Obrolan Soal Asma

Beberapa waktu lalu, aku ketemu seorang teman. Dia seorang trainer di gym. Atau semacam itu lah, persisnya aku kurang tahu. Dia cerita, dulunya dia penderita asma. Tapi setelah dia rajin olahraga (kalau trainer, mestinya tidak hanya rajin ya? Sudah makanan wajib mungkin), dia tidak lagi asma.

“Pendekatan untuk penanganan asma kan sekarang lewat olahraga,” begitu katanya.

Benarkah?

Aku sendiri tidak melakukan riset saat menulis ini. Jangan ditiru ya, nulis kalau serius itu wajib riset . Tapi aku mau bercerita sedikit soal pengalamanku.

Masa kecilku diwarnai dengan kunjungan rutin ke dokter. Aku tak ingat sampai umur berapa aku rajin ke dokter sebulan sekali. Mungkin yang paling bosan dan membebani soal “kunjungan rutinku” itu adalah Ibu. Dulu Ibu sering bilang, “Mending kamu itu makan yang banyak. Uang kok buat beli obat tiap bulan.” Ya, pasti pengeluaran bapak dan ibuku jadi bertambah gara-gara aku mesti beli obat tiap bulan.

Sebetulnya sakitku ya itu-itu saja. Flu, batuk, pilek… dan ujung-ujungnya asmaku kambuh. Aku tidak sampai harus memakai obat semprot sih, tapi kalau sesak napas tiap bulan itu yaaa… rasanya aduhai juga.

Mengidap asma itu merepotkan. Aku sendiri seperti membatasi diri tidak mau melakukan ini dan itu karena takut asmaku kambuh. Misalnya, aku cenderung tidak mau lari karena kalau lari, napasku cepat sekali sesak. Yang konyol adalah dulu suatu ketika aku merasa batuk dan cenderung sesak napas setelah makan pisang raja. Sejak saat itu aku jadi super hati-hati kalau mau makan pisang. Konyol. Dulu, kalau ada acara kemping, aku hampir tidak pernah ikut. Takut dingin, nanti masuk angin lalu sakit. Kakakku punya sebutan yang menyebalkan untukku: Nggrik-nggriken alias penyakitan. Ke mana pun aku pergi, aku biasa membawa obat asma. Untuk berjaga-jaga kalau aku sakit.

Ketika pindah ke kota yang baru, misalnya ketika awal aku pindah ke Jakarta beberapa tahun lalu, itu berarti aku mesti pintar-pintar mencari dokter yang cocok buatku. Sakitku mungkin sepele bagi banyak orang: flu, batuk, pilek. Tapi kalau dapat obat yang tidak cocok, sakit yang tampak sepele itu jadi ndodro dan berkepanjangan. Bukannya sembuh, malah tambah parah. Jadi, aku semacam parno kalau harus ke dokter yang baru kukunjungi.

Kemarin waktu tinggal di Jakarta, aku bertemu seorang Dokter. Dokter Floren namanya. Dia seorang ahli phytobiophysics. Dari dokter itu aku jadi tahu aku alergi apa saja. Proses mendeteksi alergi sangat cepat dan tidak menyakitkan. Silakan kunjungi webnya saja di sini ya daripada aku mesti menjelaskan panjang lebar. Setelah aku beberapa kali ketemu dr. Floren, asmaku lumayan banyak berkurang.

Selain dengan Dokter Floren, kalau sakit biasa, aku biasa ke dokter Feli (biasanya praktik di K-24 Balai Pustaka, Rawamangun). Kalau mulai flu sedikit, aku masih berobat dengan pengobatan medis biasa (tidak selalu dengan cara phytobiophysic). Nah suatu kali ketika aku sakit, dr. Feli tidak ada. Daripada kelamaan sakit dan aku sudah mulai khawatir, aku mencoba berobat ke dokter lain. Waktu itu aku memilih ke Balkesmas Carolus. Seperti biasa, ketika aku bertemu dokter baru, aku selalu bilang bahwa aku punya kecenderungan asma. Lalu, setelah dokter meresepkan obat, aku akan bertanya obat yang diberikan kepadaku itu apa saja. Apakah ada obat asmanya, apa saja nama obatnya. Ketika itu, dokter di Balkesma tersebut tidak meresepkan obat asma, tetapi obat anti alergi. Waduh, aku mulai khawatir lagi. Khawatir kalau sepulang dari dokter, asmaku malah muncul. Tapi dokter itu menjelaskan bahwa untuk mencegah asma itu muncul, caranya diberi obat anti alergi itu.

Oke, baiklah. Aku pulang masih deg-degan juga.

Tapi ternyata memang benar sih. Asmaku tidak kambuh.

Singkat kata, aku akhirnya berkesimpulan bahwa asma itu erat kaitannya dengan daya tahan tubuh. Orang bisa alergi karena daya tahannya kurang baik. Ehm, itu lagi-lagi aku nggak riset ya. Jadi, kalau ada yang lebih paham soal medis, bisa memberi wawasan lebih. Balik ke laptop… Nah, untuk memperbaiki daya tahan tubuh itu memang salah satunya kita perlu mengetahui sebetulnya kita alergi apa saja. Kalau kita sudah sembuh alerginya, biasanya asma juga akan sangat berkurang.

Daya tahan tubuh itu bisa diperbaiki dengan pola hidup sehat: olahraga, makan yang cukup dan bergizi, banyak makan buah dan sayur, istirahat cukup, tidak memforsir tubuh. Soal ini rasanya bisa googling sendiri ya. Balik ke paragraf awal tadi; temanku bilang bahwa pendekatan untuk penanganan asma sekarang lewat digalakkan olahraga. Kurasa itu ada benarnya. Sekarang sih aku berusaha untuk lebih rajin olahraga. Kalau tidak kuat lari, minimal jalan kaki. Ini sangat membantu untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Cuma mengatasi kemalasanku itu yang PR bangeeet. Tapi untungnya kalau di Jogja aku sudah menemukan persawahan dan embung (semacam danau buatan) untuk lokasi jalan-jalan pagi. Lokasi itu dekat rumah dan cukup menyenangkan. Semacam jadi penyemangat untuk acara jalan-jalan pagi.

Memang sih agar memiliki daya tahan tubuh yang baik, kadang butuh usaha yang tidak mudah. Tapi itu bisa dilakukan. Singkatnya sih, aku mau bilang, kalau mau sembuh dari asma, kita perlu tahu kita alergi apa saja. Lalu, obati alerginya itu plus meningkatkan daya tahan tubuh. Oke sekian. Begitu sekilas pengalamanku.

3 thoughts on “Obrolan Soal Asma

  1. Sulungku dulu pas SD hampir tiap hari asmanya kambuh. Biasanya pulang sekolah. Setelah kuteliti apa aja yg dilakukannya, ternyata dia kambuhnya tak lama sesudah ganti baju. Dari situ ketahuan kalau dia itu alergi kapur barus. Sejak itu kusingkirkan semua kapur barus yg ada di lemarinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s