Pelajaran dari Sebuah Pohon

Saat aku ke Belitung beberapa waktu yang lalu, aku melihat pohon yang tumbuh pada batu besar.

Menurutku, pohon ini menarik. Kenapa? Karena dia ulet dan pantang menyerah. Akarnya bahkan bisa menembus batu. Hebat ya? Dan dia melakukannya dalam diam. Tapi dia terus berusaha. Seandainya dia mengeluh dan putus asa di saat-saat awal, tentu dia tidak akan sebesar sekarang.

Pohon ini betul-betul menginspirasi aku.

Advertisements

Main-main ke Biliton

Ini postingan delay, sebetulnya. Ceritanya sudah agak basi kalau menurut ukuran waktu. Tapi tak apalah, daripada tidak cerita sama sekali.

Ceritanya, awal bulan ini aku bersama suami pulang ke rumah mertua, ke Tanjung Pandan, Belitung. Kalau orang sekarang menyebutnya, Negeri Laskar Pelangi. Ya, kebetulan suamiku lahir dan besar di sana. Jadi, kota itu termasuk “rumah” bagi kami.

Sebelum kenal dengan suamiku, aku sebetulnya sudah cukup akrab dengan nama “Biliton”. Itu adalah salah satu nama jalan di Madiun, kota kelahiranku. Semasa kecil aku punya teman yang tinggal di jalan itu. Hampir setiap hari aku dulu main ke rumahnya. Lalu ketika SMA, sekolahku juga terletak di jalan itu. Tapi, aku sebetulnya tidak tahu di mana letak Pulau Biliton di peta Indonesia. Memang, pas pelajaran peta buta, nilaiku hancur. Payah deh! Dan aku juga tidak tahu jika Biliton ini nama lain dari Belitung. Biyuh! Bukan orang Indonesia yang baik, ya? (Kakak sepupuku mungkin akan bertanya, “Kalau pulau itu diklaim bangsa lain, jangan-jangan kamu juga nggak tahu.”) Tapi semenjak kenal dengan suamiku, aku jadi tahu, “Oh, di situ to Belitung.” Pulau Biliton atau Belitung ini terletak di ujung selatan Pulau Sumatera. Buka peta, ya! 🙂 Orang biasanya menyebutnya Kepulauan Bangka-Belitung, karena kedua pulau ini tetanggaan.

Oya, satu lagi cerita tentang Belitung. Suatu aku mau mengirim barang ke Belitung. Waktu aku datang ke kantor kurir swasta, aku tanya ke petugas, “Kalau mau kirim barang ke Belitung bisa nggak?” Petugas itu lalu membuka daftar kota-kota yang mereka layani. Setelah meneliti daftar itu, dia menjawab, “Wah, ekspedisi kami tidak sampai ke sana.” Weladalah! Padahal pulau itu cuma “sak nyukan” dari Jakarta. Lalu aku tanya lagi, “Kalau Tanjung Pandan?” Dilihatnya lagi daftar miliknya. “Oh, bisa.” Hahahaha! Lha padahal Tanjung Pandan itu letaknya di Pulau Belitung. Yak, begitulah orang Indonesia, kurang mengenal wilayah negaranya sendiri. Sayangnya, kejadian semacam ini tidak hanya sekali. Setidaknya dua kali aku mendapat jawaban serupa itu.

Belitung ini mulai terkenal sejak novel Laskar Pelangi (LP) terbit. Saat itulah banyak orang membicarakan novel ini dan mulai tayang filmnya. Saat itulah pertama kali pula aku mengunjungi pulau ini. Jadi, meskipun aku tidak tuntas membaca novelnya, aku sudah menginjakkan kaki terlebih dahulu ke sana. Kesanku pulau ini cantik. Pantai-pantainya indah. Dan karena pulau ini tidak terlalu besar, kita bisa menjangkau pantai dengan mudah. Akses jalannya bagus. Aspalnya mulus. Tapi karena di sana ada saudara, jadi kami kalau ke pantai naik mobil punya saudara. Kurasa sih sekarang sudah mulai banyak agen-agen pariwisata yang menyediakan jasa kendaraan.

Wisata Pantai

Wisata yang ditawarkan Belitung kebanyakan adalah pantai. Pantainya memang indah. Ada beberapa pantai yang pernah aku kunjungi, yaitu Tanjung Kelayang, Tanjung Binga, Tanjung Pendam, Pantai Burung Mandi (yang terakhir ini letaknya di Kabupaten Manggar). Hampir semuanya berpasir putih, kecuali Pantai Tanjung Pendam. Pantai Tanjung Pendam ini pantai terdekat dari kota Tanjung Pandan. Kalau naik motor dari rumah, yaa … paling 10 menit lah. Kalau sore cukup banyak orang yang datang ke sana. Dulu pertama kali aku ke sana, tidak ada retribusi. Tapi sekarang sudah ada. Seorang ditarik bayaran 2000 rupiah. Aku kurang suka dengan pantai ini sebenarnya. Kurang cantik dibandingkan pantai-pantai yang lain.

Pantai Tanjung Pendam
Pantai Tanjung Pendam

Pantai yang aku sukai adalah Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi. Di sana ada batu yang buesaaar-buesaaar! Aku senang dengan pantai itu karena pasirnya putih dan ombaknya tenang. Berbeda dengan pantai-pantai di daerah Gunung Kidul yang ombaknya ganas. Beberapa orang suka berenang di pantai ini. Aku belum pernah sampai berenang sih. Cuma main air saja. Dan sekarang ada yang menyewakan ban untuk berenang.

Pemandangan di Pantai Tanjung Kelayang
Papan penunjuk dan bebatuan di Pantai Tanjung Tinggi.
Bebatuan di pinggir Pantai Tanjung Tinggi

Pantai Tanjung Tinggi adalah salah satu tempat syuting film LP. Ada papan penunjuknya di situ. Di pinggir pantai itu banyak kedai. Menu yang ditawarkan biasanya aneka masakan ikan (ikan bakar, ikan goreng, lempa) dan tumis sayur (kangkung dan genjer). Ada satu warung langganan kami di situ, lokasinya persis di depan papan penunjuk itu. Kalau kami ke sana, pasti mampir ke kedai itu. Pemiliknya sepasang suami istri setengah baya. (Sayangnya aku tidak tanya siapa namanya.) Terakhir waktu aku ke sana, aku sempat ngobrol-ngobrol sebentar dengan si bapak. Dia bercerita, sejak film LP tayang, pantai itu mulai ramai. Setiap hari ada saja orang yang datang. Padahal dulu hanya akhir pekan saja pantai itu ramai pengunjung. Ramainya pengunjung itu ada senang, ada susahnya. Senangnya karena ada saja pembeli yang datang. Itu artinya ada pemasukan. Tapi ada satu hal yang membuatnya kesal, yaitu beberapa kali perahunya karam. Aku kurang tahu persis seperti apa perahunya. Sepertinya perahu kecil. Dia mengatakan perahunya suka dinaiki wisatawan tanpa izin. Dan yang naik perahu itu badannya besar-besar pula. Jelas saja karam. Dia bingung mau bereaksi bagaimana terhadap hal itu. Mau marah, tapi itu wisatawan. Tapi kalau tidak diperingatkan, dia sendiri rugi. Akhirnya dia menjual perahunya.

Makanan

Hal lain yang aku sukai di Belitung adalah makanannya. Kebanyakan memang masakan ikan sih. Yang aku sukai, ikan di sana besar-besar dan menurutku dagingnya lebih manis. Biasanya kalau kami pulang, ada satu hari di mana tersedia menu kepiting! Puas deh kalau makan kepiting. Bisa-bisa satu baskom habis kami makan berdua. Haha. Kemaruk! Enak sih. Suamiku bilang, kepiting di Belitung jauh lebih enak daripada kepiting di Jakarta. Meskipun dia suka kepiting, dia tidak pernah pesan menu kepiting di Jakarta. Dagingnya lebih lembek, katanya. Oya, satu lagi, baso ikan di Belitung itu enak banget. Aku tidak tahu beli di mana (soalnya kami di rumah tinggal duduk dan makan sih), tapi yang jelas, aku suka banget. Sebetulnya bisa sih buat sendiri. Biasanya dari ikan ekor kuning. Jangan tanya aku bagaimana cara buatnya, ya :D.

Salah satu makanan favoritku di Belitung adalah pampi rebus. Ini sebetulnya nama lain dari kwetiau rebus. Tapi di sana, kwetiau itu seperti bihun bahannya, tapi namanya kwetiau, kan lebar-lebar. Isinya mirip kwetiau rebus di sini, tapi ada tambahan kepiting, daging (ada yang pakai daging b2), dan telor utuh (seperti telur ceplok). Bagiku ini menu wajib deh! Enak banget!

Pampi rebus. Sayangnya pas ambil di piring, kuahnya kurang. Jadi kurang kelihatan berkuah. Padahal kuahnya cukup banyak sebetulnya.

Di sana juga ada bakmi. Suamiku menyebutnya “bakmi Atep” (sesuai dengan nama penjualnya). Bakmi ini pakai kaldu udang. Suamiku sih suka banget. Dan dia kalau beli bakmi ini biasanya pesan minum es jeruk. Es jeruk di sana kebanyakan warnanya bening, tidak kuning seperti di Jawa. Itu karena jeruknya beda dengan jeruk di sini. Enak sih minuman jeruk itu. Seger banget. Bakmi Atep ini sepertinya sudah terkenal deh di Tanjung Pandan. Kalau ke sana, banyak dipajang foto-foto pemilik kedai itu dengan beberapa artis. Ada foto Megawati juga.

Menyiasati Pariwisata yang Semakin Ramai

Belitung kini sudah mulai ramai. Jalan-jalan di sekitar pantai mulai diperlebar. Dan menurutku, sekarang di sana jauh lebih ramai dibanding waktu aku ke sana kira-kira empat tahun yang lalu. Hal itu dibenarkan oleh adik iparku. Teman-temannya sekarang banyak yang menjadi agen wisata. Dan kulihat kini semakin banyak dibangun ruko dan hotel.

Wisatawan yang semakin banyak ini sebetulnya berita bagus. Tapi menurutku perlu ditunjang oleh banyak hal. Salah satunya: tata kota. Masalah saluran air saja deh. Kesanku di sana saluran airnya (got) masih kurang bagus. Memang sih tidak banjir. Tapi setelah hujan, aku lihat ada saja air yang tidak bisa mengalir dengan lancar di got karena sampah. Apalagi di sana sering banget hujan, jadi hal seperti ini perlu diperbaiki. Selama aku ke sana kemarin, hampir setiap hari hujan. Padahal musim panas lo. Jika semakin banyak pendatang, dan banyak orang yang jadi investor, mau tak mau tata kota mesti dibenahi.

Oya, kalau kamu jalan-jalan di kotanya, di sana jarang sekali ada tong sampah. Warga menaruh sampah di kresek, lalu ditaruh di depan rumah. Nanti sampah dalam kresek itu akan diangkut oleh dinas kebersihan. Diangkutnya langsung pakai truk, tidak pakai gerobak sampah. Nah, mumpung kotanya belum terlalu padat (seperti di Jawa), kurasa baik jika pemerintah mulai mensosialisasikan pemilahan sampah. Jadi, sampah basah bisa diolah kembali untuk dijadikan hal yang lebih bermanfaat.

Kalau masalah tata kota dan sampah bisa dibenahi, aku yakin Belitung akan jadi pulau yang bisa menjual pariwisatanya secara jauh lebih menarik.

Semua foto yang dimuat dalam tulisan ini adalah koleksi pribadi.