Sungai (yang Membuat Bebal)

Tak jauh dari tempat tinggalku sekarang, ada sebuah sungai. Di atas sungai itu ada jembatan kecil. Jembatan itu aku sering lewati setelah aku turun dari angkot dan hendak menuju gang menuju rumahku.

Saat aku lewat, aku kerap menengok ke arah sungai tersebut. Layaknya sungai-sungai yang ada di kota besar, sungai itu kotor. Airnya memang masih mengalir. Tetapi di sana-sini teronggok sampah. Macam-macam sampahnya, kebanyakan adalah plastik, kaleng, gabus, dan bahkan beberapa hari lalu aku melihat ada kursi rotan yang dibuang di sana.

Di ibu kota ini, aku cukup sering melihat sungai yang kotor. Ada yang airnya cokelat kehijauan. Ada yang benar-benar hitam. Yang paling parah adalah sungai di depan mal besar di seputar Jakarta Utara; airnya hitam dan sepertinya tak mengalir.

Sekarang, saat melihat sungai yang kotor, aku jadi merasa biasa-biasa saja. Paling-paling hanya terlintas pikiran, “Ih, sungai ini kotor sekali sih.” Dan setiap kali melihat sungai yang kotor membelah kota ini, aku tak terkejut lagi. Lagi pula, adakah orang yang tinggal di sini yang masih terkejut melihat sungai yang kotor? Kurasa tak ada.

Sungai yang kotor dan hal itu dianggap wajar. Anehkah? Awalnya aku merasa hal itu biasa saja. Dan aku juga biasa membanding-bandingkannya dengan sungai yang mengalir di dekat rumah kakekku di sekitar Ambarawa sana. Sungainya bersih. Jernih. Tidak hitam dan mandeg. Lalu aku berpikir, “Wajar saja jika sungai itu bersih. Itu kan masih di desa, di kaki bukit.”

sungai kecil di dekat rumah kakekku.

Eng ing eng …. Sebentar, sepertinya perlu dipikir lagi. Pertanyaannya, kenapa sih kita tak bisa merasa aneh saat melihat sungai yang kotor?  Jawabannya: Karena sudah biasa. Ya, sesederhana itu kurasa. Kita sudah biasa disuguhi dengan fakta bahwa semua sungai di kota Jakarta ini kotor. (Kurasa sih begitu. Maaf, ini tak pakai survey. Tetapi yang selama ini kulihat memang tak ada yang bersih.) Masalahnya, kalau kita tak lagi peka dan menganggap wajar hal seperti itu, ini kan sebenarnya keliru to? Lama-lama kita jadi bebal. Lalu menganggap bahwa hal seperti itu yaaaa, diterima saja.

Kupikir kesadaran itu perlu. Mengasah kepekaan juga perlu. Kalau kita menganggap wajar hal yang sebenarnya tidak wajar, kupikir itu suatu peringatan bagi kita. Jangan-jangan aku sendiri sudah bebal juga ya? 😦