Inspirasi dari Kesederhanaan

Kurasa, salah satu pengalaman yang betul-betul membekas dalam hidupku adalah saat ikut workshop bulan Januari lalu. Oke, rasanya aku sudah beberapa kali bicara soal workshop. Pasti kalian sudah bosan membacanya.😀 Hal lain yang membuat pengalaman Januari lalu itu membekas adalah karena aku tanpa sengaja bertemu dengan para karyawan asrama Syantikara yang sedang piknik di Pasar Apung, Lembang. Aku terharu banget ketika (beberapa dari) mereka masih mengenali aku.

Bagiku mereka sangat berjasa selama masa-masa aku tinggal di asrama dulu. Bantuan mereka macam-macam. Mulai dari soal urusan air panas untuk termos kami sampai mengganti lampu yang rusak. Mulai dari mengisi kapas kasur sampai urusan membagi jatah makanan kami setiap hari. Kalau di unit ada hal yang perlu diperbaiki, tinggal lapor, lalu bantuan pun tiba.

Sampai sekarang aku masih sering kangen asrama. Susah move on deh rasanya kalau soal asrama. Banyak kenangannya. Asrama itu semacam rumah kedua. Kalau pas ke Jogja dan lewat jalan Colombo, aku menengok asrama dan rasanya kadang pengin sekali berjalan lagi memasuki halaman asrama lalu menyusuri koridor dan masuk ke unitku dulu. Ketemu teman-teman lama. Duduk, mengobrol, atau nge-teh sore-sore. Tapi tidak mungkin rasanya bisa seperti itu lagi. Asrama itu sudah jadi rumah yang tak bisa kusinggahi lagi sejak aku lulus kuliah dan berjalan melewati gerbang asrama untuk terakhir kalinya dulu, belasan tahun silam.

Jadi, akhirnya mungkin terasa berlebihan terharunya saat aku bertemu dengan mbak-mbak dan mas-mas karyawan asrama pada Januari lalu. Mungkin ibarat bertemu teman lama. Mungkin karena itu pula aku merasa amat semedot (kehilangan) ketika kemarin siang aku membaca informasi di grup asrama (Facebook) bahwa salah seorang karyawan asrama Syantikara ada yang meninggal: Mas Bandriyo. Loh, Januari lalu aku masih ketemu dalam kondisi segar bugar, kok delapan bulan kemudian dikabarkan meninggal? Cepat sekali… Kabarnya Mas Bandriyo meninggal dalam tidur selepas kerja bakti di kampungnya. Mudah sekali jalan kepergiannya.

Kalau sedih, tentu aku sedih. Tapi aku pikir kesedihanku dan teman-teman asrama lain tidak akan melapangkan kepergian Mas Bandriyo. Iya, kami sedih, tapi ada satu hal yang membuatku merenung: Orang yang tampak sederhana itu telah menyentuh kehidupan banyak orang—dengan kesederhanaannya, dengan pelayanannya. Mungkin begitulah seharusnya hidup: Sebisa mungkin memberikan sentuhan yang positif terhadap orang-orang sekitar kita.

Perenunganku tersebut diperkuat ketika aku mengingat kejadian tadi siang. Tiba-tiba Mas Handi, tukang pijit langganan Oni, datang. Rasanya Oni tidak meminta dia datang untuk memijat, kok dia datang? Ternyata dia mengantarkan sroto untuk kami. Rupanya dia memenuhi janjinya akan membelikan kami sroto jika suatu saat ketemu penjual sroto. Waktu dia mengatakan itu, awalnya aku dia bercanda.😀 Eh, ternyata sungguhan. Ya, ampuuuun…

Oni bilang, Mas Handi ini bisa dibilang orang “kaya”. Selain soal sroto tadi siang, beberapa waktu lalu dia menggelar program: “Dibalas dengan pijat.” Jadi, ceritanya dia itu mau membantu membangun musala di kampungnya. Lalu untuk mencari dana, honor jasa pijat yang dia terima dia salurkan untuk pembangunan musala tersebut. Coba kalau aku, maukah aku menyumbangkan honor satu proyek terjemahanku untuk kolekte di gereja? Dudududu… mungkin aku akan berhitung puluhan kali dulu sebelum ikhlas… lega lila menyerahkan sebagian honorku untuk gereja, untuk disumbangkan bagi pihak-pihak yang lebih membutuhkan. Tuh kan, betapa pelitnya diriku. Tapi semoga aku bisa lebih ikhlas dalam hal memberi, ya.

Kebaikan itu bisa dilakukan oleh siapa saja–tidak perlu menunggu jadi orang kaya dulu. Inspirasi itu bisa dilakukan oleh siapa pun–tidak perlu menjadi penggede dulu. Kita bisa… aku juga bisa sebenarnya. Dan “gong” dari perenunganku adalah ketika aku ikut misa 17-an tadi sore. Lagu antar bacaannya sampai sekarang masih terngiang-ngiang: Kamu dipanggil untuk kemerdekaan, maka abdilah satu sama lain dalam cinta kasih. Kemerdekaan itu justru semakin kuat artinya saat kita saling melayani, saling mengasihi. Begitu kan? Semoga kita walaupun punya kekurangan di sana-sini, berani untuk melayani dengan penuh kasih.

One thought on “Inspirasi dari Kesederhanaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s