Seminggu Ini…

Sebetulnya aku tidak punya topik khusus untuk kutulis di blog. Tidak ada resep yang ingin kubagikan. Sebetulnya sih kalau soal resep, itu adalah catatan untuk diriku sendiri yang pelupa. Kalau ingin mengulangi masakan tersebut, tinggal buka blog. Lagi pula, toh resep masakan yang kubagikan itu biasa saja. Orang lain pasti lebih jago memasak ketimbang aku. Eh, ya balik ke soal menulis blog tanpa topik ini. Aku sebetulnya mau nulis apa, juga bingung. Tapi kok rasanya pengin nulis saja. Semacam ngudarasa. Semacam melemaskan otot jari lalu memajang apa yang ada di kepalaku saat ini.

Hmm… sepertinya aku mau cerita yang biasa-biasa saja. Jumat lalu (24 Oktober) aku ke Bandung untuk ikut acara bersama teman-teman penerjemah buku hari Sabtunya. Acara ini sebetulnya digagas ketika beberapa teman penerjemah mengobrol dan ingin adanya suatu kegiatan yang cukup rutin untuk menambah wawasan para penerjemah buku. Selama ini dirasa kurang adanya pelatihan khusus untuk penerjemah buku. Memang sudah ada HPI yang beberapa kali mengadakan pelatihan penerjemahan, tapi kurang spesifik untuk penerjemah buku. Barangkali itu terjadi karena penerjemahan buku dikenal kurang menghasilkan uang dalam jumlah banyak (dibandingkan dengan penerjemahan dokumen yang sehalaman saja bisa menghasilkan uang lelah seratusan ribu). Di mana-mana ada gula ada semut, bukan? Sudah hukum alam barangkali ya. Singkat kata, acara kami berlangsung lancar. Jika ingin tahu lebih banyak tentang acara ini, Teh Rini sudah menuliskan lapantanya di sini.

Di Bandung kami beramai-ramai menginap di rumah Rere. Rumah Rere yang besar cukup menampung kami berdelapan (Uci, Mbak Dina, Meggy, Lulu, Mbak Mei, Mbak Dini, aku dan suami). Seru juga sih, karena kami bisa mengobrol dan haha hihi sampai tengah malam. Yang seru juga adalah suamiku bertemu dengan suami Mbak Femmy. Mereka berdua dulu satu kelas waktu kuliah di Bandung. Kami baru tahu mereka dulu sekelas hanya terpaut beberapa hari sebelum kami ke Bandung. Jadi, saat itu yang temu kangen (dan gosip-gosip) bukan hanya para penerjemah buku, tapi juga suami dua penerjemah.πŸ˜€

Deretan sebelah kiri ke belakang: Lulu, Meggy, aku, Uci, Rere. Deretan kanan ke belakang: Mbak Mei, Mbak Dina, Mbak Dini, Oni, Anais.

Deretan sebelah kiri ke belakang: Lulu, Meggy, aku, Uci, Rere. Deretan kanan ke belakang: Mbak Mei, Mbak Dina, Mbak Dini, Oni, Anais.

Sepulang dari Bandung, hari Minggunya, aku tidak bisa bangun siang dan berleha-leha di rumah karena mesti melayat Reni. Perjalanan ke rumah Reni cukup lancar. Hampir tidak kena macet. Berkat google maps, aku berhasil menemukan rumah Reni. Dulu aku pernah ke sana sekali waktu doa arwah untuk ibunya. (Yah, kenapa ke sana lagi justru untuk melayat kamu, Ren?) Entah kenapa waktu di depan peti, aku tidak bisa menangis. Sedih sih, tapi seperti ada yang menyumbat air mata. Di rumah Reni aku bertemu Sinta (Syantikara ’98). Dia sengaja datang dari Jogja untuk melayat Reni. Mungkin rasa kehilangan Sinta lebih besar daripada aku karena dia dulu sempat satu unit dengan Reni (di unit atas Syantina) selama tiga tahun. Aku tidak ikut misa requiem karena masih capek sekali setelah dari Bandung dan tiba di rumah sekitar pukul 1 tengah malam. Plus agak-agak lapar. Jadi, daripada malah sakit, aku dan suamiku memutuskan untuk pulang.

Hari-hari yang kulalui dalam seminggu ini bisa dikatakan tidak ada yang istimewa. Semua berjalan biasa. Misa Minggu sore, ke pasar, memasak, menerjemah, dan… oya, aku potong rambut. Setelah satu tahun lebih aku memanjangkan rambut hingga sebahu, akhirnya aku memutuskan untuk memendekkan rambut. Alasannya: Pengin ganti suasana. Reni meninggal dan beberapa waktu lalu aku sakit (hanya flu, sih) membuat suasana hatiku agak gimanaaa gitu. Lagi pula, beberapa hari ini cuaca panas sekali. Rasanya kalau berambut pendek, lebih praktis dan tidak perlu diikat supaya tengkuk tidak gerah. Sebetulnya agak sayang juga memotong rambut. Tapi toh rambut bisa panjang kan, jadi kalau mau memanjangkan tinggal memupuk kemalasan pergi ke salon.πŸ˜€

Aku senang seminggu ini baik-baik saja. Tidak ada yang istimewa adalah keistimewaan tersendiri. Bagiku yang biasa-biasa saja itu membahagiakan karena itu berarti aku cukup sehat, bisa beraktivitas, dan bisa berinteraksi dengan beberapa teman.πŸ™‚

*Foto meminjam dari Lulu.

2 thoughts on “Seminggu Ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s