Merasa Dicintai

Aku menemukan puisi ini sekian belas tahun lalu. Entah di mana ya dapatnya, aku lupa. Menurutku menyentuh sekali. Puisi ini kutulis di sampul sisi dalam Puji Syukur-ku

Yesus, aku mencintai Engkau yang terlahir sebagai bayi
dalam kandang dan palungan
Kala itu Kau menangis
karena dinginnya hatiku
dan bekunya pikiranku

Yesus, aku mencintai Engkau yang tergantung pada salib
terbilang sebagai penyamun dan penjahat
Kala itu Kau mengeluh
karena aku meninggalkan Kau sendiri
tak berkawan, tak tersapa

Namun, Yesus, aku lebih mencintai Engkau
yang berada di atas patenaku
digenggam oleh tanganku yang berlumur dosa
Engkau tidak menangis dan mengeluh
Dikunyah oleh mulutku yang berbusa salah
Engkau tidak menegur dan meradang
dalam hatiku sekhianat Yudas
Engkau diam seribu bahasa…

Penggalan puisi ini sering terngiang di telingaku setelah aku menyantap komuni. Rasanya Yesus begitu dekat, dan betapa tidak pantasnya aku. Lebih dari sekadar mendengar seseorang yang berkata, “Aku mengasihimu”. Tidak hanya begitu, tapi Dia melebur dalam kefanaanku.

Sulit rasanya aku menjelaskan.

Tapi rasanya seperti dicintai sepenuh-penuhnya. Cinta yang sederhana dan menguatkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s