Memungut Yang Tercecer dari Akhir Pekan

Beberapa waktu lalu aku menginap di rumah iparku. Bagiku rumahnya cukup jauh. Jauh dari mana-mana pula. Hal itu rasanya semakin diperparah karena kami tidak punya kendaraan sendiri. Jarak rumah ke warung atau toko kelontong terdekat mesti pakai acara jalan kaki minimal 15 menit. Atau lebih ya? Dan itu pun cuma ada satu warung. Kebayang dong kalau barang yang kita butuhkan tidak dijual di warung tersebut? Aku dan suamiku berpikir, mestinya kalau tinggal di kompleks yang jauh dari mana-mana begitu, minimal punya sepeda motor.

Aku yang selama tinggal di Jakarta tidak susah mendapatkan kendaraan umum, jadi merasa semacam gegar budaya.😀😀😀 Segitunya ya. Padahal aku cukup sering mengeluh karena di Jakarta ini aku mesti naik kendaraan umum yang kualitas pelayanannya kadang yaaaa… gitu deh. Tapi ternyata itu masih lebih meding daripada tinggal di kompleks yang tidak dilewati kendaraan umum dan kalau mencari taksi, tidak bisa keluar rumah lalu menunggu taksi yang seliweran di jalan.

Kompleks iparku itu, selain tidak mudah mendapatkan kendaraan umum (memang ada shuttle bus, tapi jamnya terbatas), ternyata cukup jauh pula dari gereja. Naik taksi mungkin habis ongkos 50 ribu? Mungkin. Aku kurang tahu sih. Kalau lihat di google maps, sepertinya jaraknya cukup lumayan. Aku baru kali itu merasa bersyukur sekali karena ternyata selama ini tempat tinggalku selalu relatif dekat dengan gereja. Waktu aku masih kecil sampai remaja dan tinggal di Madiun, jarak dari rumah ke gereja bisa ditempuh naik sepeda sekitar 10-15 menit. Itu sudah dihitung kalau kena lampu merah, ya. Waktu kuliah dan tinggal di Jogja, di asrama ada kapel. Unitku bisa dibilang sebelahan dengan kapel (kecuali dua tahun terakhir, karena aku dapat unit yang dekat gerbang dan jauh dari kapel). Untuk misa minggu, jarak ke kapel yang lebih besar dan gereja, juga sangat dekat. Jalan kaki 10 menit sampai. Waktu kami punya rumah di Jogja, jarak dari rumah ke gereja terdekat, hanya sekitar 1,5 km. Kalau mau misa di gereja lain, jaraknya juga tidak jauh. Saat aku di Jakarta, di kontrakanku yang pertama, jarak ke kapel terdekat, hanya butuh jalan kaki 10 menit. Dan di tempat tinggalku yang sekarang, jarak ke gereja terdekat, hanya sekitar 10-15 menit naik kendaraan umum.

Mestinya dengan jarak yang sangat terjangkau dari rumah ke gereja atau kapel ini membuatku lebih rajin misa, ya. Tapi ternyata tidak hahaha. Kalau misa hari Minggu, sih aku usahakan untuk selalu datang–kecuali sakit atau malas akut. Tapi dulu banget, waktu di Madiun, pada suatu masa, aku cukup rajin misa harian. Dan sebetulnya, misa harian itu lebih “nyes”… Itu buatku, ya. Mungkin ini subjektif.

Sebenarnya aku semakin “dipermudah” dengan jadwal misa Minggu yang lumayan banyak. Minggu pagi saja, jadwal misa sampai tiga kali. Misa minggu sore, dua kali. Jadi, kebangetan kalau aku beralasan tidak sempat misa. Bahkan jika aku bangun siang pun, aku masih bisa ikut misa Minggu pukul 10.30 atau misa sore.

Sudah dua kali hari Minggu ini aku misa di jadwal paling akhir: pk 19.00. Sebenarnya alasannya adalah aku terlambat bangun pagi sehingga tidak bisa ikut misa Minggu pagi jam 6.30. Mau yang siang, malas. Misa siang cenderung lebih ramai menurutku. Hari ini aku memilih misa paling akhir. Misa jam 19.00 cenderung lebih sepi. Cocok buatku karena aku lebih suka misa yang paling sepi. Misa yang sepi biasanya membuatku lebih bisa menikmati dan meresapi pesan yang disampaikan saat misa. Dan aku merasa perlu mencatat satu hal yang kurasa penting dari homili hari ini: Buah keheningan adalah doa. Buah doa adalah kasih. Buah kasih adalah tindakan nyata yang penuh kasih. Hal ini mengingatkan aku supaya lebih rajin menyisihkan waktu untuk mencari keheningan. Semoga!

One thought on “Memungut Yang Tercecer dari Akhir Pekan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s