Malam Mingguan di Jogja

Kisah malam mingguku rata-rata biasa. Nyaris flat–mulai dari ketika di asrama zaman kuliah dulu sampai sekarang. Kalau zaman SMP atau SMA, kayaknya agak meriah.

Ketika di asrama, aku biasanya tetap di unit (di kamar) ketika malam minggu. Walau saat itu pernah punya pacar, tapi pacarku itu nyaris enggak pernah ngapeli. Hahaha. Keciaaan! Soalnya dia tidak punya motor atau kalaupun ada motor, dia mesti berbagi dengan saudaranya. Ini bodonya aku atau gimana ya? Pilih pacar kok enggak bermodal gini? Wkwkwk. Pernah juga punya pacar yang lumayan cakep, aku diperlakukan seperti putri, kalau malam minggu rajin datang, e… tapi tidak lama kemudian putus karena beda agama dan aku sudah dapat warning dari orang tuaku. Ya sutra lah. Mau gimana lagi, daripada nanti malah sakit hati semua, ya kan? Intinya, selama kuliah, aku lebih sering nonton teman yang diapeli pacarnya di asrama ketimbang dipanggil ke ruang tamu karena ada tamu spesial.

Karena malam minggu menjomblo begitu, aku kadang ikut teman-teman jalan-jalan ke Jalan Solo atau ke Mirota. Itu adalah hiburan anak asrama waktu itu. Ke Jalan Solo untuk beli gethuk lindri di depan Ginza atau sekadar lihat-lihat di Gardena. Kalau ke Mirota, tujuannya untuk belanja bulanan atau sekadar window shopping.

Aku tidak terlalu banyak tahu (atau malah memang tidak tahu?) suasana malam minggu di pusat kota Jogja. Sungguh pergaulanku tidak keren, ya? Seingatku, paling aku ikut mengajar di YSS, lalu pulang diantar oleh relawan-relawan lain. Waktu itu memang belum dibolehkan membawa sepeda motor sendiri di asrama. Mesti ada izin khusus dari Suster. Dan aku baru bawa motor ketika menjelang lulus. Tapi seingatku aku agak jarang keluar asrama waktu itu. Jadi, memang aku kurang update mengenai suasana malam minggu di Jogja.

Itu tadi cerita zaman masih muda. Sekarang? Kalau sekarang, aku malah hampir selalu ngumpet di rumah ketika malam minggu atau long weekend. Alasannya sudah jelas: Jogja ramaiii pol! Banyak bus wisata dan kendaraan dari luar kota yang memenuhi jalan. Mau ke tempat makan penuh. Di jalan macet. Jadi, ketimbang cari masalah di luar, lebih baik tinggal di rumah saja. Aku aman, tentram, dan bahagia bersama kucing-kucingku.

Namun, semalam aku keluar dari kebiasaanku mengumpet saat malam minggu. Aku mesti ke Stasiun Tugu menjemput orang tuaku. Aku agak cemas, meskipun jalan menuju ke sana bukan rute sulit. Tapi aku tak bisa membayangkan kemacetannya. Dari rumah (rumahku di utara) sampai mendekati Jetis, perjalanan masih lumayan lancar. Ada kemacetan di beberapa titik, tapi lumayan lah. Tidak parah. Lalu, sampailah aku di jalan Mangkubumi dan hampir dekat stasiun. Astaga! Aku meratapi kebodohanku ketika baru sadar bahwa pintu keluar stasiun ada di Jalan Pasar Kembang. Baiklah, aku mesti ke arah Jembatan Kewek, lalu mengikuti jalan memutar ke arah Malioboro. E… lha kok ternyata jalan menuju Malioboro ditutup! Alamakjang! Aku mesti jalan sampai Kridosono, nih pikirku. Tapi ternyata jalan ke arah Malioboro yang dekat Kafe Legend itu ditutup juga. Pusing dong aku membayangkan mesti ke arah perempatan Tugu lagi karena macetnya di titik itu lumayan bikin pegel kaki menekan kopling.

Akhirnya aku jalan sampai Samsat, lalu ke selatan ke arah Ngampilan. Aku pikir, gila aja ya kalau aku mesti muter sampai PKU lalu masuk ke jalan Bayangkara. Sungguh rute yang panjang menuju stasiun. Aku pun menelepon teman “penguasa” yang tinggal di daerah sekitar situ untuk minta petunjuk arah. Aku kemudian belok ke arah Yamie Pathuk. Yihaaa… di jalan sesempit itu aku berpapasan dengan bus pariwisata yang segede bagong. Tapi aku bisa melewati tantangan itu dengan baik. Lalu aku belok ke arah Jalan Bayangkara. Ternyata kemacetan di sekitar Tugu dan jalan Mangkubumi tidak ada apa-apanya dibanding Jalan Bayangkara. Kendaraan besar kecil semua merayap. Kaki kiri yang menginjak kopling sudah menjerit-jerit. Saat itulah aku bisa berempati pada supir-supir taksi di Jakarta yang setiap hari menghadapi kemacetan.

Setelah melewati lautan kendaraan, sampailah aku di stasiun. Total perjalanan dari rumah plus muter-muter tidak karuan itu adalah 1,5 jam. Padahal wajarnya 45 menit saja sudah cukup.

Untung, pulangnya jalanan sudah cukup lancar. Hanya beberapa titik saja yang padat. Tapi Gejayan arah utara masih tetap memegang juaranya macet. 😀 😀 Aku sampai rumah sekitar pukul 10 malam.

Bagi orang yang tidak tinggal di Jogja, mungkin akan sulit membayangkan nama jalan atau daerah yang kusebut di atas. Namun, pendek kata, kalau kapan-kapan ingin ke Jogja dan malam mingguan di sini, terutama di daerah Malioboro dan sekitarnya, persiapkan mental menghadapi kemacetan. Kurasa kemungkinan akan sulit juga mengorder ojol. Kecuali kalau mau wisata kemacetan. 😀

Lalu, bagi orang yang naik kereta dan turun di stasiun Tugu pada hari Sabtu, terutama Sabtu malam, mungkin bisa mempertimbangkan naik kereta yang turunnya di Lempuyangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s