Sepotong Teks di Pagi Mendung

Ning kepada Tok

Mendung sejak pagi. Hatiku ikut murung. Aku mencoba mencari semangat dengan membuka akun media sosialmu. Kulihat ada beberapa video yang kamu buat. Tetapi sepertinya membuka akunmu itu bukan pilihan yang tepat. Aku seperti terhantam meteor rindu bertubi-tubi, sehingga aku malah ingin bergelung sambil menangis mengingat dirimu.

Kukirim teks pendek. “Apakah mencintaimu itu suatu kebodohan dan kesia-siaan, Mas Tok?”

Lama tak ada jawaban. Aku berpikir, kamu sudah memulai kesibukan. Jadi barangkali kiriman teks pendekku tak akan terbaca atau malah “nyrimpet-nyrimpeti” langkah. Tapi sesungguhnya aku hanya mencari rengkuhan hangatmu dari jauh.

Sarapan pagiku kulewati dengan sedikit tergesa karena aku terlalu lama di tempat tidur. Rapat daring akan segera dimulai dan pikiranku masih berkelana padamu. Tulisan yang harus kupresentasikan kubaca sekilas. Sementara itu otakku mulai meluncurkan kata-kata tentang dirimu. Tentang pertanyaan-pertanyaan yang harusnya kusampaikan kepadamu tetapi sepertinya mandeg ketika sampai di mataku sehingga menimbulkan sumber air mata.

Aku tak tahu kenapa aku tercipta dengan otak yang memiliki jalan pikiran seperti ini. Yang membuat pikiranku rajin bergulir seputar tentang dirimu. Ingatan akan kenangan masa lalu bersamamu seperti berjalan beriringan dengan masa kini, tentang tepi hutan jati, tentang bulan yang mengintip dari balik awan, tentang genggaman sepanjang jalan ke Sendangsono, tentang berbatang-batang cokelat, tentang diary biru darimu dengan sepotong tulisan di halaman terdepan. Semua beriringan dengan beberapa tumpuk tugas tulisan yang harus kubuat, dengan laporan-laporan, dengan pesanan kue-kue yang mesti selesai akhir minggu, dengan setumpuk cucian, dengan urusan-urusan sepele sehari-hari yang tak pernah selesai.

Dorongan untuk menangis masih berdenyut di ujung mata.

Aku baru saja menyalakan laptop ketika kudengar pesan singkat masuk. “Tentu saja tidak bodoh dan sia-sia, Dik Ning.”

Mas Tok, rindu ini tak akan pernah selesai. Kamu tahu itu.

Di luar kulihat matahari sedikit menyembul. Seperti memberi secercah harapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s