Cerita Yogurt

Karena sering sekali makan yogurt, hampir bisa dipastikan aku selalu memiliki persediaan yogurt di lemari es. Selain itu, aku juga selalu punya persediaan susu UHT di lemari persediaan makanan. Jadi, kalau persediaan yogurt menipis, aku bisa langsung membuat yogurt yang baru.

Dulu, aku memakai yogurt yang dijual di swalayan untuk sebagai biang. Yang paling sering kupakai adalah merek Biokul plain. Banyak yang merekomendasikan merek itu sebagai starter, dan aku tidak tertarik mencoba merek lain. Kenapa ya? Takut gagal sepertinya, sih. Namun, belakangan aku mencoba memakai bibit berbentuk serbuk. Dulu aku takut-takut mencoba memakai bibit serbuk. Pertama, karena aku tidak tahu seperti apa rasa yogurt jika memakai bibit serbuk. Kedua, rata-rata harga starter bubuk agak mahal ya dibandingkan Biokul. Ketiga, aku khawatir pembuatan yogurt memakai bibit serbuk harus memakai yogurt maker. Sebenarnya aku punya yogurt maker, tetapi dulu jarang kupakai karena pertama kali mencobanya, yogurtku tidak jadi seperti yang kuharapkan. Jadi, yogurt maker itu menganggur lama sekali. Aku pikir, o … barangkali karena yogurt maker ini harganya murah (tidak sampai 100 ribu), jadi yogurt yang dihasilkan tidak bagus.

Suatu kali, aku browsing di marketplace dan entah bagaimana aku sampai di lapak penjual bibit yogurt yang berbentuk serbuk. Di situ ditunjukkan caranya membuat yogurt. Ternyata mudah sekali, seperti cara yang kupakai selama ini, yaitu hanya memakai stoples kaca yang diselimuti handuk/serbet. Melihat harganya per bungkus yang tidak terlalu mahal (sekitar 20-an ribu), aku lalu membelinya.

Sejak saat itu, aku selalu membuat yogurt dengan menggunakan starter serbuk. Menurutku starter serbuk ini lebih praktis karena aku bisa menyimpan starter yang masih bungkusan di dalam freezer. Kalau Biokul kan masa kedaluarsanya lebih pendek dan tidak bisa disimpan di freezer. Jadi, starter serbuk lebih praktis penyimpanannya dan masa kedaluarsanya lebih lama.

Setelah itu, aku berani mencoba memakai starter bubuk lain. Suatu kali, aku membeli starter merek lain (dari lapak lain). Ketika kucoba kubuat, … jeng jeng … kok hasilnya tidak seperti yang kuharapkan? Padahal, masa fermentasinya sudah sesuai petunjuk. Seingatku sudah 12 jam lebih, deh. Yogurt itu masih belum set dan rasanya masih kurang asam. Lalu aku teringat yogurt maker yang sudah ngendon lama di lemari. Segera kutuang yogurt yang sedang difermentasi itu ke yogurt maker. Dalam waktu sekitar 2 jam, yogurt itu jadi! Yeay! Jadinya bagus sekali. Kental dan tidak terlalu asam. Sejak saat itu, aku selalu membuat yogurt memakai yogurt maker murah yang lama nganggur itu.

Oya, begini caraku membuat yogurt.
Tanpa yogurt maker:

  1. Siapkan susu UHT atau susu pasteurisasi.
  2. Siapkan pula starter yogurt. Bisa pakai Biokul plain, starter serbuk, atau yogurt sebelumnya.
  3. Panaskan susu, tapi tidak sampai mendidih. Kalau punya termometer khusus untuk makanan, cek suhunya sekitar 42 derajat Celsius. Jangan terlalu panas, supaya starter yogurt tidak rusak/mati.
  4. Masukkan starter ke dalam susu hangat, lalu aduk.
  5. Tuang susu yang sudah diberi starter tersebut ke dalam stoples kaca bersih.
  6. Tutup stoples. Selimuti dengan handuk atau serbet. Tujuannya supaya susu di dalam stoples tersebut tetap hangat selama proses fermentasi.
  7. Diamkan susu sekitar 8 jam sampai menjadi yogurt.
  8. Cek kekentalan dan rasa yogurt. Kalau dirasa sudah jadi, masukkan yogurt ke dalam lemari es.

Dengan yogurt maker:

  1. Siapkan susu UHT atau susu pasteurisasi.
  2. Siapkan pula starter yogurt. Bisa pakai Biokul plain, starter serbuk, atau yogurt sebelumnya.
  3. Masukkan susu ke dalam yogurt maker lalu masukkan pula starter yogurt. Aduk perlahan.
  4. Nyalakan yogurt maker lalu diamkan susu yang sudah diberi starter yogurt tersebut selama sekitar 6-8 jam.
  5. Setelah proses fermentasi selesai, masukkan yogurt yang sudah jadi ke dalam kulkas. Tanda yogurt sudah jadi: sudah set dan rasanya asam.

Dari pengalamanku membuat yogurt selama ini, berikut ini beberapa hal yang kupelajari.

  1. Untuk membuat yogurt, susu sebaiknya dalam kondisi hangat. Itulah gunanya yogurt maker, yaitu menjaga agar susu tetap hangat selama proses fermentasi. Tidak panas, ya, tapi hangat suam-suam. Bakteri yogurt itu suka suhu yang hangat. Kalau terlalu panas, dia bisa mati. Ketika memakai yogurt maker, aku tidak perlu memanaskan susu lebih dulu di kompor. Susu bisa langsung dituang ke yogurt maker, lalu masukkan bibit. Bibit itu bisa dari yogurt sebelumnya, bisa juga bibit baru (serbuk/yogurt yang dijual di pasaran).
  2. Tiap bibit yogurt bisa menghasilkan yogurt yang berbeda rasanya. Ada yang asam sekali, ada yang asamnya sedang. Aku lebih suka yogurt yang tidak terlalu asam.
  3. Yogurt yang sudah jadi tidak bisa set atau misah (banyak sekali whey-nya)? Kemungkinan terlalu lama proses fermentasinya atau susu terlalu panas.
  4. Hasil yogurt terlalu encer? Mungkin hal itu dipengaruhi kualitas susu. Aku pernah memakai susu segar, dan hasil yogurtnya encer sekali. Aku pernah membaca, supaya yogurt yang dihasilkan cukup set/kental, mesti ditambahkan susu bubuk. Aku pernah memakai cara ini, dan memang jadinya yogurt lebih kental. Tapi aku meninggalkan cara ini karena kalau memakai susu cair kemasan (UHT atau pasteurisasi), hasilnya lebih stabil dan aku tidak perlu memanaskan susu lebih dulu. Apakah kalau begini susu segar tidak bisa dipakai untuk membuat yogurt? Bisa kok. Ada beberapa teman yang membuat yogurt dari susu segar dan jadinya bagus. Kurasa waktu itu aku gagal karena susu yang kupakai kualitasnya kurang bagus. Aku pernah membuat yogurt memakai susu dari peternakan biara Rawaseneng dan hasilnya bagus.
  5. Apakah perlu memakai yogurt maker? Tidak juga sih, aku dulu hanya pakai stoples kaca. Tapi belakangan aku memang memilih pakai yogurt maker. Aku merasa hasilnya lebih stabil dan lamanya fermentasi lebih terukur. Dengan yogurt maker, aku biasanya melakukan fermentasi yogurt sekitar 6-8 jam.

Begitulah pengalamanku membuat yogurt selama ini. Apakah kamu pernah membuat yogurt sendiri di rumah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s