Ujian Tujuh Tahun

Bulan lalu, ketika aku ulang tahun, salah satu yang mengucapkan selamat adalah seorang teman lama. Teman SD-SMP. Aku agak surprised waktu menerima ucapan darinya. Sebenarnya ucapannya biasa saja, tapi tahu bahwa dia masih ingat diriku dan ingat tanggal ulang tahunku, itu surprising. Aku sendiri, masih selalu ingat tanggal ulang tahunnya–semata-mata karena kami ulang tahun di bulan yang sama. Hanya selisih kira-kira satu minggu. Tapi memang sih di antara banyak teman sekolah dulu, hanya satu-dua orang yang masih berkontak denganku, salah satunya ya dia itu. Walaupun tidak sering kontaknya, paling tidak pas aku pulang, aku sesekali masih main ke rumahnya.

Pernah, suatu kali aku ditanya suamiku, “Kalau bisa balik ke masa lalu, kamu mau balik ke masa kapan?” Aku segera menjawab: “Masa SMP.” Bagiku, masa SMP itu asyik banget. Aku mendapat teman-teman yang menyenangkan. Guru-gurunya juga asyik. Mungkin kalau anak sekarang bilang: Guru-gurunya gaul. Salah satu ulang tahun terbaik yang pernah kualami adalah masa SMP—dirayakan pas malam satu suro, kalau nggak salah, trus waktu itu entah gimana ada beberapa teman melekan di sekolah. Hadiah yang kuterima waktu itu adalah sisir yang guedeee banget!. Haha. Aku masih ingat sampai sekarang.

Soal pertemanan, belakangan aku merasa sepertinya aku lebih banyak berteman lewat dunia maya–lewat FB dan belakangan WhatsApp (WA). Kalau di FB, teman-teman di ada di daftarku rata-rata teman sekolah dulu, teman blog, sesama penerjemah, beberapa teman penulis, teman asrama, teman eks kantor. Kalau di WA, aku ikut—lebih tepatnya diikutkan—beberapa grup. Tapi hanya dua yang biasanya aku cukup aktif nimbrung: grup teman kuliah di Sastra Inggris dulu dan grup Litara Sista—teman dari grup Litara yang pernah ikut workshop awal tahun lalu.

Di dua grup WA itu, aku merasa “punya teman.” Ng… maksudnya gini, karena aku lebih sering bekerja sendiri di rumah, tanpa rekan kerja, teman-teman di grup itu jadi semacam teman yang ada di seberang meja yang meramaikan ruang kerjaku. Di grup teman kuliah, bahasannya ngalor ngidul dan teman-teman cukup ramai sahut-sahutan. Akibatnya bagi yang tidak suka keriuhan biasanya meninggalkan grup tersebut. Kalau di grup Litara Sista, yang dibahas macam-macam. Mulai soal tips dan trik nulis sampai soal kontrakan rumah. Beneran kaya punya saudara-saudara perempuan kalau di grup ini.😀

Dan pagi ini aku menemukan (lagi) kutipan ini: If a friendship lasts longer than 7 years, psychologists say it will last a lifetime. Jika persahabatan berjalan lebih dari 7 tahun, para psikolog mengatakan persahabatan itu akan langgeng seumur hidup. Seketika aku teringat teman-teman lamaku, juga teman-teman di grup WA tersebut. Aku tidak tahu sampai berapa lama teman-teman yang ada di grup WA itu akan bertahan. Lagi pula, WA sendiri bakal bertahan sampai berapa lama?😀😀 Tapi mengingat beberapa teman lamaku yang masih berkontak sampai sekarang, rasanya jelas sudah tujuh tahun berlalu kami berteman. Kalau bisa sih, saat usiaku semakin bertambah nanti, aku pengin punya teman-teman lama yang tetap saling mendukung, saling mengingat, saling menyayangi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s