Belajar Atau Tinggalkan

Ada kata-kata atau kalimat yang menancap di kepalaku. Tidak banyak, tapi ada. Kalimat itu bisa diucapkan oleh orang terdekat, orang yang baru kukenal, atau kalimat yang kubaca entah di mana. Misalnya, suamiku sering bilang: “Kamu jangan terlampau memperhatikan omongan orang lain tentang kamu.” Itu yang sering dia bilang kalau aku mulai tidak bersemangat karena dapat kritikan–entah soal pekerjaan atau yang lain. Maksudnya, aku kerap kali terlalu merenungkan dan memasukkan ke dalam hati omongan orang lain yang bernada mengecilkan. Efeknya? Awalnya aku biasa saja. Tapi lama-lama kok bikin bete, ya? Sebenarnya sih kalau kita bisa menerima kritikan orang lain, mengolahnya, menarik pelajaran dari situ, itu pasti bagus banget. Cuma yaaa… betenya itu loh.

Beberapa waktu lalu, saat aku pulang ke Jogja, dengan kondisi setengah mengantuk, aku mengantarkan suamiku ke Wikikopi, di Pasar Kranggan. Itu adalah tempat kita bisa belajar tentang kopi mulai dari kenalan dengan petani sampai mengelola kafe. Semacam komunitas sih. Untuk lebih jelasnya, kurasa aku perlu bertanya lebih jauh nanti ke teman yang mengelolanya. Oke, bukan soal belajar tentang kopi yang mau kutulis, tapi soal kondisi setengah mengantuk dan kalimat yang akhirnya menancap di kepalaku sampai saat ini. Saat kami tiba di Wikikopi, ternyata di sana sudah banyak orang. Ternyata semacam ada “kuliah singkat”. Terlalu berat kali, ya istilahnya? Diskusi lah. Eh, masih berat? Ya, pokoknya omong-omong gitu deh. Temanya sendiri saat itu aku sudah lupa, tapi membahas soal apa itu seni, apakah kita merasa baik-baik saja pas ngopi di kafe padahal kalau kita mau lebih jauh petani kopi hidupnya masih susah, dan sebagainya… dan sebagainya. Lalu menjelang akhir kuliah singkat itu, terlontar kalimat: Belajar atau tinggalkan.

Ya, belajar atau tinggalkan.

Kalimat itu sampai sekarang menggema, dan walaupun sudah terlepas dari konteks pembicaraan saat itu, aku merasa kalimat itu menggelitikku. Kadang aku tidak cukup sabar bertahan di satu bidang yang kutekuni. Ya, dan hal ini belakangan kurasakan. Entah kurang sabar, entah kurang sreg dengan orang-orang yang sama-sama bergelut di bidang yang sama, entah ini, entah itu… Banyak alasan. Tapi alasan-alasan itu seolah akhirnya berujung pada pertanyaan: Terus mau belajar atau tidak? Kalau tidak, tinggalkan saja, kan?

Belajar atau tinggalkan.

Belajar itu bisa memetik hikmah dari kritikan, bisa dari pengalaman orang lain, bisa dari buku, dari apa saja, dari mana saja.

Akhir-akhir ini aku tertarik merajut–crochet dan knitting. Tahu bedanya, kan? Kalau crochet, pakai satu jarum–hakpen. Kalau knitting, pakai dua jarum. Sebenarnya kalau crochet, pernah kupelajari waktu SD; waktu pelajaran prakarya. Kalau knitting, pernah juga belajar sama teman pas kuliah, tapi mandeg karena mutung nggak bisa-bisa. Belajar merajut ini kulakoni dengan antara niat dan nggak niat. Semacam hangat-hangat tahi ayam gitu, deh. Haha, kebiasaan. Kalau crochet, aku sudah cukup bisa beberapa macam tusukan (stitch). Kalau bikin syal, sih… keciiil. Sombong dikit.😀 Tapi tetep, ya… aku mesti lebih banyak belajar supaya lebih mahir. Nah, kalau knitting itu seperti pelajaran baru buatku. Aku mesti mulai lagi dari nol. Tapi satu hal yang kupetik dari pengalamanku saat latihan merajut: belajar itu jangan takut salah. Dan memang sih, kalau terus bertahan dalam satu bidang, mau tidak mau mesti mau terus belajar dan meningkatkan kemampuan dalam bidang itu. Kalau tidak, kita yang tertinggal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s