Pagi Ini…

Pagi ini terdengar suara pesan masuk di telepon. “Mataharinya lagi enak banget kalau mau jalan-jalan.” Itu laporan dari suamiku yang pagi-pagi sudah berangkat ke tempat kerjanya. Ya, ya, aku memang suka matahari pagi. Suka hangatnya. Seperti mendapat suntikan semangat kalau matahari pagi sedang hangat-hangatnya.

Oke, jadilah aku tadi jalan pagi. Jatahku kalau bisa 30 menit jalan kaki. Rencananya mau mampir pasar sebentar untuk beli jeruk nipis. Itu berarti aku mesti lewat sebuah pojokan jalan tempat para penjual barang bekas menghamparkan dagangannya. Kupikir pagi-pagi begini mereka belum buka lapak. Tapi ternyata mereka lebih rajin dari perkiraanku.

Waktu menyeberang ke jalan tersebut, kulihat tiga gerobak berderet. Aku pelankan langkah. Kulihat ada berbagai macam barang: kabel ruwet, kipas angin yang tak lagi utuh, setumpuk kaset yang lusuh, kardus bekas, telepon wireless yang aku yakin tak bisa dipakai lagi, dan entah perintilan apa lagi. Banyak. Beraneka macam. Seketika terlintas pertanyaan dalam pikiranku, barang-barang itu nanti siapa yang beli ya? Adakah di antara kalian yang pernah berjualan atau mengumpulkan barang-barang semacam itu? Mungkin aku saja yang tidak tahu di mana nilai lebihnya. Tapi kurasa pasti ada yang membelinya, kalau tidak, pasti mereka sudah kukut alias tidak pernah ada orang jualan barang seperti itu.

Bagiku, para penjual barang bekas itu punya mata yang istimewa. Mereka bisa melihat barang-barang bekas itu masih berharga. Masih bisa dijual. Bisa memberikan penghidupan bagi mereka. Hebat kan? Pemikiran seperti itu membuatku berpikir, apakah jangan-jangan Tuhan itu semacam pengumpul barang bekas? Ng… bukan maksudku merendahkan. Tapi, kalau dipikir siapa aku di hadapan-Nya? Di satu sisi, mungkin aku semacam gombal amoh–lap lusuh–yang tidak berarti. Tapi Tuhan masih mencintai dan menganggapku–kita semua–berharga. Nah, tidak berlebihan kan kalau kubilang Dia semacam pengumpul barang bekas?

Ah, maafkan aku yang pagi-pagi sudah melantur, ngomong nulis yang ndakik-ndakik dan sok tahu tentang Tuhan. Aku hanya teringat, beberapa waktu lalu bercakap dengan seseorang yang selalu ingat akan tanggalan liturgi. Dia mengingatkanku bahwa tanggal 5 Maret besok adalah Rabu Abu*). “Ha, cepet banget sih?” begitu komentarku waktu itu padanya. Itu berarti sebentar lagi Paskah. Cepat sekali waktu berjalan. Aku seperti terpeleset-terpeleset ketika menitinya.

*Sekilas tentang Rabu Abu, bisa dibaca di sini.

Advertisements

Memperpanjang Usia

Iseng buka-buka folder koleksi foto, aku menemukan foto ini:

Itu adalah hasil keisenganku. Ceritanya, ada bolpen yang isinya masih banyak dan masih bisa dipakai, tetapi bagian luarnya (bagian body yang biasa kita pegang) rusak. Aku lalu berpikir, kok sayang ya, isi bolpen ini sebenarnya masih bisa dipakai. Aku lalu teringat seorang pemilik toko kelontong di depan rumahku saat aku masih kecil. Dia punya bolpen yang bergagang kertas. Lalu, aku pun mencoba membuat gagang bolpen dari kertas, dan begitulah bentuknya. Haha. Nggak rapi ya? Tapi mending lah, dan isi bolpen itu bisa dipakai lagi. Akhirnya tak lama aku dapat bolpen yang isinya sudah habis, dan aku lalu menukarnya dengan isi bolpen yang tadinya kuberi “baju” kertas tersebut. Itu tadi adalah salah satu cara kreatif yang kulakukan untuk memperpanjang usia pakai suatu benda. Kreatif kah? Entahlah. Dengan begitu, gagang bolpen yang isinya sudah habis itu akhirnya bisa dipakai lebih lama lagi. 🙂

Aku memang kadang menyimpan benda-benda bekas yang kurasa masih bisa dipakai lagi. Salah satunya adalah amplop cokelat. Kadang aku mendapat kiriman barang, biasanya buku, dengan bungkus amplop cokelat. Biasanya aku akan membuka kiriman itu dengan hati-hati supaya amplopnya tidak sobek. Buat apa? Amplop itu kan bisa dipakai lagi untuk mengirim barang. Hehe. Pelit kah? Aku cuma berpikir demikian: Apa salahnya memperpanjang masa pakai suatu benda? Ini bukannya tidak menghormati orang yang kukirimi barang, tetapi semata-mata untuk membuat bumi ini lebih baik. Ah, masak segitunya? Sekarang coba pikir, kertas itu terbuat dari pohon. Dan jika kita bisa memperpanjang masa pakai kertas tersebut, berapa banyak pohon yang bisa dikurangi untuk ditebang? Padahal, itu cuma untuk bungkus. Ya, bungkus yang kemudian dibuang ke tong sampah. Aku sendiri tidak keberatan diberi barang tanpa dibungkus. Kertas pembungkus–atau dalam hal ini amplop cokelat–tidak memengaruhi nilai benda yang dibungkus itu kan? Jadi, tidak masalah apakah benda itu dibungkus pakai koran bekas atau amplop bekas–asal pembungkusnya cukup bersih dan tidak merusak benda itu. Dan aku sebenarnya kurang suka membeli kertas pembungkus kado. Gambarnya bagus-bagus sih. Cuma aku suka sayang kalau kertas itu “hanya” untuk membungkus kado, lalu dia akan disobek dan dibuang saat kado itu dibuka. Padahal gambarnya bagus-bagus lo. Masa pakainya hanya sebentar, lalu dia dibuang. Sayang banget rasanya.

Barang bekas lain yang biasanya kupakai agar “usianya lebih panjang” salah satunya adalah botol bekas air minum mineral. Botol-botol ini biasa kupakai untuk kujadikan wadah misalnya wadah cairan pembersih lantai atau cairan pencuci piring. Aku biasanya membeli cairan-cairan pembersih itu yang kemasan refill. Lagi pula, kalau beli yang kemasannya refill, kan sedikit lebih murah. Lumayan buat nambah ongkos naik angkot. 🙂 Dulu waktu di asrama, kulihat beberapa temanku memakai botol bekas air minum mineral ini (yang ukuran besar) untuk wadah deterjen bubuk. Hehe. Idenya ada-ada saja.

Kalau kamu, barang (bekas) apa yang kaupanjangkan umurnya?

Kado Unik

Ketika kami menikah, ada sejumlah kado yang kami terima. Orang paling sering memberi uang, tetapi ada pula beberapa orang yang memberi barang. Barang yang paling banyak kami terima adalah sprei. Lumayan, pikirku. Jadi, tak perlu membeli sprei lagi. Tapi ternyata sprei-sprei itu banyak yang kebesaran. 😀 Hehehe. Tak apalah … masih mending kebesaran daripada kekecilan. Masih bisa dikecilkan dan sisa kainnya bisa untuk serbet atau cempal 😀

Selain sprei, jenis barang yang cukup banyak kami dapatkan adalah peralatan dapur. Barang-barang ini juga cukup membantu kami saat awal-awal memasuki rumah tangga. Kebayang kan, kalau biasanya sendok, piring, pisau, talenan biasanya tinggal memakai, nah saat jauh dari rumah dan mulai hidup bersama suami, barang-barang itu tidak langsung tersedia. Dan untunglah, berkat kado-kado yang kami terima, sebagian barang yang kami butuhkan itu tak perlu dibeli lagi. Lumayan kan?

Ketika masih awal tinggal di Jakarta dan menempati rumah (kontrakan) baru, aku mencari-cari sikat gigi bekas untuk membersihkan sisir. “Kamu punya sikat gigi bekas?” tanyaku pada suami. “Enggak. Sudah kubuang semua waktu pindahan dari kos yang dulu,” jawabnya. Wedew … Akhirnya aku pun merelakan sikat gigiku yang masih kupakai untuk pensiun dini, agar bisa membersihkan sisir. Saat itu aku tersadar bahwa ada barang-barang kecil nan sepele, dan kadang sama sekali tak terpikirkan, yang aku butuhkan. Padahal dulu, di rumahku aku bisa mendapatkannya dengan mudah. Tapi sekarang, tidak semudah itu. Saat yang ada di rumah adalah barang-barang yang masih baru, di mana mesti mendapatkan barang bekas yang masih bisa dipakai? Barang-barang seperti itu–sikat gigi bekas, lap dari handuk yang sudah tak terpakai, kardus bekas, dll–baru bisa dijumpai setelah rumah tangga berjalan selama beberapa waktu.

Suatu kali, entah apa kejadiannya, aku lupa, tetangga depan rumah kami, memberikan sebuah kain yang sudah usang. Walaupun usang, tapi kain itu masih bersih. Hanya ada beberapa bagian yang sobek. “Ini buat mbak saja, bisa untuk lap.” Wah, pemberian yang unik nih! Selama ini aku harus membeli lap, tetapi sekarang ada yang memberi kain bekas untuk lap. He he.

Belum lama ini aku pindahan rumah. Salah satu yang membantu kami pindahan adalah tanteku. Dia bersedia menjadi sopir plus meminjamkan mobilnya untuk mengangkut barang. Rupanya sebelum berangkat, dia sudah menyiapkan kado unik buat kami: satu buah keset dari handuk bekas dan dua lap dari kaus kaki bekas. Dia memang suka menjahit dan memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak terpakai. Pemberiannya yang unik dan sederhana ini langsung terpakai begitu kami menempati tempat baru. Terima kasih, Tante!

Saat kami beres-beres rumah untuk terakhir kalinya, aku memutuskan untuk membuang barang-barang bekas yang sudah lama tidak terpakai–kertas koran, kaleng bekas, sepatu yang sudah rusak, alat-alat tulis yang tak bisa dipakai lagi, dan masih banyak lagi. Sebenarnya barang-barang itu tidak “dibuang”, tetapi sebagian aku jual ke tukang loak keliling dan sisanya aku berikan kepada Bang Jamal, seorang pemulung yang sering berkeliling di sekitar tempat tinggalku. Aku yakin, dia pasti bisa menjual barang-barang dari kami itu dan uangnya bisa menambah uang untuknya berlebaran. Tidak banyak sih, tetapi cukuplah untuk mengisi penuh karungnya yang selalu ia bawa ke mana-mana itu.

Barang bekas memang kadang tampak tak bernilai, tetapi di mata orang lain, bisa berharga sekali, tergantung siapa yang melihat dan yang hendak memanfaatkan. Dan jika kita memberikannya kepada orang yang tepat, barang yang tampaknya tak berharga itu, bisa bermanfaat dengan lebih baik lagi.