Di Hari Nyepi Ini…

Pagi tadi aku terbangun dan mendengar suara kokok ayam tertawa milik tetangga. Yang pertama kupikirkan saat itu juga adalah hal-hal yang akan kulakukan hari ini. Aku sudah membuat daftar di kepalaku. Tapi kemudian aku mulai mencoba menarik napas dalam-dalam dan entah bagaimana, aku berpikir sepertinya aku sudah merusak pagi ini dengan daftar ini-itu dalam kepalaku. Kenapa aku lupa mensyukuri hal-hal kecil yang begitu dekat dengan diriku? Aku lupa bersyukur bahwa aku terbangun di rumah yang walaupun masih mengontrak, rumah ini memberi naungan yang cukup nyaman buatku. Aku lupa bersyukur bahwa telingaku masih normal, masih bisa mendengar suara ayam berkokok. Aku lupa menyadari bahwa aku bisa menarik napas dalam-dalam. Aku cukup sehat, aku bisa beraktivitas dengan baik. Rasanya mensyukuri hal-hal kecil seperti itu perlu lebih dibiasakan. Menurutku, bersyukur adalah seni melihat dan merasa bahagia dengan hal-hal yang dekat dan yang berada dalam jangkauanku. Memang dengan bersyukur, hati rasanya lebih ringan. Tidak kemrungsung atau seperti diburu-buru.

Sejak beberapa hari lalu, suamiku memintaku untuk menemaninya olahraga panahan di Senayan. Dia janjian dengan beberapa temannya. Kami berangkat sekitar pukul 8 lewat–setelah insiden mencari power bank yang ternyata nyelip di tumpukan baju (ya ampun!). Kupikir tadinya mau naik busway. Tapi suamiku bilang, “Nggak keburu. Naik taksi saja.” Okelah…

Kami dapat taksi BB. Supirnya–menurutku–agak masam tampangnya. Kurang senyum. Tapi tak apalah. Asal nyupirnya tidak gobras-gabrus alias ngebut tidak aturan. Memang dia nyupirnya biasa saja, tapi setelah sampai simpang Megaria (dari arah jalan Proklamasi), dia ambil arah Menteng. “Lho, kok lewat sini, Bang?” Aku heran. Padahal dia sebetulnya bisa belok kiri langsung ke jalan Diponegoro. Pertanyaan itu dijawab, “Sama saja. Nanti juga tembusnya dekat HI.” Sebetulnya aku agak kurang suka dengan pilihan arah yang diambil pak supir. Menurutku lebih jauh. Tapi sudahlah. Malas berdebat. Aku ambil positifnya saja, aku bisa melihat suasana baru daerah Menteng, jalan yang jarang kulewati (karena aku biasanya lebih sering lewat jalan Diponegoro).

Saat di taksi, aku sempat membuka FB lewat android dan membaca postingan salah seorang teman. Aku baru sadar ini hari Nyepi. Temanku share tulisan Gobind Vashdev yang menulis sekilas tentang Nyepi. Bagus juga ya Nyepi ini. Ini adalah hari raya keagamaan di mana umatnya diajak untuk hening. (Begitu pemahamanku, tolong koreksi jika keliru atau kurang tepat, ya.) Rasanya keheningan itu perlu karena sepanjang tahun kita biasanya begitu sibuk melakukan ini dan itu, pikiran melompat ke sana ke mari. Yah, aku merasa ucapan “Aku sibuk” rasanya sudah menjadi semacam label yang mungkin tanpa sadar dirasa membanggakan. Orang senang jika sibuk. Atau, mungkin lebih tepatnya, orang senang jika dianggap sibuk, karena sibuk berarti kita menjadi orang penting. Mungkin ya….

Syukurlah lalu lintas cukup lancar. Tidak ada kemacetan. Kami tiba di Senayan lebih awal daripada teman-teman yang lain. Jadinya, kami malah menunggu agak lumayan lama. Sebenarnya, aku agak kurang suka dengan hal seperti ini. Aku malas menunggu. Sambil menunggu aku mengamati beberapa orang yang latihan memanah. Asyik juga kelihatannya. Sayangnya lapangan memanah di Senayan kurang terawat–menurutku. Bukan buruk sih. Tapi kurasa kalau lebih dirawat, bisa jauh lebih rapi. Biasalah, Indonesia gitu loh. Olahraga bukan dianggap hal penting oleh pemerintah, jadi yaaa … gitu deh. Karena semalam hujan, lapangan bagian tepinya sebagian tergenang air.

Menjelang pukul 10, beberapa teman suamiku datang. Dan mereka mulai latihan memanah. Sebenarnya aku agak penasaran juga dengan olahraga ini setelah sempat menyaksikan beberapa orang latihan. Tapi tanganku mudah sekali bermasalah. Kalau salah urat atau ketarik nggak jelas, bisa-bisa sembuhnya semingguan deh. Beberapa bulan lalu, gara-gara cuma memikser adonan kue, tanganku sempat sakit. Dan aku jadi susah mengetik selama beberapa hari. Jadi, kuputuskan tidak ikut mencoba memanah. Cukuplah jadi penonton yang baik.

Pulang dari Senayan, kami mampir ke Kokas. Niatnya sih mau menservis laptop yang baterainya error. Waktu tanya ke petugas, dijawab ternyata tempat servis itu tutup karena… ini tanggal merah, hari raya Nyepi. Ealah… kenapa aku tidak sadar ya? Padahal tadi waktu di taksi, saat berangkat ke Senayan, kan aku sudah membaca postingan soal Nyepi.

Ya, sudahlah. Di Kokas toh sebenarnya suamiku ada janji bertemu temannya. Jadi, yaaa… tidak rugi-rugi amat.

Hari ini mencoba mensyukuri segala hal yang aku alami. Oya, ada satu hal yang kurasa perlu kutulis di sini, mengutip dari status Gobind. Meher Baba, seorang Sufi dari India mengatakan, ” Pikiran yang cepat adalah pikiran yang sakit, pikiran yang pelan adalah pikiran yang sehat, dan pikiran yang hening adalah Pikiran Ilahi.” Ini mengingatkanku supaya tidak menjejalkan begitu banyak hal dalam pikiranku, tidak menatanya, sehingga memutar pikiranku lebih cepat, lalu akhirnya jadi cemas sendiri.

Selamat merayakan Nyepi buat teman-teman yang merayakan.๐Ÿ™‚

One thought on “Di Hari Nyepi Ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s