Penghalang Itu Bernama Bahasa

Waktu ikut lokakarya penerjemahan sastra di Erasmus Huis, aku berkesempatan masuk ke perpustakaannya. Perpustakaan itu letaknya bersebelahan dengan tempat ditampilkannya pameran Rijksmuseum. Karena aku kurang info soal pameran itu, nggak usah ada cerita ya. 😀 Sudah lama juga sih.

Aku pengin cerita tentang kesanku waktu masuk perpustakaan Erasmus. Perpustakaan itu tidak terlalu besar sebetulnya. Tapi kurasa kalau mau melahap buku-buku di sana, tidak cukup hanya seminggu deh. 😀 Ya, iyalah. Mana bisa? Koleksinya berupa majalah, koran, dan buku. Ada yang berbahasa Indonesia, Inggris, dan sudah pasti kebanyakan berbahasa Belanda. Buku yang berbahasa Indonesia pun kebanyakan yang ada hubungannya dengan Belanda (misalnya tema kolonialisme atau kondisi Indonesia waktu zaman Belanda).

Entah kenapa ya, aku selalu bersemangat kalau berada di antara buku yang disusun dalam rak. Dan yang pasti, susunannya pun rapi. *lirik rak bukuku yang acak-acakan* Awalnya aku hanya membaca koran dan majalah. Setelah itu, aku penasaran dengan buku-buku yang ada. Aku mulai berjalan menyusuri lorong-lorong di antara rak-rak buku itu. Sebagian besar buku-buku itu berbahasa Belanda. Aku mendadak merasa seperti orang bodoh. Bayangkan, ketika aku tertarik melihat sebuah buku dengan gambar sampul yang menarik, aku sama sekali tidak bisa memahami isinya karena buku itu memakai bahasa yang tak kukuasai. Aku plonga-plongo seperti sapi ompong. Aku merasa seperti berhadapan dengan sebuah jendela kaca. Aku bisa melihat isi ruangan di sebelah, tapi tak bisa memahaminya. Penghalang itu berupa bahasa!

Pengalaman itu semakin memperkuat pendapatku bahwa penting bagi kita untuk menguasai bahasa asing. Ya, kita memang tinggal di Indonesia, berbicara dengan bahasa Indonesia, tapi kalau kita mau melihat dan memahami dunia di luar sana, bahasa Indonesia saja tidak cukup. Minimal memang harus menguasai bahasa ibu dan bahasa Inggris. (Padahal bahasa Inggris pun ragamnya bermacam-macam. Ada Inggris-Inggris, Inggris-Amerika, Inggris-Singapura, dll.) Mungkin bisa juga ditambah dengan penguasaan bahasa lain, misalnya Prancis, Jerman, Spanyol, Mandarin–yang pemakainya cukup banyak. Lebih asyik lagi kalau bisa berbahasa yang mungkin agak aneh bagi kita, misalnya bahasa Rusia, Norwegia, Italia, dll.

Dulu sepertinya waktu aku masih duduk di bangku sekolah, pelajaran bahasa itu agak dinomorduakan. Itu kesanku sih. Zaman aku SMA, anak yang masuk A1 (jurusan Fisika) itu kesannya lebih pintar dibanding anak jurusan lain. Sekali lagi, itu hanya kesanku lo. Padahal sebetulnya anak jurusan lain sebetulnya juga pasti ada yang pintar. Tapi dulu anak A1 itu seakan mendapat “keistimewaan”, paling tidak pas mendaftar UMPTN. Anak A1 bisa mendaftar ke jurusan sosial, sedangkan anak jurusan sosial tidak bisa mendaftar untuk jurusan IPA. Dan, aku masuk A1 dengan bangga dong. Tapi selepas SMA aku justru sengaja mencari jurusan yang hampir tidak ada pelajaran berhitungnya! Hahaha. Dodooool! (Dan kayaknya sekarang untuk urusan hitung-hitungan aku makin lemot aja deh. Parah!)

Namun, setelah pengalamanku ke perpustakaan Erasmus itu, aku bilang ke suamiku yang dosen Matematika. “Kayaknya orang yang bisa menguasai banyak bahasa itu lebih pintar deh dibanding orang yang pintar matematika doang. Kalau matematika kan sudah jelas tuh, 1 + 1 = 2. Kalau bahasa? Kan kadang kita mesti tahu latar belakang budayanya supaya paham arti suatu kalimat. Kadang tidak bisa asal comot.” Dan apa jawaban suamiku? “Memang.” Tuh, kan … orang Matematika saja bilangnya begitu. Hihihi.

Menurutku, bahasa itu cerminan pola pikir suatu masyarakat. Ada yang bilang orang Indonesia itu kurang menghargai waktu. Dilihat dari bahasanya, memang bahasa Indonesia tidak membedakan soal waktu. Berbeda dengan bahasa Inggris yang memiliki present tense, past tense, present continuous tense, past perfect tense, dan sebagainya. Kupikir itu semua punya latar belakang (budaya)nya.

Mungkin ada yang bertanya, untuk apa sih susah-susah belajar bahasa asing? Kalau mau jawaban singkatnya sih, dengan menguasai bahasa asing kita bisa dapat “uang lebih”. Misalnya, bisa jadi penerjemah. Tidak banyak lo yang bisa menerjemahkan bahasa Rusia ke bahasa Indonesia, misalnya. Itu termasuk pekerjaan langka kupikir. Dan yang menarik bagiku, dengan menguasai banyak bahasa, wawasan kita jadi bertambah. Wawasan yang luas, membuat kita jadi lebih bijak. Sesederhana itu, tapi menurutku itu penting.

Nah, ngomong-ngomong apakah kamu tahu bahasa Inggrisnya orang yang menguasai banyak bahasa? Tulis jawabannya di kolom komentar ya. Ini tak ada hadiahnya, tapi bisa untuk iseng-iseng sekadar membuka kamus. 😉

Susahnya Berbahasa Indonesia

Semalam aku mendengarkan radio. Saat itu ada perbincangan yang membahas UN (Ujian Nasional) anak SMA. Rupanya dari hasil UN kemarin, banyak anak yang nilai bahasa Indonesianya jeblok. Dan dari semua mata pelajaran yang diujikan, nilai bahasa Indonesia inilah yang rata-rata nilainya paling jelek. Bahkan di Yogyakarta, 5.000 lebih siswa harus mengulang UN untuk ujian bahasa Indonesia.

Kenapa bisa begitu? Dari pembicaraan dengan nara sumber, dikatakan bahwa salah satu alasannya adalah karena banyak murid dan mungkin juga guru menyepelekan bahasa Indonesia. Misalnya, kalau di suatu sekolah dibutuhkan guru matematika, maka akan dicari guru matematika yang paling bagus. Tetapi kalau yang dibutuhkan guru bahasa Indonesia, dicarinya asal yang bisa berbahasa Indonesia. Pemikirannya: Toh semua bisa berbahasa Indonesia kan? Benarkah? Yaaa, kalau dilihat dari hasil UN tadi, kelihatan kalau tidak semua siswa (dan mungkin juga gurunya) mahir berbahasa Indonesia.

Perbincangan di radio itu mengingatkanku pada beberapa peristiwa. Salah satunya berkaitan dengan pekerjaanku. Begini, suatu kali aku mendapat pekerjaan untuk mengedit naskah berbahasa Indonesia yang akan diterbitkan.

“Siapa penulisnya?” tanyaku kepada teman yang memberi pekerjaan.
“Penulisnya banyak bergerak di bidang pendidikan,” jawabnya.
Oke deh. Mestinya tulisannya sudah cukup enak dibaca dong. Tetapi rupanya perkiraanku keliru. Tulisannya masih kacau. Ada bagian yang tidak jelas mana subjek dan predikatnya. Beberapa ide melompat-lompat. Wah, kalau orang yang bergerak di bidang pendidikan saja tulisannya masih kacau, bagaimana dengan yang lain ya?

Peristiwa yang lain adalah ketika suamiku ditawari menerjemahkan naskah dari sebuah departemen pemerintahan. Kalau tidak salah, naskah itu mau dibuat buklet dua bahasa. Waktu mengerjakan terjemahan naskahnya, suamiku lama-lama jadi jengkel sendiri. Kenapa? “Bahasa Indonesianya kacau!” begitu katanya. Ada banyak kalimat yang tidak jelas apa maksudnya. Kalau seperti itu, penerjemahan ke bahasa Inggris jadi sulit. Wong naskah bahasa aslinya sudah kacau kok …. Padahal kalau bahasa Indonesianya sudah bagus, penerjemahan ke bahasa lain akan jauh lebih mudah.

Dulu, ketika aku baru awal-awal bekerja sebagai editor, aku juga baru sadar bahwa aku tidak mahir berbahasa Indonesia seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Ketika menghadapi naskah mentah, ada saja hal-hal yang membuatku sadar bahwa ternyata aku tidak pintar-pintar amat berbahasa Indonesia. Biasanya sih soal penggunaan tanda baca. Kadang aku juga tidak tahu mana kata yang baku dan mana yang tidak.

Dari perbincangan di radio semalam, aku mendapat informasi bahwa soal UN yang diujikan kepada anak SMA beberapa waktu lalu isinya banyak yang berupa teks bacaan. Mereka banyak diminta untuk menentukan mana ide utama dalam sebuah paragraf. Jadi, jika dibandingkan dengan soal ujian bahasa Indonesia beberapa tahun lalu (mungkin pas zaman aku sekolah dulu) memang jenis soalnya berbeda. Barangkali soal yang sekarang lebih menekankan keterampilan berbahasa ya? Bukan asal hapal tanda baca dan macam-macam arti imbuhan. Eh, ini perkiraanku saja lo. Soalnya aku juga tidak melihat dan membaca langsung soal UN tersebut.

Barangkali kalau kita mau jujur, kita cenderung lebih menganggap penting bahasa asing. Eh kita? Aku aja kaleee … hi hi hi. Padahal kalau kita tidak menguasai bahasa utama kita dengan baik (dalam hal ini bahasa Indonesia), belajar bahasa asing akan lebih sulit. Kalau dari pengalamanku aku melihat orang yang bisa berbahasa Indonesia dengan sangat baik, memiliki kemampuan bahasa asing yang baik pula.

Ngomong-ngomong, pernahkah punya pengalaman sulitnya berbahasa Indonesia?