Tentang “Pulang” dan Secuil Cita-cita

Beberapa minggu lalu, aku melihat spanduk yang menyebutkan Gramedia Sudirman Jogja sedang mengadakan diskon besar. Aku pikir, nanti deh aku ke sana. Tapi aku ke Gramedia hanya dua kali. Itu pun menjelang diskonan berakhir. Sebetulnya aku pikir aku hanya akan lihat-lihat saja. Bokek lama-lama beli buku melulu. Timbunan makin tinggi saja. Fyuh… #ngekep dompet kenceng-kenceng. Tapi entah kenapa aku selalu luluh melihat harga buku anak dan resep yang miring. >,< Aku selalu nggak tahan dengan dua macam buku itu. Hiks. Kalau beli buku anak, alasannya: untuk belajar. Yaelah, buku referensi sudah banyak, tapi yang keluar baru seuprit. Hmm, biar seuprit tapi menyabet Second Prize Winner di ajang Samsung Kidstime Author’s Award, Singapore. Uyeaaah! *sombong.

ini si Widi dan bubur merah putihnya

ini si Widi dan bubur merah putihnya

Oke, menang sih senang ya. Tapi mestinya aku tidak hanya berhenti di situ. Bikin lagi, kek! Nggak hanya jago bikin alasan. Iya, kan?

Hmm, sampai mana tadi? Oh, ya aku sempat membeli buku di Gramedia. Yang diskon, tentunya ya. Nah, waktu melihat buku-buku yang digelar itu, aku dikejutkan oleh suara sapaan. Eh, tidak disangka aku bertemu temanku semasa kuliah. Dia tinggal di Kupang, dan waktu itu dia sedang mengantar istrinya yang orang Jogja untuk melihat-lihat buku. Senang juga ketemu teman lama. Tapi yang agak menohok, dia bilang dia pangling melihatku karena aku sekarang lebih gemuk. Hihihi. Ya, harus diakui, memang begitulah kenyataannya. (Jadi ingat mesti lebih rajin jalan pagi di Embung, deh.) Lalu, dia tanya, apakah aku melanjutkan studi sampai S2. Aku jawab tidak.

Dulu, ada masa aku ingin sekolah lagi. Tapi seiring berjalannya waktu, keinginan itu menguap. Mungkin karena aku kurang gigih berjuang. Tapi mungkin juga aku tidak punya “objektif” yang kuat. (Kok kaya membahas penyusunan karakter dalam naskah fiksi, ya?) Dulu aku pikir, kalau bisa sekolah lagi, keren aja. Iya, keren. Biar kaya orang-orang. Biar bisa foto-foto dengan latar luar negeri. Kaco banget, deh.

Tapi sekarang aku tidak berminat sekolah lagi. Mungkin karena aku malas belajar sebenarnya. Dan setelah kurenungkan, cita-citaku bukan itu. Bukan sekadar bisa foto-foto dengan latar yang cantik. Indonesia juga punya pemandangan yang cantik, kali. Tergantung kelihaian fotografernya saja.

Setelah aku ikut workshop yang diadakan Room to Read tahun lalu, rasanya cita-citaku seperti diperjelas. Cuma ya itu, semangatnya itu loh… susah banget mompanya, ya? Pompa semangat itu kutemukan lagi ketika beberapa hari lalu aku bertemu dengan teman-teman dari Book for Mountain. Mereka ini kegiatannya berkeliling ke desa-desa untuk mengajak anak-anak membaca. Kurang lebih begitu. Aku setidaknya itu yang kutangkap dari obrolan kemarin. Mereka kesulitan menemukan buku yang pas untuk disajikan pada anak-anak di desa. Mereka menginginkan buku anak yang Indonesia banget dan berkualitas. Waktu aku tunjukkan buku-buku hasil workshop Litara-Room to Read, mereka bilang, ya buku-buku seperti itulah yang mereka butuhkan. Tapi buku-buku seperti itu cari di mana dong? Buku yang kutulis di bawah payung Litara itu sayangnya tidak dijual. Dibagi gratis ke beberapa sekolah yang dipilih oleh Room to Read. Di toko buku, beberapa buku anak yang ada berupa kumpulan cerita (jadi tebal) atau kadang malah buku terjemahan. Kendala buku anak yang terjemahan itu–konon–nama tokoh yang sulit diucapkan bagi anak yang sedang belajar membaca. Plus latar belakang budaya yang berbeda juga. Semacam kurang “gue banget”.

Balik ke soal sekolah tadi, aku rasa saat ini aku hanya ingin “pulang”. Sekolah menjadi sesuatu yang jauh dan aku membayangkan betapa malasnya aku jika harus duduk di kelas dan mengerjakan tugas. Aku lebih ingin duduk-duduk di rumah, baca buku, lalu akhirnya bisa menulis lagi. Karena dalam suasana rumahan, pikiran jadi lebih tenang, dan jadi punya waktu untuk merenung.

Lagi pula, biaya sekolah mahal sekali. Untuk berjuang mendapatkan beasiswa, aku lebih malas lagi. Saingannya banyak. Muda-muda. Dan pasti mereka lebih punya semangat tinggi. Mungkin saat ini pilihanku berbeda dan tidak membanggakan. Tapi tidak apa-apa, kan?

2 thoughts on “Tentang “Pulang” dan Secuil Cita-cita

  1. Sama. Gw juga dari dulu ya pengen sekolah s2 tp skrg udh males. Hahaha

    samaaaa… lebih pengin main dan baca-baca buku aja sih kalau aku. sama bikin-bikin apa gitu, yang emang aku pengin.

  2. terkadang ada masanya dimana seseorang harus merelakan cita cita demi kepentingan keluarga, sehabis saya baca ini jadi sedih, teringat berhenti kuliah untuk bela belain adik dua orang lagi yang masih sekolah dan mereka butuh biaya yg besar…

    iya, kadang kita perlu melepaskan cita-cita kita sendiri demi cita-cita orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s