Yang Tertumpah di Hari Hujan

Ning
Hari-hari ini kulihat kamu mulai absen muncul di gadget kecilku.
“Aku rindu.” Tulisku singkat.
Tak perlu panjang-panjang menulis untukmu. Lagi pula, rindu yang dijelaskan panjang lebar sama beratnya dengan rindu yang tertulis singkat. Perjumpaan lewat layar maya seperti pengobat rindu. Pandemi masih akan lama. Kurasa masih akan lama pula aku bertemu Mas Tok.

“Apa aktivitasmu hari-hari ini, Dik?”
Aku seperti kesetrum membaca balasanmu. Lalu kujelaskan beberapa deret aktivitas harianku. “Tapi aku pasti kalah sibuk denganmu. Mas Tok kan orang paling sibuk sedunia.” Kalimat itu kuakhiri dengan ikon terbahak.

Kutunggu balasanmu. Dan setelah sekian lama, kamu menulis jawaban, “Aku santai hari-hari ini.” Disusul fotomu di antara kerabat-kerabatmu.

Apakah … apakah ini artinya Mas Tok pulang? Pulang ke …?

Jantungku berdebar. Aku seperti ingin menangis. Oh, alangkah cengengnya aku.

 

Tok
Detak jantungku seperti menderu. Aku tak ingin kejutan ini gagal.
Kupacu kendaraan menembus hujan tipis. Berpuluh kilometer kutembus batas pandemi. Ning… apakah kamu mendengar detak jantungku?

 

Ning
“Mas Tok!”
Kakiku gemetar menyaksikan lelaki yang turun dari kendaraan putih itu. Benarkah yang kusaksikan di balik korden? Mas Tok … forever lover of mine.

 

Tok
“Ning …”
Tak kubiarkan Ning menjawabku. Tak ada yang perlu terucap. Hanya perlu pelukan untuk mengungkapkan rasa. Kucari bibirnya. Masih selembut yang dulu. Tapi kini ia tak malu-malu. Ning lebih berani dan mencari.

“Kita ke mana, Dik?”
Pejamkan matamu, Mas. Akan kubawa kau ke tempat yang teduh. Tempatmu berlabuh dan menumpahkan semua yang ingin kauberikan.

Ning memenuhi kata-katanya. Gerimis yang membasahi tanah kering di luar tak bisa menyamai keringat kami yang membanjiri seluruh tubuh. Ning semakin molek, tubuhnya berlekuk matang. Ia masih seperti 27 tahun silam, tetapi lebih berisi. Ia menuntunku menyusuri kelokan demi kelokan dan seluruh hasratku pun tumpah. Tak tertahan lagi rindu dan hasrat yang kubendung dalam hitungan tahun. Kami meliuk bersama menyatukan gairah.

 

Ning
“Aku rasanya seperti bermimpi, Mas. Kau benar-benar hadir, memberi diri, mencintaiku. Terima kasih.”
Terima kasih, juga ya. Kau membuatku benar-benar menjadi laki-laki sejati.

Di luar basah dan dingin.
Sekujur tubuhku basah oleh keringat Mas Tok.
Tapi hatiku menghangat. Sungguh aku yakin kini kamu adalah milikku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s