Doa dalam Helaan Napas

Buatku berdoa tak harus duduk diam lalu mengucapkan kalimat dengan format khusus. Buatku doa bisa dilakukan kapan saja. Ketika napas dan hatiku seperti menyatu dan seiring, lalu kunaikkan sebuah harapan, bagiku itu doa.

Begitu pun pagi ini, tak lama setelah membuka mata, ingatanku melayang padamu. Lembaran rindu luruh dan menumpuk di hati. “Mas Tok,” bisikku. Aku seketika mengingatmu dalam helaan napas. Kuraih ponselku dan kulihat dirimu mengunggah video terbaru. Aku lega dirimu baik-baik saja, seperti yang selalu kuharapkan.

Pandemi belum juga berakhir. Kadang aku diliputi kekhawatiran soal dirimu–meskipun kamu sudah divaksin dua kali. Bagaimana kalau dirimu sakit? Tempo hari di telepon kudengar suaramu sedikit sengau, seperti sedang flu. “Aku capek dan letih, Dik.” Begitu katamu ketika kutanya kabarmu. Lalu bersamaan dengan itu terkirim fotomu sedang istirahat. Untunglah kamu tidak memaksa diri untuk terus beraktivitas. Aku lega. Tapi pandemi yang tak kunjung selesai ini tetap saja membuatku khawatir.

Kubuka jendela dan kubiarkan angin pagi menyegarkan kamar. Dalam tarikan napas, kunaikkan harap dan doa. Aku rindu, aku ingin kita suatu saat nanti bertemu membabat rindu.

-Mas Tok, aku mendoakanmu dalam helaan napasku.
+Doamu selalu melahirkan dan menguatkan rindu, Dik Ning.
-Terima kasih sudah merinduiku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s