Helm

Untuk urusan menaati peraturan lalu lintas, aku banyak diingatkan oleh orang tuaku. Bukan diingatkan secara literal sih, tetapi ada beberapa hal yang diteladankan oleh orang tuaku. Misalnya, untuk pemakaian helm. Dulu, di awal-awal helm wajib dikenakan oleh pengendara sepeda motor, orang tuaku membeli helm standar. Padahal, kalau mau murah, bisa beli helm plastik ringan yang biasa disebut “helm ciduk” atau kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, artinya helm gayung–karena terbuat dari plastik yang ringan (bentuknya seperti helm proyek). Waktu itu, belum ada standarisasi helm, jadi banyak orang masih pakai helm plastik murah seperti itu. Aku sempat juga punya helm ciduk itu, karena aku kurang suka pakai helm besar yang sebetulnya lebih aman. Lagi pula, banyak teman sebayaku yang pakai helm ciduk. Kesannya lebih gaya! Padahal lebih membahayakan kalau kita jatuh.

Suatu kali aku hendak pergi naik sepeda motor. Kupakai helmku asal-asalan dan tidak kukancingkan talinya. Waktu itu aku sedang membonceng ibuku. Lalu ketika baru jalan beberapa meter, Ibu mengingatkan, “Ayo, tali helmnya dikancingkan.” Dengan enggan, aku mengacingkannya. Padahal males banget deh. Kenapa sih repot-repot mengacingkan helm padahal banyak orang toh tidak mengancingkan helmnya? Pede aja deh tidak akan kenapa-kenapa di jalan.

Seiring berjalannya waktu, aku akhirnya jadi sadar sesadar-sadarnya bahwa memakai helm ketika naik motor itu penting sekali. Dan untunglah kesadaran itu muncul meskipun aku tidak pernah mengalami kecelakaan parah. *Amit-amit deh!* Beberapa kali aku mendengar orang menceritakan peristiwa kecelakaan tetapi si korban tidak terselamatkan hanya karena helm tidak dikancingkan, membuat aku jadi merinding. Dan akhirnya aku mengganti helm cidukku dengan helm yang cukup kokoh. Seingatku aku sudah beberapa ganti helm, tetapi belakangan aku selalu pakai helm SNI–atau aku biasanya menyebutnya helm standar. Oiya, tentu saja kebanyakan aku pakai helm kalau di Jogja atau di Madiun ya. Kalau di Jakarta (seperti sekarang ini), aku bahkan tidak punya helm, karena aku hampir tidak pernah naik motor. Ke mana-mana naik kendaraan umum saja deh kalau di sini. 😀

Kenapa sih aku menulis soal helm? Ini gara-gara di sini aku sering melihat orang tidak pakai helm saat naik motor. Atau kalaupun pakai, mereka pakainya asal saja. Tidak dikancingkan talinya. Atau yang pakai hanya orang yang menyetir motor, sedangkan orang yang dibonceng di belakangnya tidak pakai. Atau yang parah, dua-duanya tidak pakai … dan ngebut!

Aku sendiri merasa kesadaran masyarakat Jakarta pada umumnya mengenai peraturan lalu lintas masih kurang. Contohnya ya itu tadi, soal helm. Sepele tampaknya ya? Tapi banyak sekali yang menyepelekannya. Bukan hanya orang muda yang tidak mengindahkan aturan pemakaian helm ini. Laki-laki, perempuan, tua, muda, sama saja. Dan itu tidak hanya di jalan kampung lo. Di jalan protokol sering kulihat orang bermotor lewat dengan santainya tanpa pakai helm. Dan yang lebih dodol lagi, polisi yang melihat diam saja! Heran.

Aku hanya berpikir, itu orang-orang gimana ya mikirnya? Mungkin mereka nggak pernah melihat atau mengalami kecelakaan parah sehingga belum sadar pentingnya memakai helm. Dan yang aku heran, kenapa justru di ibukota ini banyak orang yang tidak mengindahkan peraturan lalu lintas tersebut? Rasanya kalau aku pulang ke Madiun, orang-orang masih tertib lo memakai helm. Jauh lebih tertib ketimbang orang Jakarta. Sebetulnya, ada apa sih dengan orang-orang Jakarta ini? Kesanku mereka tidak pedulian. Dan kalau aturan yang sepele seperti ini saja tidak diindahkan (padahal sebetulnya untuk kepentingan mereka sendiri), bagaimana dengan urusan yang lebih serius ya?