Cihapit (Antara Pasar Sampai Selai Kacang)

Melanjutkan cerita perjalananku ke Bandung, aku mau bercerita sedikit tentang salah satu pojok Bandung yang kukangeni.

Sebenarnya aku tidak terlalu akrab dengan kota ini. Seingatku, aku pertama kali ke Bandung waktu masih TK, waktu omku menikah dulu. Lalu kedua waktu SMA ada acara darmawisata. Lalu ketiga waktu masih kerja kantoran dulu, aku dan beberapa orang teman mengikuti sebuah acara di Bandung.

Dari ketiga kunjunganku itu, tidak terlalu banyak kesan mendalam dengan kota ini. Waktu masih kecil ke Bandung, aku cuma ingat kami menginap di Lembang. Seingatku ada banyak pepohonan di kiri kanan tempat penginapan kami. Dan oiya, aku sakit di sana. Lupa deh sakit apa, tapi aku ingat disuntik. Sakiiit! Waktu SMA, kami ramai-ramai menginap di gelanggang olahraga (kalau tak salah ingat sih). Dekat BIP deh, pokoknya. Jadi, setiap sore banyak tuh yang jalan-jalan ke BIP. Kesannya? Seneng-seneng aja sih. Namanya juga pergi bareng teman-teman. Kalau ke Bandung saat kerja kantoran dulu, yaa .. so far so good lah. Tapi jujur saja, aku waktu itu belum menemukan tempat yang benar-benar asyik.

Nah, waktu sudah menikah, suamiku punya teman di Bandung. Rumahnya di sekitar jalan Riau, dekat Cihapit. Rumah temannya itu menempel dengan sebuah penginapan. Kadang aku dan suamiku menginap di sana. Awalnya kami kalau sarapan pesan di penginapan tersebut. Tapi suatu kali aku dan suamiku iseng pagi-pagi jalan ke Pasar Cihapit. Ternyata, di sana banyak penjual makanan. Seingatku ada tahu petis, lalu ada kedai yang menjual nasi bogana, nasi kuning, dan beberapa jenis nasi plus lauknya. Harganya tidak terlalu mahal menurutku. Rasanya pun lumayan. Jadi, ini adalah alternatif untuk sarapan.

Lalu aku iseng-iseng pula masuk ke dalam pasar. Bayanganku, pasar ini seperti layaknya pasar tradisional yang lain: jorok dan tidak rapi. Tapi, bayanganku salah. Pasar ini bersih. Bener deh. Sayuran dan bahan makanan ditata rapi, dan membuatku pengen belanja. 🙂 Tapi buat apa belanja? Kan cuma menginap dua malam di Bandung, makan pun kami beli. Tak perlu belanja kan? Di sekitar pasar, ada toko jadul. Namanya P & D Tjihapit. Toko ini menjual bermacam-macam bahan makanan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Nah, kemarin kami mampir ke sana. Niatnya sebenarnya pengen cari Kopi Aroma. Dulu seingatku toko ini menjualnya (jadi tidak perlu ke pabriknya). Tapi waktu ke sana, ternyata habis. Selain itu, aku biasanya beli juga Teh Upet. Ini teh lokal yang enak, menurutku sih. Tapi karena di rumah masih banyak persediaan teh, waktu kami ke sana dua minggu lalu, kami tidak beli.

Toko P & D Tjihapit. Dari papannya saja sudah kelihatan kalau jadul kan? 🙂

Waktu sedang melihat-lihat barang-barang yang dijual, kami berpapasan dengan seorang bapak-bapak. Seorang pelayan sedang melayaninya; mencedok semacam krim warna cokelat dari sebuah ember. Melihat kami penasaran, dia lalu menjelaskan, “Ini selai kacang.” Wah, kalau yang ini aku baru tahu. “Ini lebih enak dari selai kacang kemasan, harganya juga lebih murah.” Aku makin penasaran deh. Apalagi suamiku yang memang suka banget selai kacang. Sekilo harganya 26 ribu rupiah. Kalau selai kacang kemasan yang ada di pasaran sekitar 40 ribu satu toplesnya (jelas tidak sampai sekilo dong, mungkin sekitar 500gr). Lalu kami mencoba beli 1/2 kilo. Rasanya pun enak kok.

Di simpang dekat pasar, ada sebuah gerobak yang cukup ramai dikerubuti pembeli. Di sisi luar tertulis Surabi Cihapit. Kami pun ikut antri. Memang sejak pertama kali membelinya dulu, aku cocok dengan rasanya. Sepertinya surabi ini terbuat dari tepung beras. Adonannya lalu dipanggang di cetakan yang cekung (seperti pemanggang apem, tetapi lebih cekung lagi). Surabi ini bisa beli paketan, ada yang paket manis, ada yang asin (gurih). Bisa pula gabungan keduanya. Terakhir aku ke sana, paket manis dan asin harganya 25 ribu rupiah. Aku paling suka surabi oncom telor. Surabi ini lumayan besar, jadi cukup mengenyangkan kalau untuk sarapan.

Aku belum menjelajah sisi-sisi Bandung lebih banyak lagi. Tapi bagiku Cihapit adalah tempat yang wajib kukunjungi saat ke sana. Kasih info dong, mana lagi sisi Bandung yang menarik? Asal jangan mal atau FO, ya. 😉

Menginap di Mana Kalau ke Bandung?

Akhir pekan kemarin aku dan suamiku ke Bandung. Adik iparku menikah. Mama, Papa mertua datang. Bapak, Ibu, kakakku dan istrinya juga datang. Jadi, ramai-ramai kami berkumpul di Bandung. Pernikahan adikku itu tidak diadakan secara besar-besaran, jadi hanya keluarga dekat saja yang datang.

Beberapa minggu sebelumnya, aku dan suamiku sempat cari-cari hotel untuk menginap. Cari yang murah dan sederhana saja. Tapi kemudian, adik iparku memesan kamar di asrama biara Ursulin, asrama Providentia (kebanyakan orang menyebutnya Asrama Prova). Jadi, kami tidak jadi menginap di hotel.

Tidur di asrama dan menginap di tempat yang berhubungan dengan biara bukan hal yang aneh buatku. Toh waktu kuliah aku lima tahun tinggal di asrama yang dikelola oleh suster-suster CB. Dan waktu SD aku pun sekolah yang dikelola oleh suster-suster Ursulin. Waktu SD pun aku cukup dekat dengan seorang suster (guru agama), jadi kadang aku main-main ke biara juga. Cuma, ini baru pertama kali aku ke luar kota lalu menginap di asrama. Sempat terbayang di kepalaku aku akan tidur di tempat jadul. Haha. Aduh, segitunya ya?

Sesampainya di Bandung, setelah bermacet-macet ria di dekat tol Pasteur dan beberapa ruas jalan Bandung, aku pun sampai di Asrama Prova. Halamannya sepi, hanya kulihat sebuah mobil terparkir di halaman. Tapi pintu asrama yang besar itu tertutup. Sempat bingung juga, mesti gimana. Mau mengetuk pintu, jelas tak akan terdengar sampai ke dalam dong. Lalu aku menelepon Bapak yang sudah sampai terlebih dahulu. Bapak bilang supaya memencet bel lalu cari suster yang bertugas mengelola penginapan. Setelah ketemu suster, kami diantar ke kamar. Mertuaku sudah datang, begitu pula dengan orang tuaku serta kakakku.

Wah, aku kok langsung merasa kerasan ya saat melihat kamarnya. Aku kayaknya bener-bener anak asrama deh. 😀 Tempat menginap kami sederhana, tapi bersih dan rapi. Jadi, tempat menginap itu seperti rumah kecil dan di dalamnya terdiri dari beberapa kamar. Di bagian tengah ada meja besar untuk duduk-duduk bersama dan makan. Lalu ada kamar mandi, wastafel, dan kulkas kecil. Di dekat meja makan tersedia air minum (galon) plus beberapa bungkus kopi, teh, dan gula. Waktu mau mandi juga ada air panas. Ah, enak deh. Serasa di rumah sendiri.

Aku cukup suka menginap di sana. Tapi mungkin beberapa orang kurang suka karena kesannya biara banget. Dan kalau malam, jam 21.00 pintu sudah ditutup. Tidak seperti di hotel ya yang bisa keluar masuk jam berapa saja. Mungkin karena aku sudah terbiasa dengan suasana seperti itu, jadi oke-oke saja kalau ada peraturan semacam itu.

Taman di biara

Selain itu, masih menempel di kompleks Prova itu ada taman yang rapi banget dan luas. Sepertinya itu memang tamannya biara Ursulin. Hmm, sebenarnya di dalam Prova sendiri ada tamannya juga, tapi menurutku taman biara Ursulin masih jauh lebih rapi. Di taman yang luas itu ada makam suster-suster Ursulin. Makam itu juga diatur rapi. Ada satu makam gabungan (jadi satu nisan untuk beberapa suster; sepertinya ini untuk yang sudah lama sekali), dan beberapa makam tersendiri.

Aku pikir asrama ini bisa jadi salah satu alternatif tempat menginap di Bandung. Mungkin cocok untuk keluarga, karena suasananya benar-benar seperti rumah. Aku kurang tahu persis berapa tarifnya, tapi kurasa tidak mahal. Dan kalau pagi bisa dapat sarapan. Jadi pengin ke Bandung lagi deh … hehehe.