Adakah Cara Cerdik Menghindari Plastik?

Beberapa waktu lalu, aku kebagian menyiapkan snack untuk latihan koor lingkungan. Aku berpikir, jajanan apa yang bisa disuguhkan tetapi tidak nyampah banyak? Terutama jangan ada bungkus plastiknya. Aku langsung terpikir untuk menyiapkan pisang rebus. Sebetulnya pisangnya tidak direbus, tetapi dikukus. Tapi namanya tetap pisang rebus, bukan pisang kukus.

Oke, satu snack sudah terpecahkan. Tinggal satu lagi. Apa ya? Kalau pesan kue, biasanya mesti dibungkusi plastik satu per satu tiap irisannya. Sementara kalau bikin kue bolu sendiri, aku tidak cukup percaya diri dan terutama waktunya bakal uyel-uyelan alias tidak cukup.

Aku lalu ingat tetanggaku biasa membuat tahu bakso. Tapi dia mesti ditanya dulu, apakah bisa membuatkan 25-30 buah saja? Jumlah yang terlalu sedikit menurutku. Untungnya setelah dinego dan ditanya, dia menyanggupi. Dan aku mewanti-wanti, “Jangan dibungkusi plastik satu-satu ya, Mbak.”

“Nanti nggak rapi kalau tidak pakai plastik,” jawabnya.

“Tidak apa-apa. Nanti saya bawa wadah sendiri.”

Kulihat dia masih agak bingung. Aku tahu, dia memang golongan orang yang rapi. Baginya, bakso tahu telanjang tanpa baju plastik akan tampak tidak elok. Tidak sopan. Tapi aku sebagai pemesan benar-benar tidak ingin menambahi jumlah sampah plastik. Lagi pula, umur bungkus plastik hanya hitungan jam. Setelah itu dibuang, jadi penghuni bak sampah beberapa hari, lalu dibawa ke TPA. Hal seperti ini yang tidak kuinginkan.

Urusan bungkus ini memang agak repot, terutama untuk penjual makanan–serta penjual berbagai produk lainnya. Bagaimanapun, bungkus plastik ini memungkinkan sebuah produk bisa menjangkau konsumen yang tempatnya lebih jauh dan tampak bersih–walau sebenarnya aku sering bertanya-tanya, apakah plastik pembungkus itu benar-benar bersih? Kan tidak ada yang mengecek kebersihannya. Kalau tidak ingin berurusan dengan bungkus/wadah plastik, solusinya adalah konsumen membawa wadah sendiri.

Aku sendiri sebagai pembuat (dan kadang macak jadi penjual) sabun mengalami rumitnya menghindari plastik. Untungnya aku masih bisa membungkus sabun dengan kertas dan besek. Aku kadang juga mengumpulkan kardus bekas snack yang masih bersih untuk mengirim sabun bagi pembeli luar kota. Tapi sayangnya, aku masih belum bisa lepas dari selotip plastik dan biasanya aku melapisi wadah terluar dengan plastik untuk mengamankan paket itu dari air (hujan atau keciprat air apa pun selama di jalan).

Aku kadang berharap pemerintah lebih serius mengurusi sampah-sampah plastik ini. Ini bukan soal pilihan karena bumi sepertinya sudah kepayahan menangani sampah plastik. Dan bumi ini cuma satu. Sampah-sampah yang tak terurai itu tidak akan terselesaikan dengan sendirinya kalau tidak kita tangani. Apakah kita mesti menghilangkan plastik sepenuhnya? Apa saja yang bisa kita lakukan dengan sampah-sampah tak terurai ini? Kamu punya solusi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s