Soal yang Mainstream-mainstream Itu

Kalimat: “Ah, itu sudah terlalu mainstream…” beberapa kali kudengar belakangan ini. Entah sejak kapan mulainya, tapi rasanya kalimat itu cukup sering kudengar.

Kadang kalimat itu rasanya “gue banget”. Tidak mau ikut-ikutan. Misalnya soal pakai BB. Aku sampai sekarang tidak punya BB, dan masih keukeuh tidak instal aplikasi BBM. Alasan tidak punya BB sih karena… mahal! Haha. Bilang saja nggak punya duit lebih. Hihi… iya, sih. Salah satu alasan terbesarku untuk malas beli BB (dulu–sampai sekarang) karena rasanya itu rasanya terlalu mainstream, sama kaya orang-orang. Entah ya kalau pikiranku di kemudian hari berubah.

Aku mau cerita soal lain. Begini, awal aku di Jakarta, aku pernah diajak ke Puncak. Waktu itu kupikir jalan ke Puncak itu cuma sak-nyuk seperti kalau aku mau ke Kaliurang di rumahku di Jogja sana. Itu kan pikiran orang ndeso, ya. Kupikir memang dekat dan tidak memakan waktu. Ternyata tidak sedekat yang kukira. Lalu yang paling membuat malas soal Puncak adalah soal macetnya yang aduhai. Untung kemarin waktu ke sana aku tidak terlalu kena macet. Tapi tetap saja aku menyaksikan dan sedikit mencicipi kemacetan.

Ketika bulan lalu aku diajak ke Puncak, aku sebenarnya agak malas. Tapi berhubung yang mengajak keluarga sendiri, ya sudahlah. Ikut saja.

Dalam perjalanan ke Puncak, kami mampir ke restoran yang sepertinya sudah terkenal, Cim*ry. Kami makan di sana… dan entah kenapa menurutku, rasa makanannya biasa saja. Bukannya tidak enak sih. Hanya menurutku, cukup mahal dan porsinya tidak terlalu banyak.

Singkat kata, aku merasa Puncak dan restoran yang kami kunjungi itu adalah sesuatu yang mainstream. Aku melihat, sesuatu yang mainstream itu kadang tidak terasa lagi keunikannya. Mungkin karena terlalu banyak orang yang datang ke sana, jadi terasa biasa.

Masih soal mainstream, aku beberapa waktu lalu pergi ke Pasar Santa. Untuk ke sana, ternyata dibutuhkan kesabaran super mencari tempat parkir mobil. Parkir di pasar itu penuh. Mungkin itu karena banyak orang yang penasaran seperti aku, dan berbondong-bondonglah orang ke sana.

Waktu sampai di dalam, aku lihat memang orang sudah banyak sekali. Kulihat pertama kali paling banyak orang mengantre hotdog hitam. Orang bisa mengantre sampai kira-kira satu jam untuk mendapatkan hotdog tersebut. Apakah rasa hotdog itu sepadan dengan lamanya mengantre? Hmmm… kalau mau jujur sih, sebenarnya rasanya biasa saja. Uniknya karena hotdog itu rotinya hitam. Itu saja.

Lalu aku mencoba mengantre kopi ABCD. Kesannya? Jujur saja, aku kurang terlalu pintar mencicipi kopi. Sebenarnya waktu ke sana, aku berharap dapat kopi hitam saja. Tapi kemarin dapatnya kopi yang sudah dicampur susu. Yaaa… agak kecewa sedikit. Kalau menurutku sih, aku lebih suka konsepnya Klinik Kopi. Kalau di ABCD itu kita sebagai pengunjung tidak dapat cerita tentang kopi. Sedangkan di Klinik Kopi, kita pengunjung dapat cerita soal kopi. Jadi, tidak hanya minum, lalu pulang, tapi ada interaksi dengan barista, yaitu Mas Pepeng.

Menurutku, Pasar Santa sudah menjadi tempat yang mainstream. Terlalu banyak pengunjung. Walaupun konsepnya cukup unik ya. Tapi mungkin karena orang yang datang banyak sekali, ditambah kedainya mungil-mungil, jalannya pun sempit (ya iyalah… kan itu aslinya pasar), aku merasa kurang begitu menikmati.

Mungkin pada dasarnya aku orang yang tidak terlalu menyukai keramaian. Jadi, tempat yang ramai tidak menarik lagi bagiku. Biasanya kalau seperti ini, aku lebih memilih undur diri, tidak ikut larut dalam keramaian tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s