Aras-arasen

Libur Lebaran sudah lewat. Banyak orang ini barangkali adalah hari pertama masuk kantor. Mungkin masih banyak aras-arasen? Aras-arasen adalah istilah bahasa Jawa yang artinya kira-kira enggan untuk memulai suatu aktivitas. Biasanya aras-arasen itu kita rasakan saat kita baru bangun tidur atau bisa juga setelah liburan–entah libur panjang atau pendek sama saja. Artinya dekat dengan malas, tapi menurutku aras-arasen agak beda dengan malas. Barangkali ada teman-teman yang bisa menjelaskan istilah ini dengan lebih ciamik? Monggo kemawon, bisa jadi bahan postingan lo. 🙂

Aras-arasen ini memang susah-susah gampang mengatasinya. Mungkin kalau diibaratkan orang bangun tidur, aras-arasen ini kondisi yang kata orang disebut: “nyawanya belum ngumpul.” Nah, jadi bagaimana mengatasinya? Kalau orang baru bangun sih caranya bisa dengan cuci muka atau malah mandi sekalian. Jadi segar kan? Atau mulai beraktivitas kecil-kecil, seperti jalan-jalan di halaman sebentar. Asal kena udara luar sedikit dan sinar matahari yang hangat, biasanya rasa itu akan hilang. Itu kalau aku sih.

Nah, tapi kalau aras-arasen ini melanda kita di tempat kerja, bagaimana dong? Masalahnya, aku sudah lama tidak ngantor sih, jadi lupa deh. He he. Tapi aku sebagai orang yang bekerja di rumah juga pernah dilanda aras-arasen kok. Kalau dulu di kantor, lihat teman yang dengan rajinnya bekerja di depan komputer, aras-arasen itu biasanya perlahan-lahan mulai hilang. (Kayaknya rajin itu menular deh ya?) Sekarang biasanya aku akan mulai baca-baca lagi pekerjaan yang aku tinggalkan. Kalau aras-arasennya agak parah, biasanya aku memaksa diri untuk mengambil sapu. Hehe, jadi OB. Sepertinya menggerakkan badan bisa jadi obat.

Lalu, kalau aras-arasen ini berkaitan dengan ngeblog bagaimana? Males nulis dan tidak tahu mesti posting apa. Kalau ini lebih gampang cara menanggulanginya. Caranya adalah dengan blogwalking. Terutama berkunjung ke teman-teman yang rajin posting. Biasanya jadi terpicu deh. Lihat si A sudah posting sekian puluh dalam seminggu (eh, ada nggak sih orang yang kaya gini?), kita jadi semangat kan?

Betewe, sebenarnya siang aku ini juga aras-arasen. Sepertinya ini karena tidur siang. Padahal nggak lama lo tidurnya. Bangun tidur pengennya cuma baca-baca novel. Gimana pekerjaan mau rampung kalau begitu? Makanya aku memaksa diri untuk nulis. 😀 😀 Dan sampai di pengujung tulisan ini, sepertinya rasa aras-arasen ini sudah mulai berkurang. Yeaaaah! Mari mulai bekerja lagi. 🙂

Kamu pernah aras-arasen juga? Bagaimana mengatasinya?

Advertisements

Rindu Bahasa Ibu dan Jumpa Blogger

Beberapa bulan yang lalu, aku mendapat email dari seorang kakak asramaku yang kini tinggal di Prancis. Dia menanyakan bagaimana caranya membuat blog. Katanya, dia rindu bisa menyampaikan pemikirannya dengan bahasa Indonesia. Ya, kira-kira begitulah. Meskipun dia sudah bermukim di sana belasan tahun dan menguasai bahasa Prancis, tapi dia merasa tidak sefasih orang lokal. Jadi, bisa kubilang dia merindukan bahasa ibunya.

Aku sendiri pernah mengalami hal semacam itu. Pertama kali aku pindah ke Jakarta, mendadak lidahku kangen mengobrol dengan bahasa Jawa. Tapi dengan siapa? Jelas aku tidak bisa bercakap-cakap memakai bahasa Jawa dengan suamiku. Aku menikah bukan dengan orang Jawa. Akhirnya, kerinduanku ini tersalurkan ketika aku bertemu dengan teman-teman bekas kantorku dulu, dengan temanku semasa SMP yang tinggalnya hanya selisih beberapa gang dari rumahku, dan … dengan beberapa pedagang di pasar. 😀 Lucu ya? Memang para pedagang di pasar tak jauh dari tempat tinggalku dulu banyak yang orang Jawa. Jadi, aku bisa bertransaksi dengan bahasa Jawa. Rasanya jadi lebih akrab. Padahal ya cuma beli kangkung, sawi, atau wortel. Dan aku biasanya jadi pelanggan para pedagang Jawa itu.

Aku dibesarkan di Jawa, di lingkungan yang hampir semuanya orang Jawa. Jadi, bahasa ibuku ya bahasa Jawa. Menurutku, aku lebih bisa memasukkan unsur “roso” (rasa) jika aku bicara dengan bahasa Jawa. Aku sulit menjelaskan soal ini. Gampangnya, bicara dengan bahasa Jawa itu seperti mengikutsertakan hati, begtu deh. Hehe. Dan salah satu akibatnya, aku jadi lebih akrab ketika bertukar pikiran atau bercakap-cakap ala kadarnya dengan orang lain dengan bahasa Jawa. Terlalu berlebihan kah? Entahlah. Tapi itulah yang kurasakan.

Dulu aku tidak terlalu merasakan kerinduan bahasa ibu sebelum menikah dan pindah ke Jakarta. Kerinduan bahasa ini semakin kurasakan ketika suatu kali aku ikut pulang suamiku ke Belitung. Di sana, para penduduk kebanyakan berbicara dengan bahasa Melayu dan di kalangan keluarga suamiku, mereka bicara dengan bahasa Kek. Akibatnya … aku plonga-plongo haha! Memang sih, aku masih bisa bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia. (Bahasa Melayu kan akarnya bahasa Indonesia, kan? Jadi banyak kesamaannya.) Tapi kok rasanya seperti kurang plong gitu ya? Nah, suatu kali aku bertemu dengan orang Jawa yang tinggal di Belitung. Dan serta-merta aku bicara dengan bahasa Jawa dengan orang tersebut. 😀

Pernah suatu kali aku saking “sakaw”-nya bercakap-cakap dengan bahasa Jawa, aku telepon orang rumah hanya agar bisa menyalurkan kerinduan lidahku itu. Kalau tidak, aku mengirim SMS kepada kakak atau temanku dengan bahasa Jawa.

Kini salah satu kebiasaanku selama tinggal di Jakarta adalah bicara dengan bahasa Jawa saat bertemu dengan sesama orang Jawa. Memang lalu tidak langsung pakai bahasa Jawa terus sih. Masih diselingi bahasa Indonesia. Dan satu hal lagi, aku sulit sekali mengadopsi pemakaian kata ganti “elu” dan “gue”. Entah kenapa, sulit sekali dan cenderung tidak bisa. Ya, pernah sih aku memakai kata “elu” dan “gue”, tapi itu jarang sekali.

Nah, Senin siang yang lalu (tgl 30 Juli), aku mendapat kesempatan bertemu dengan Donny Verdian (DV) di Pacific Place. Begitu dia datang, seketika aku langsung ingin bicara pakai bahasa Jawa dengannya. Dan memang rasanya canggung saat mengobrol pakai bahasa Indonesia dengannya. Tapi, tentu saja kami tidak bisa mengobrol pakai bahasa Jawa, karena selain dengan DV, ada Mbak Imelda, Joyce–istrinya DV, Odilia, dan kemudian suamiku menyusul bergabung bersama kami. Jadi, obrolan dengan bahasa Jawa tertunda dulu. Hanya jadi selingan. 🙂 Aku tidak ingin mereka yang tidak fasih bicara bahasa Jawa jadi bengong.

Aku senang bisa bertemu dengan mereka. Jujur saja, mereka adalah pendorongku saat aku kumat malasnya dalam ngeblog. Tahu sendiri kan, DV selalu bisa diandalkan posting setiap Senin dan Kamis–kecuali jika dia pamit hendak libur. Sedang Mbak Imelda? Jelas, dia rajin sekali nulis blog. Tulisannya di blog entah sudah berapa ribu. Dan barangkali aku mesti menggosok-gosok lampu ajaib supaya dapat bantuan jin cakep agar jumlah postinganku bisa menyaingi Mbak Imelda. 😀 😀

Saat sudah sore dan sudah mendekati jam buka puasa, kami hendak bubaran. Tapi, masih ada satu blogger yang kantornya tidak jauh dari tempat kami kopdar, yang sudah bersiap bertemu dengan kami. Siapa lagi kalau bukan Om NH? Ah, akhirnya setelah sekian lama, aku bisa bertemu dengan si Om penggemar bubur ayam ini. Lengkap sudah acara kopdar kami. Jadi, meskipun aku mesti meluangkan waktu di sela-sela usahaku untuk meringkus singa mati (baca: deadline/tenggat pekerjaan), rasanya tidak sia-sia karena kerinduan untuk bertemu mereka tuntas sudah! 🙂 Semoga aku tetap ingat untuk menambah tulisan di blog. Amin!

Dari kiri ke kanan: Om NH, DV, Mbak Imelda, aku.

Foto: didapat dari “nyolong” koleksi Mbak Imelda. (Pinjem ya Mbaaaak :))