Pertemuan di Bawah Rumpun Bambu

Harus kuakui aku pelupa. Aku lupa kapan terakhir kita bertemu. Lima tahun? Kurasa lebih. Pasti lebih.

Samar-samar kuingat pertemuan terakhir kita. Kita belanja di ITC, bukan? Lalu pulangnya naik taksi bersama. Aku pun samar-samar ingat kita sempat ke gereja bersama. Sungguh aku lupa apakah benar kita sempat misa bersama sebelum kamu pulang. Tapi beberapa kali kita memang misa bersama. Aku ingat kita naik bajaj berdua dan kamu membayari ongkosnya. Dari situ aku belajar menaksir berapa ongkos bajaj yang wajar. Aku tahu, kamu tetap memberikan ongkos yang semestinya pada tukang bajaj–tidak kemahalan, tidak pula kemurahan.

Ya, aku banyak lupa kejadian pada saat pertemuan terakhir kita. Yang kuingat adalah beberapa kali kita berkabar lewat SMS. Lalu aku sempat meneleponmu sebentar. Seingatku kamu hanya mengatakan kondisimu sedikit kurang baik karena sulit berjalan? Ya, ampun. Aku sungguh lupa. Tapi saat itu aku sadar kamu pasti memang tidak baik-baik saja. Mestinya aku pergi dan menengokmu. Tapi aku memang punya seribu alasan yang menahanku untuk tidak pergi melihatmu. Mungkin kamu tahu sekarang karena kurasa tak ada lagi yang bisa kusembunyikan darimu.

Seandainya kamu masih punya waktu, mestinya kemarin kita masih bisa berkabar. Oh, tentu saja aku punya banyak pertanyaan untukmu. Bukan pertanyaan basa-basi. Aku tak bisa benar-benar berbasa-basi padamu karena denganmu aku selalu punya banyak cerita yang bisa dibagi. Mungkin aku akan sengaja membeli nomor khusus agar bisa meneleponmu cukup panjang. Hei, kamu pernah juga kan membeli nomor dari provider tertentu agar kita mengobrol cukup lama? Aku ingat kok.

Hari ini, setelah lewat lima tahun, aku baru “berani” dan berkesempatan datang menemuimu. Sebelumnya aku membayangkan akan duduk berdua saja denganmu. Bayanganku, “rumahmu” hanya bata tertata rapi, di bawah naungan rumpun bambu. Tapi ternyata lebih bagus. Kurasa kalau kamu bisa memilih, kamu akan memilih tegel keramik yang warna biru, kan–seperti warna kesukaanmu? Tapi ternyata tegel “rumahmu” berwarna pink. Dalam hati aku tertawa. Mungkin kalau bisa berseloroh langsung padamu, aku akan bilang, “Haiyah, jebule warnane pink, Mbak! Hehe.”

Kamu memilih rumah terakhir yang syahdu, dikelilingi bambu petung yang besar-besar. Aku takjub bambu-bambu yang begitu gagah di sekeliling rumahmu. Bambu-bambu itu jauh lebih besar daripada bambu yang tumbuh tak jauh dari rumahku. Kamu masih ingat, kan?

Di rumahmu masih ada sisa bunga tabur yang sudah layu. Itu artinya belum lama ini ada yang menyambangimu. Ada yang mendoakan dan mengajakmu berbincang dalam hati. Kamu memang dikelilingi orang-orang yang mencintaimu, setiap orang seolah menyimpan ruang untuk memajang kenangan yang baik tentang dirimu.

Sebenarnya aku takut akan butuh banyak tisu saat datang mengunjungimu. Mungkin itu pula yang menahanku untuk datang berkunjung. Tapi hari ini aku mesti berbangga pada diriku sendiri bahwa aku cukup bisa menguasai diri.

Malam ini, seolah kenangan demi kenangan keluar dari kotaknya. Berserak melingkupiku. Menyergapku dengan kepungan rasa. Aku memang lupa bagaimana pertemuan-pertemuan terakhir kita. Tapi tentu saja aku ingat bagaimana kita berjalan keluar dari unit lalu naik ke kafe untuk makan siang setelah kita “mager” lalu tertidur di unit, padahal mestinya kita lebih rajin menggarap skripsi. Aku ingat kita pernah menyusuri jalan Solo, membeli klepon. Aku ingat teh hangat yang kamu buatkan. Rasanya aku pun masih ingat aroma losion yang kamu pakai setelah mandi.

Malam ini, aku teringat “pertemuan” kita tadi siang di bawah rumpun bambu. Aku tak ingin lupa, jadi aku perlu mencatatnya sedikit di sini. Aku juga sempat memotret fotomu yang dipajang di ruang tamu. Boleh kan kusimpan di sini untuk kenang-kenangan?

Mbak Tut...
Mbak Tut…

Hari ini aku merasa lega karena pada akhirnya aku bisa datang menyaksikan rumah peristirahatanmu yang terakhir. Aku perlu berterima kasih pada Mbak Rini. Tanpanya aku mungkin tak akan pernah berani datang berkunjung.

Tentu saja aku masih kangen padamu. Kusadari kini bahwa setiap rasa kangen tak selalu harus dituntaskan. Kurasa kangen itu perlu. Kangen itu menjaga kenangan agar tetap hidup di dalam hati.

Oya, selamat Natal ya. Pesta natalmu di sana pasti lebih meriah karena dalam keabadian kamu pasti telah merasakan cinta.

 

 
26 Desember 2016.
Tulisan untuk mengenang kunjungan ke makam Mbak Tutik (S. Yuni Hariastuti).

Advertisements

2 thoughts on “Pertemuan di Bawah Rumpun Bambu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s