memakai jasa pos lagi. Ceritanya, waktu itu aku hendak mengirim paket ke temanku di Madiun. Seperti biasa, aku hendak memakai jasa pos karena kantor pos cukup dekat dengan tempat tinggalku dan kupikir, menurutku tarifnya pun agak lebih murah dibandingkan jasa kurir. Setelah ditimbang, paketku beratnya, persis 1kg.
“Berapa, Bu?” tanyaku menanyakan ongkos yang harus kubayar.

“Empat puluh tiga ribu!” Jawaban ibu pegawai kantor pos itu hampir membuat jantungku copot. Lha kok mahal sekali? Padahal persis sebulan sebelumnya, aku mengirim paket ke Jogja, dengan berat dan jenis pelayanan yang sama, aku hanya membayar 12 ribu. Jadi, perkiraanku, kalau ke Madiun paling hanya 15 ribu. Kenapa sekarang jadi mahal sekali?

Dari pegawai kantor pos, aku mendapat informasi bahwa pengiriman paket yang kurang dari 2kg, dihitung sebagai surat. Selanjutnya, pihak kantor pos akan menggunakan perhitungan secara gram (bukan kilogram). Nah, sekarang ongkos per gramnya sudah naik.
Mendengar hal itu, aku tidak jadi menggunakan jasa pos. Aku kemudian memakai jasa kurir. Dan ternyata, ongkosnya jauh lebih murah. Jika kantor pos mematok harga 43 ribu, di kurir yang kupilih itu, ongkosnya sekitar 13 ribu. Bayangkan, selisihnya sampai 30 ribu! Dan lagi, entah mengapa bagiku mengirim barang lewat kurir rasanya lebih terpercaya.

Sekarang, untuk pengiriman barang atau surat aku lebih memilih jasa kurir. Selain tarifnya lebih murah, lebih terjamin, dan aku bisa mengirimkan barang tidak terbatas pada jam kerja saja.

Aku tak tahu apa yang bisa dilakukan kantor pos agar bisa bersaing dengan lebih baik. Coba pikir, dengan adanya internet, pengiriman surat via pos bisa jauh berkurang. Berkirim surat elektronik terasa lebih hemat dan nyaman. Padahal dulu orang mengandalkan pos untuk berkirim surat. Nah, lalu apa ya yang bisa dilakukan PT POS supaya orang tetap menggunakan jasanya? Mau tak mau kantor pos harus melakukan perubahan. Tapi, terus terang aku tak punya solusi.

Sebenarnya aku pikir kantor pos bisa bersaing dengan jasa kurir yang lain. Dengan jaringannya di seluruh Indonesia, (bahkan sampai ke pelosok-pelosok) PT Pos mestinya bisa memberikan pelayanan yang lebih unggul. Tetapi, kenapa ya kok sepertinya jadi kalah saingan? Sangat disayangkan, sebenarnya ….

Ketemu Presiden SBY di Metromini?

Sudah setahun lebih aku tinggal di Jakarta. Judulnya ikut suami. Ya, begitu menikah aku langsung memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku di Jogja lalu langsung ngibrit mengikuti suami yang bekerja dan kuliah di ibu kota ini.

Seperti layaknya penghuni baru sebuah kota, aku mesti beradaptasi. Dari yang dulu tinggal di kampung yang sepi, sekarang mesti tinggal di sebuah perkampungan yang cukup padat. Dari yang dulu di mana-mana bisa bicara dengan bahasa Jawa dengan banyak orang, sekarang mesti berbahasa Indonesia. Dan di Jakarta ini bahasa Indonesianya adalah bahasa Indonesia yang gaul, yang lu-gue itu loh! Sumpah, sampai sekarang aku tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia ala Jakarta yang disebut gaul oleh banyak orang. (Sebenarnya aku bingung, apa maksudnya gaul dalam hal ini.) Lalu, salah satu adaptasi yang kurasa cukup signifikan adalah dari aku yang dulu ke mana-mana naik sepeda motor, sekarang ke mana-mana harus mengandalkan kendaraan umum.

Ampun!

Bagiku, ke mana-mana naik kendaraan umum adalah adaptasi yang butuh waktu lama. Sepertinya sampai sekarang aku juga masih adaptasi. Nggak pinter-pinter nih. Jadi, ceritanya begini, kalau naik motor sendiri, aku bisa langsung memperkirakan, kalau mau ke suatu tempat, umpamanya mau ke X tuh cuma butuh waktu ya, kira-kira 15 menit lah. Tapi begitu aku harus naik kendaraan umum, ternyata perkiraanku salah! Bisa setengah jam, bisa 45 menit. Dan di sini, perjalanan yang memakan waktu satu jam itu dibilang dekat. Doooh! Mau tahu kenapa bisa begitu? Karena kendaraan umum itu–entah mikrolet, metromini, atau KWK–tak bisa ditebak. Kadang mereka ngetem, kadang jalannya seperti keong, kadang nggak segera muncul, kadang ngebut nggak karuan. Aku sering geregetan kalau sudah begini. Pengin tak sopiri sendiri–sayangnya nggak bisa.

Salah satu kendaraan umum yang sering kupakai jasanya adalah metromini. Itu loh, bus yang warnanya oranye, yang kadang seperti keong tetapi juga suka ngebut itu. Di jam-jam orang berangkat dan pulang kantor, bus oranye jelek itu sering penuh. Penumpangnya kadang terpaksa harus merasa deg-degan karena berdiri di tepi pintu. Dan si sopir yang entah belajar nyopir di mana itu, dengan seenak udelnya terkadang mengerem dan mengegas busnya dengan mendadak. Biyuh… biyuh!

Selain metromini, kendaraan umum lain yang kadang kupakai adalah TransJakarta (TJ). Nah, naik TJ ini ada triknya. Kalau mau nyaman, jangan naik di jam berangkat dan pulang kantor. Lalu, kalau bisa, naiklah di halte pemberangkatan, misalnya di Dukuh Atas, Harmoni, atau Pulogadung karena di situ kita masih bisa mendapatkan tempat duduk, atau mencari tempat berdiri yang cukup nyaman. Nah, yang menyebalkan adalah jika kita buru-buru, dan TJ yang kita tunggu-tunggu tidak muncul. Atau kalaupun dia muncul, lewat begitu saja–tidak mengangkut penumpang yang sudah merindukannya di halte.

Ah, ya … memang naik kendaraan umum di Jakarta ini bisa menimbulkan banyak kesan–dan kadang menjengkelkan. Tapi tahu nggak, selama aku di Jakarta, belum pernah sekalipun aku bertemu Presiden SBY di metromini atau TJ. Ha ha! Mimpi kali yeee? Ya, memang mimpi. Ya jelas tidak mungkin Pak SBY ikut berjejal-jejal di dalam metromini. Dia juga mungkin tidak perlu menembus banjir yang sepertinya belakangan ini mulai berakrab-akrab dengan warga Jakarta. Dia tak mungkin ikut bergelantungan di dalam KRL yang padat. Dia tak mungkin duduk bersebelahan dengan sopir metromini yang sepertinya tak pernah mandi dan terus menerus merokok itu.

Aku cuma berangan-angan, seandainya, seandainya lo ini, jika Pak SBY itu ikut berjejal-jejal di dalam metromini selama sebulan saja, apakah dia bisa mengeluarkan kebijakan yang lebih baik ya? Setidaknya dia ikut merasakan bahwa sebagian besar rakyatnya ini tidak melulu hidup enak. Itu lo, seperti cerita masa kanak-kanak yang menceritakan ada raja yang menyamar dan tinggal bersama rakyatnya. Lalu usai menyamar ia membuat kebijakan yang menguntungkan rakyat kecil, dan ia akan semakin dicintai rakyatnya. Dalam bayanganku raja itu bijaksana sekali. Tapi rasanya nggak mungkin ya Pak SBY itu bertindak seperti raja yang bijaksana? Kupikir-pikir mengapa pemerintah kita sepertinya tidak mengurusi rakyat dan tidak bisa membuat kebijakan yang signifikan, kurasa adalah karena mereka sudah lupa bagaimana rasanya jadi rakyat biasa. Jika para pejabat itu sama-sama ikut menderita bersama rakyat, mungkin akan lain ceritanya. Jadi, bertemu dengan Pak SBY di metromini? Mimpi kali yeee …!

Korupsi Itu …

Berapa tarif parkir di Jogja? Dulu, seingatku parkir motor cuma 300 rupiah. Tapi itu seingatku sudah lamaaa sekali. Lalu naik jadi 500 rupiah. Hmm, oke. Tak masalah.

Namun, aku ingat betul pernah ngeyel dengan seorang tukang parkir saat dia meminta lebih dari 500 rupiah.

“Loh, di karcisnya kan tertulis 500 rupiah, Mas?” tanyaku. Plus nada jengkel.

“Iya, tapi sekarang 1000 rupiah,” katanya. Ngotot dia juga.

“Di tempat lain masih lima ratus, Mas,” kataku lagi.

“Ini kan jalan Solo Mbak!”

Huh! Bayangkan, hanya karena kita parkir di sekitar tempat perbelanjaan, tarif parkir jadi lebih mahal. Menyebalkan. Oke, jika memang tarifnya seribu, mestinya ada aturan tertulisnya dong. Ini tidak, lo. Bahkan seingatku di beberapa jalan besar di Jogja, ada papan yang bertuliskan berapa tarif resmi untuk parkir sepeda motor. Tetapi kenyataannya? Tarifnya berlipat.

Sekarang ini kasus korupsi sedang marak. Sampai-sampai ada istilah cicak dan buaya. Di FB banyak orang yang memposting status seputar kasus korupsi ini. Ada yang memasang link berita, ada yang cuma menyuarakan pendapatnya.

Hal ini membuatku bertanya-tanya, kenapa ya kasus korupsi ini sepertinya alot banget ya? Sebagai orang bodoh dan tidak punya jabatan apa-apa, aku heran, apa susahnya menangkap koruptor? Kurasa rekaman yang kemarin diputar itu hanya salah satu bukti. Pasti ada dong bukti-bukti lain. Tetapi kok tidak segera dilakukan tindakan sih? Bahkan kesanku klemar-klemer alias lambat dan tidak ada ketegasan. Ah, embuhlah …

Tapi kurasa, korupsi ini hanya sebuah puncak gunung es. Maksudku, ada banyak hal yang jauh lebih besar yang mendasari korupsi ini. Tak usah jauh-jauh, barangkali hal-hal kecil seperti menarik uang parkir lebih besar itu juga menyumbang terjadinya korupsi yang besar sampai berjuta-juta atau bermilyar-milyar itu. Ini masalah mental bangsa ini, kupikir. Kalau bisa mengambil untung lebih banyak, kenapa tidak? begitu barangkali prinsipnya (CMIIW). Yang aku herankan adalah, kenapa ya mulai dari tukang parkir, pak RT, sampai orang-orang gedean di atas sana sepertinya sudah menganggap biasa penyelewengan uang?

Dulu, waktu aku masih di asrama, suster kepala asrama selalu mengingatkan kami untuk berhati-hati dalam hal uang. Dan salah satu petuah suster yang aku ingat adalah jika ada teman yang menitip belanja, jangan lupa berikan semua uang kembaliannya. Walaupun uang kembalian cuma 50 rupiah, itu harus dikembalikan. Uang kecil yah kelihatannya? Tetapi uang seribu tak akan jadi seribu jika kurang 50 rupiah kan? Nasihat suster itu selalu kuingat sampai sekarang. Dan kupikir, hal kecil seperti itu bisa mengatasi adanya korupsi deh. Korupsi kan intinya penyelewengan uang untuk kepentingan pribadi.

Ah, sebenarnya aku mau ngomong apa sih? Aku cuma bertanya-tanya, jika benar-benar korupsi ini dilenyapkan dari bumi Indonesia, apakah semua orang siap? Kalau aku sih seneng-seneng saja. Tapi bagaimana dengan orang yang sudah biasa mengambil uang yang bukan haknya? Jangan-jangan korupsi itu adiksi ya? Apakah orang yang demen korupsi itu kalau tidak korupsi jadi sakaw? …

(Ah, ini bener-bener postingan yang nggak mutu deh kayaknya. Muter-muter nggak jelas. Sorry buat yang baca …Hehehe.)

Pak RT-ku Menyebalkan Sekali

Aku tak ingat kapan pertama kali aku harus berurusan dengan Pak RT. Kalau tidak salah saat aku berumur tujuh belas tahun dan harus membuat KTP. Saat itu satu per satu temanku di sekolah sudah memiliki KTP. Dan ketika masuk bulan Juni 1995 … taraaaa … akhirnya tiba saatnya bagiku untuk mengurus KTP. Yihaaa!!! Tapi … tapi bagaimana caranya?

Kata ayahku pertama-tama harus meminta surat pengantar ke Pak RT.

“Berani kan ke Pak RT sendiri?”

Aku cuma ndomblong … terdiam dan mulai membayangkan harus berjalan dari rumahku ke rumah Pak RT. Rumah Pak RT itu terletak di sebuah gang tak jauh dari rumahku. Tapi jujur saja, aku tak suka menyusuri gang. Kenapa? Karena sepertinya semua orang yang rumahnya di gang itu akan memandangku, lalu mereka akan berbisik-bisik satu sama lain membicarakan aku. Oh, memang kedengarannya lebay ya? He he. Tapi bagi seorang anak pemalu seperti aku, aku memang tak suka menjadi pusat perhatian. Dan menurutku—sorry, ini mungkin subyektif sekali—orang-orang di daerah yang cukup padat penduduknya itu, seperti di dalam gang-gang sempit, sering kali terlalu berlebihan saat melihat orang lewat. Lalu aku harus menebar senyum ke sana ke mari kepada orang-orang yang sedang duduk-duduk santai di gang itu.

Membayangkan hal itu, aku pun menggeleng menjawab pertanyaan ayahku tadi. “Diantar Bapak ya?”

“Harus berani. Wong sudah besar kok ke Pak RT sendiri tidak berani.”

Idih, pakai menyebut-nyebut “sudah besar” segala. Dan itu berarti memang aku harus ke Pak RT sendiri. Tak akan ada yang mengantar.

“Tapi aku tidak tahu rumah Pak RT,” kilahku. Siapa tahu dengan begitu, aku tak harus sendiri ke sana.

“Nih, Bapak gambarkan ya.”

Mampus deh! Benar-benar harus ke Pak RT sendiri nih kalau Bapak sudah mulai menggambarkan denahnya.

“Kamu tahu gang di sebelah selatan situ kan?”

Aku mengangguk dengan enggan.

“Nanti kamu jalan masuk ke situ. Lalu kira-kira lima puluh meter kemudian, akan ada jalan kecil ke kanan.” Wih, masih masuk-masuk lagi rumahnya? pikirku. “Kamu masuk ke situ dan tak jauh dari situ akan ada pagar kecil. Nah, kamu masuk saja ke situ,” kata Bapak mengakhiri menggambar denah.

“Susah amat sih, Pak?” kataku. “Kalau nggak ketemu bagaimana?”

“Kalau nggak ketemu, tanya orang sekitar situ. Pasti mereka tahu.”

Oh, oh … rasanya seperti harus memulai sebuah petualangan ke sebuah pulau terpencil. Dan sungguh, aku yang pemalu ini tak suka jika harus melakukan semua itu sendirian. Tapi kalau tidak begitu, aku tak akan punya KTP dong.

Dan setelah berdiri di depan cermin agak lama untuk latihan mengucapkan kalimat pembuka di depan Pak RT, aku pun melangkahkan kaki ke rumah Pak RT.

Seperti yang sudah kuduga, saat memasuki gang itu aku harus menebar senyum ke sana ke mari. Lalu menjawab pertanyaan basa-basi: “Mau ke mana?”

Akhirnya aku dengan sukses menemukan rumah Pak RT. Memang mudah kok menemukan rumahnya. Tadi aku saja yang terlalu khawatir bin takut. Ha ha ha.

Pengalaman mencari rumah Pak RT itu tidak serta merta melunturkan rasa malasku untuk berhubungan dengan Pak RT plus birokrasinya. Tapi sepanjang pengalamanku ketika di Madiun dan di Jogja, Pak RT cukup baik dalam membantuku dalam mengurus surat-surat seperti KTP.

Tapi ketika di Jakarta ini, aku rupanya agak sial. Pak RT di daerahku itu sangat menyebalkan menurutku. Ceritanya begini, ketika suamiku harus mengurus KTP untuk keperluan kerjanya, mau tak mau dia harus mengurus KTP baru. Karena dari daerah, dia sudah mempersiapkan surat pindah. Tahu lah, surat-surat ala birokrasi yang berlembar-lembar itu loh …. Dan memang seperti itu kan caranya untuk mengurus KTP di tempat yang baru?

Seperti pengalamanku, aku kemudian mencari Pak RT untuk mendapatkan surat pengantar untuk mengurus KTP. Tapi coba tebak apa kata Pak RT?

“Lewat saya saja, bayar 250 ribu. Nanti minggu depan sudah jadi kok.”

“Pak, saya mau mengurus sendiri saja,” kata suamiku. Lagi pula, masak ngurus KTP kok sampai 250 ribu sih? Mahal amat! Bukannya di Jakarta ini, mengurus KTP gratis? Seperti yang ditulis di surat-surat kabar itu lo. Dan tampaknya Pak RT itu sudah bisa membaca gelagat kami bahwa harga 250 ribu untuk sepotong KTP ibu kota terlalu mahal.

“Kalau kalian mau mengurus sendiri, sama saja. Nanti di kelurahan juga akan dimintai uang.”

Jadi, dengan kata lain mau tak mau urusan KTP ini harus lewat dia, dan Pak RT tak akan memberikan surat pengantar. Pak RT yang aneh, pikirku. Aturan dari negara mana sih minta surat pengantar bikin KTP ke kelurahan saja kok tidak diberi?

Akhirnya, dengan hati dongkol kami mengangsurkan uang sejumlah 250 ribu kepadanya. Uang itu cukup untuk membuat KTP baru Jakarta dan pembuatan Kartu Keluarga untuk satu orang. Dan karena yang sedang membutuhkan KTP Jakarta adalah suamiku, jadi cukup dia saja yang menyetor uang. Sedang aku? No way! Selama masih jadi kontraktor alias masih pindah-pindah tempat tinggal, rasanya aku tak rela memberikan uang yang cukup banyak itu kepada Pak RT yang menyebalkan itu. Bodo amat deh soal KTP. Dan tahu nggak, begitu menerima uang itu, Pak RT dan istrinya yang dari tadi menemaninya, langsung mesam-mesem dan nada suaranya menjadi ramah. Dasar mata duitan, pikirku.

Aku tak tahu ke mana harus mengadu soal mahalnya mengurus KTP di Jakarta ini. Moga-moga saja dengan menuliskan pengalaman di blog ini, ada yang memberiku “pencerahan” bagaimana menghadapi penindasan yang semena-mena oleh Pak RT kampungan itu.