Apakah Kamu Menyadari Keinginanmu?

Tadi sore, aku membaca seorang teman memasang status di FB. Dia menulis pernah bertemu seorang sarjana Sastra Inggris dengan subjurusan penerjemahan yang mengatakan ingin menjadi penerjemah. Tapi waktu ditanya apakah dia suka membaca buku, si sarjana mengatakan tidak. Status itu menuai komentar yang pada intinya menertawakan si sarjana yang ingin jadi penerjemah. Lucu. Aneh. Kurang lebih begitu komentar kebanyakan orang.

Lucu? Aneh?

Apanya yang aneh?

Ya, kalau dipikir aneh sih. Itu kalau dipikir. Penerjemah memang dituntut untuk tahan membaca berhalaman-halaman. Kalau orang itu ingin jadi penerjemah tapi tidak suka membaca, apa nggak bunuh diri itu namanya? Begitu kan logikanya? Yak, betul.

Tapi menurutku, itu tidak aneh-aneh amat. Soalnya banyak orang tidak merenungkan atau memikirkan betul sesuatu yang dia inginkan. Hanya sekadar ingin, tapi tidak berpikir jauh ke depan.

Ini sebenarnya biasa saja. Tak perlu konyol dengan sok mau pingsan segala. Banyak orang ingin begini, begitu. Pengin bisa menjadi ini dan itu. Tapi apakah dia menyadari bahwa untuk bisa seperti yang dia inginkan, dia mesti melewati berbagai hal. Terutama jika cita-citanya sangat tinggi, perjalanan untuk mencapai itu semua pasti tidak mudah. Itu sudah pasti. Sayangnya, kita seringnya hanya melihat sisi enaknya. Soal perjuangan yang berdarah-darah biasanya sih baru terlihat “heroik” setelah orang itu benar-benar berhasil. Jadi, aku tidak heran kalau sarjana Sastra Inggris itu mengatakan ingin jadi penerjemah dan dia tidak suka membaca buku. Dia mungkin melihat jadi penerjemah itu gampang. Tinggal duduk depan komputer, buka-buka kamus sebentar, lalu menuliskan hasil terjemahannya. Selesai. Terima honor. Syukur-syukur honornya gede. Begitu kan barangkali bayangannya? Mungkin dia belum merasakan jadi penerjemah yang “dikerjai” temannya dan dapat honor rendah atau malah tidak dibayar.

Contoh lain yang gampang adalah soal menerbitkan buku. Misalnya, aku ingin sekali bisa menulis sebuah buku. Tapi apakah dengan menulis blog begini lantas bukuku bisa terbit dengan sendirinya? Jelas tidak dong. Sebuah buku bisa terbit tentunya ada proses di belakangnya. Temanku, seorang penulis buku cerita anak yang bukunya sudah banyak, mengatakan bahwa supaya lancar menulis, kita mesti menulis setiap hari. Dia sendiri menceritakan selalu berusaha menulis. “Tulis saja, apa pun. Kejadian yang kita alami setiap hari bisa kita tulis. Tidak usah terlalu berpikir dulu mau membuat buku, yang penting menulislah. Latihan menulis hal-hal yang sederhana itu termasuk menambah jam terbang.” Lalu kalau ada orang yang berkomentar (nyinyir, maksudnya), “Wah, enak ya… bukunya banyak, selalu terbit,” orang itu perlu ditanya, apakah dia juga sudah menambah jam terbangnya dengan terus menulis setiap hari? Apakah dia sudah mengisi kepalanya dengan rajin membaca? Apakah dia bersedia menyisihkan uang untuk membeli buku yang bisa jadi referensinya?

Menurutku, orang bisa dengan mudah ingin ini dan itu. Tapi, yang perlu ditanyakan, maukah dia bekerja keras untuk mencapai keinginannya? Kalau dia hanya ingin karena semata-mata melihat sisi enaknya saja, itu sih … akeh tunggale–kata orang Jawa. Banyak orang seperti itu. Tak perlu heran. Tak perlu pingsan. Jangan-jangan kita sendiri juga begitu.😀😀

Dan… satu lagi, kita sering berpikir, kalau keinginan kita tercapai, kita akan lebih bahagia. Padahal belum tentu. Siapa tahu yang kita inginkan itu sebenarnya membahayakan kita. Aku tidak tahu, apakah para artis papan atas itu bahagia dengan hidupnya saat ini? Jangan-jangan mereka lebih kesepian, kehilangan waktu bersama keluarga, tidak punya privasi, dan sebagainya. Kalau semua artis itu bahagia, tentu tidak ada ceritanya ada artis yang bunuh diri karena kesepian.

Coba tonton cerita di bawah ini. Mungkin ini bisa merefleksikan bahwa ketika keinginan kita tercapai, belum tentu kita lebih bahagia.

4 thoughts on “Apakah Kamu Menyadari Keinginanmu?

  1. betul sekali bahwa orang-orang tidak berpikir panjang dengan cita-citanya.
    Contohnya waktu kecil kalau ditanya apa cita-citamu, aku pernah mengatakan ingin menjadi dokter. Tapi aku sadar bahwa itu hanya keinginan opa/omaku dan aku takut darah, so aku ganti menjadi ingin jadi Insinyur/guru😀

    Dan itulah yang sekarang sedang kulakukan: menulis setiap hari, meskipun belum bisa menerbitkan buku. (Menerbitkan sih sebetulnya gampang, tapi yang penting isinya kan? hehehe)

  2. Menik…akhirnya bisa komen di blogmu…..hehehe
    Iya, kadang kita cuma punya keinginan tanpa tahu bagaimana mencapai keinginan tersebut.
    Jadi…sebetulnya yang penting adalah , apa mimpimu, dan bagaimana cara mencapai mimpimu itu. Walau saya akui, keinginanku berubah-ubah…tapi saya akhirnya percaya pada takdir, dan berusaha melakukan yang terbaik pada jalan yang ditunjukan oleh Nya.

    Seperti saat ini jadi pengajar…kalau keinginan, tentu dulunya langsung jadi dosen, karena saat itu tawaran jadi dosen ada….tapi ternyata muter dulu…dan saya menikmati setiap perjalanan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s