Hidup Itu… Begini-begini Saja

Sampai saat ini aku tidak mengira bahwa efek tinggal di asrama terasa sampai sekarang. Entah kenapa, kalau ketemu dengan teman asrama, rasanya seperti ketemu teman dekat yang sudah lama tidak ketemu. Mungkin itulah hebatnya asramaku dulu, Syantikara: Diam-diam menimbulkan ikatan.

Ceritanya beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan teman satu unitku dulu, Kak Iyen. Ternyata selama ini, sejak tahun 2010, dia kuliah lagi, mengambil jurusan spesialis Sp.OG di UGM. Dan… kami baru bertemu beberapa bulan lagi. Telat sih tahunya. Aku kuper barangkali ya? Hehehe.

Kami bertemu sepulang misa di Banteng. Ngobrol ngalor ngidul cukup lama. Dari bubaran misa yang jam 7 sampai misa yang 8.30 selesai. Satu setengah jam lebih rasanya. Dan acara obrol-obrol itu kami lakukan di parkiran, ditemani susu yang kami beli di depan gereja. Kulihat Kak Iyen masih seperti dulu. Ceria dan banyak tertawa. (Oya, sekarang dia sudah bisa naik sepeda motor. Dulu waktu di asrama, belum bisa.)

Kak Iyen bercerita tentang aktivitasnya ketika bertugas ke luar Jawa. Kalau mendengar ceritanya, rasanya usaha negara ini untuk bisa memberikan fasilitas kesehatan kepada rakyatnya yang berada nun jauh di sana masih butuh perjuangan yang tidak mudah. Apalagi kalau korupsi masih merajalela, yaaa… alamat kembang kempis deh.

Dari obrolan itu, ada satu kalimat yang masih terngiang-ngiang di benakku: “Hidup ini sebenarnya begini-begini saja, ya.” Kalimat ini terlontar setelah kami mengobrol soal teman-teman asrama yang lain, yang sudah sukses, yang sekarang tinggal di mana, dan… yang sudah meninggal. Aku sempat memintanya bercerita tentang mendiang kakaknya. Dulu kakaknya meninggal karena sakit yang tidak jelas sekitar 2,5 bulan saja. Usia kakaknya baru 29 tahun waktu itu. Muda sekali.

Ketika kami membicarakan beberapa teman asrama yang sudah meninggal, aku merasa ucapan bahwa hidup ini sebenarnya begini-begini saja, entah bagaimana terasa cocok. Hidup ini adalah soal lahir, tumbuh besar, dewasa, berkarya, menua, lalu mati. Hanya begitu. Hidup itu seperti asap yang sebentar terlihat, lalu menghilang. Seperti bunga rumput yang bergoyang ceria di siang hari, lalu kuyu sore harinya. Cepat sekali berlalu. Dan aku pun merasa waktu dalam hidup ini terasa licin. Meluncur tak terkendali!

Sebagai orang yang “penakut”, aku merasa komentar bahwa hidup ini begini-begini saja, sebenarnya cukup melegakan. Kenapa? Apa yang perlu ditakuti dalam hidup yang “begini-begini saja”? Semua pada akhirnya akan baik-baik saja. Hal-hal buruk dalam hidup ini semua akan berlalu. Ujung-ujungnya kita semua mati–bertemu dengan Tuhan, Sang Maha Cinta. Apa yang ditakuti? Menurutku ini senada dengan perkataan Abbas yang kutemui di Rawaseneng, “Hidup dan mati kita ada di tangan Tuhan.” Aku mengartikannya: Pasrah dan bergembiralah. Mungkin begitu singkatnya.

Aku pun merasa pertemuanku dengan Kak Iyen terasa singkat. Tahu-tahu misa ketiga sudah bubar. Akhirnya kami menyudahi obrolan dan berharap kapan-kapan bisa bertemu lagi. Aku pulang dengan perasaan kaya di dalam hati.

2 thoughts on “Hidup Itu… Begini-begini Saja

  1. Menik…kenapa bukan….”Hidup itu indah, jadi mari kita banyak berbuat untuk menikmati keindahan itu agar kita bahagia hidup di dalam nya”

    Btw, hidup di asrama memang menyenangkan, seperti keluarga besar, susah senang bersama. Saya juga merasa seperti saudara jika ketemu teman se asrama…sayangnya asramaku sudah jadi Mal sekarang, karena kampus IPB pindah ke Darmaga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s