Tak Cukup Hanya Mengirim Buku

Tulisan ini murni keinginan untuk mengungkapkan apa yang jadi ganjelan. Timbang nggak bisa tidur. 😀

Sekarang kulihat di masyarakat mulai tumbuh kesadaran soal literasi. Yang paling terlihat adalah adanya program pengiriman buku gratis ke taman bacaan terdaftar di TBM setiap tanggal 17. Itu keren. Bagaimanapun ongkos kirim itu lumayan memberatkan; apalagi kalau yang dikirim buku. Cukup mahal–setidaknya buatku.

Aku mengenal beberapa teman yang mau ikut sibuk dengan menjadi “simpul” pengiriman buku-buku yang akan disumbang. Jadi, kita tinggal berikan buku-buku tersebut, lalu dialah yang nanti menyatukan, mengemas, dan mengirimkan semua buku. Pihak yang akan menyumbang buku pun senang, to? Tinggal ngedrop buku, selesai. Beramal dengan menyumbang buku semudah belanja di warung.

Ada pula teman yang mau repot-repot membawa buku sampai ke daerah terpencil. Keren kan? Keren lah.

Namun, kupikir masih dibutuhkan langkah yang lebih jauh lagi yaitu melakukan pendampingan dalam membaca. Menyebarkan buku itu satu hal, sedangkan pendampingan adalah hal lain.

Aku pernah datang ke sebuah perpustakaan kecil di desa. Perpustakaan itu kecil dan kurang terurus. Sebetulnya di situ banyak anak kecil yang kurasa sangat membutuhkan perpustakaan. Memang di situ bukunya sedikit, tapi tak ada orang yang mengorganisir perpustakaan tersebut. Singkatnya tak ada orang yang membuat perpustakaan itu hidup. Buku-buku dibiarkan menumpuk tak dibaca.

Menghidupkan taman bacaan itu penting. Sama pentingnya dengan menyebarkan buku-buku sampai ke pelosok. Perpustakaan itu butuh orang yang bisa membacakan cerita dengan menarik (story telling), membaca lantang (read aloud), menyusun katalog, menata buku di rak supaya anak-anak (dan orang dewasa) tergugah membacanya, dan masih banyak lagi.

Ah, ya… aku kadang merasa bisanya ngomong doang. Kalau disuruh melakoni sebagai penggiat perpus, aku pasti punya banyak alasan. Levelku paling pol baru memilah buku yang ingin kusumbangkan dari koleksi buku-bukuku. Itu pun masih juga enggak sering-sering amat. Namun, kuharap soal menghidupkan taman bacaan itu semakin banyak yang memikirkannya. Atau barangkali memang sudah banyak yang memikir dan menggarapnya? Aku saja yang kuper kalau begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s