Menulis Juga Butuh Keberanian

Sebenarnya ada berapa banyak tulisan yang sudah kubuat? Aku tak menghitungnya. Ada yang sudah jadi. Ada pula yang kubiarkan saja mereka tidur-tiduran dalam komputer alias ngendon di dalam sini… ya di dalam komputer sini. Ada yang isinya curcol, ada yang bentuknya opini, ada yang fiksi, ada yang baru kumpulan ide, dan ada yang yah … tidak jelas apa bentuknya. Tetapi aku betul-betul tidak menghitungnya.

Saat aku membongkar onggokan file di komputer, aku sering terkaget-kaget melihat aneka ragamnya tulisanku. Kadang aku heran, kok bisa sih aku menulis seperti itu? Ada yang kelihatannya sok bijak (padahal, aduuuuh … siapa sih aku ini? Ngomong eh, nulis aja bisanya. Kalau suruh menjalaninya, belum tentu bisa); ada yang sok puitis (yaelah … serasa bukan aku deh yang nulis); ada yang mencoba melucu tapi sama sekali nggak lucu; ada yang lebay selebay-lebaynya!

Beberapa file tulisanku menunjukkan tulisan yang belum jadi. Ibarat lukisan, aku baru membubuhkan warna dasar dan sket tipis. Niatnya sih pengen menulis yang bisa membuat hati orang tersentuh. (Duh … duh …) Yang bisa mengalirkan kata-kata dengan begitu ajeg dan tidak membosankan. Pengen rasanya bisa memasang kata-kata yang indah tetapi tetapi tidak berlebihan, yang begitu dijejerkan akan membuat hati adem, lalu terkiwir-kiwir mengikuti aliran ceritanya. Sayangnya kok belum mampu ya? Awalnya sih bisa, tapi begitu sampai di tengah, mendadak macet. Ibarat sepeda motor butut yang businya terkena cipratan air hujan. Det…det…det … Haiyah kono ora iso mlaku! (Nah lo, nggak bisa jalan!)

Dari deretan tulisan yang tidak jelas itu sebenarnya ada beberapa tulisan yang sudah jadi. Sayangnya, entah bagaimana aku tidak punya cukup keberanian untuk memasangnya di tempat umum–walaupun hanya di blog atau kutempelkan di notes di FB. Keberanianku untuk memajangnya sama sekali tidak ada. Tak ada bara keberanian sedikit pun! Jenis tulisan yang tidak berani kupasang salah satunya adalah tulisan berisi uneg-uneg. Selain itu juga tulisan fiksi. Untuk yang fiksi, aku masih khawatir kalau tulisanku itu nanti dijiplak orang. Weleh, siapa juga yang mau menjiplak ya? Kualitas belum pasti bagus aja sudah gaya amat! Hihihi. Lalu ada juga tulisan-tulisan yang isinya sok bijak. Halaaah … malu aku kalau membacanya. Aku takut nanti ada orang yang mencibir, “Ah elu, bisanya nulis doang, nggak bisa menjalaninya.” (Hhh … ya, memang kadang aku bisanya menulis doang, menjalaninya ya belum tentu bisa.)

Kemarin, aku iseng-iseng memasang status di FB begini: Writing needs a lot of practices. Ya, untuk menulis memang dibutuhkan latihan. Jadi, anggap saja onggokan file berisi tulisan tak berguna itu sebagai ajang latihan. Nah, ada salah satu temanku, Meira, memberi komentar bahwa untuk menulis juga dibutuhkan kepercayaan diri, berani malu. Wah, benar juga ya! Kesannya menulis itu hanya aktivitas biasa di belakang layar. Tapi untuk menampilkan karya kita, memang dibutuhkan suatu kepercayaan diri dan keberanian. Kalau tidak berani, ya akhirnya tulisan-tulisan kita akan ngendon di dalam komputer saja. Menaruh tulisan di blog atau di media umum lainnya itu berisiko loh–bisa dikritik orang, bisa dibilang jelek, tetapi bisa juga disanjung, dipuji ke sana-kemari. Rata-rata orang akan senang jika tulisannya disukai. Tetapi berani nggak sih, demi bisa menghasilkan tulisan yang bagus dan bermutu, kita berani memasang tulisan untuk dinilai, dikritik orang? Beranikah kita memajang tulisan yang berisi opini kita yang “tidak umum” alias bisa menuai kritik karena pendapat kita tidak sama dengan pendapat kebanyakan orang? Beranikah kita memajang tulisan kita yang memang masih berupa hasil latihan, dan tidak bagus-bagus amat jika dibandingkan tulisan orang-orang yang memang sudah mahir dalam menulis, yang jika menulis pasti mendapat pujian? Memang tidak enak sih dikritik. Memang tidak enak jika harus menerima masukan yang mengatakan bahwa tulisan kita tidak menarik. Memang tidak enak mendapati kenyataan bahwa tulisan kita tidak laku.  Tetapi untuk bisa menulis dengan bagus kupikir butuh latihan dan keberanian. Dan ini merupakan tantangan juga buatku 😉

Ngomong-ngomong, butuh apa lagi ya supaya bisa menulis dengan baik?

*Terima kasih buat Meira untuk komentarnya kemarin 🙂

Advertisements