Reni

“Mau bareng?” begitu kudengar pertanyaan dari seberang telepon.
“Iye,” jawabku singkat.
“Ya udah, ntar gue jemput.” Aku sudah menduga begitu jawabannya.
“Masih ingat jalan ke tempat gue?”
“Kira-kira masihlah. Tapi lupa gangnya.”
“Gampanglah. Ntar kutunggu depan gang ya.”

Ternyata aku terlambat keluar gang. Ampun, aku selalu payah untuk begini.

“Elu di mana, Ren?”
“Di dekat jembatan.”
“Jembatan? Kok aku nggak liat elu?” Aku jadi mengira aku ditunggu di jembatan yang jaraknya 100 meter setelah dari gangku. “Ya udah, gue jalan deh. Tunggu ya.”

“Gue sudah di dekat jembatan nih. Kok elu nggak ada?”
“Jembatan yang ada tempat benerin gigi kan?”
“Ya elaaah…. salah aku. Elu maju lagi deh. Gue di pinggir jalan nih. Pake kaos putih.”

Lalu tak lama kulihat sosok bertubuh padat sambil menyengir. Aku merasa konyol karena miskomunikasi ini. Segera aku membonceng ke jok di belakangnya dan kami pun melaju ke tempat kami akan bereuni.

Itu adalah satu dari beberapa peristiwa yang terekam dalam kepalaku soal dia–Reni. Menurutku, pertemanan kami ini unik. Saat di asrama, sepertinya aku jarang sekali ngobrol-ngobrol dengannya. Makan bareng di kafe asrama pun (semeja, maksudku), rasanya hampir tidak pernah. Tapi ketika aku di Jakarta, Reni termasuk salah satu teman yang menyapaku, mengajak makan, mengobrol, mengajak reunian dengan beberapa teman, mengajak menyambangi teman yang sedang kesusahan (dia pernah mengajakku mengunjungi Tita yang suaminya meninggal dan melayat Audi yang neneknya meninggal). Di kota yang kadang terasa keras ini, aku menjadi merasa memiliki teman. Barangkali itulah uniknya persahabatan mantan anak-anak asrama.

Aku lupa kapan tepatnya kami bertemu pertama kali ketika di Jakarta. Yang kuingat, kami pernah janjian ketemu di Bakmi Siantar. Makan mi dan mengobrol cukup lama. Obrolan ngalor-ngidul tak jelas. Tapi seingatku dia cerita soal ibunya yang akan operasi dan rencana pernikahannya. Lalu pernah pula dia menggagas pertemuan dengan beberapa teman eks Syantikara.

Tapi barangkali aku memang bukan teman yang baik. Waktu Reni menikah, aku tidak datang. Kalau tidak salah, aku sedang di Jogja. Memberinya kado pun tidak.😦 Tapi kemudian kami ketemu lagi. Seingatku kami bertemu di Bakmi Siantar lagi dekat terminal Rawamangun.

Sekitar semingguan yang lalu aku baca di TL FB-ku kalau dia sakit. Opname. Aku tidak tahu persis apa sakitnya. Memang sih dia sempat cerita beberapa bulan lalu bahwa dia sakit. Lemas katanya. Aku agak kurang jelas apakah opnamenya kemarin itu ada hubungan dengan sakitnya beberapa bulan lalu. Waktu itu aku sempat mikir, apa aku tengokin ya? Tapi… yah, ternyata aku memang bukan teman yang baik. Aku tidak jadi menengok. Waktu itu aku radang tenggorokan dan batuk-batuk. Kupikir, nanti saja deh kalau dia sembuhan, ketemu sambil janjian makan atau kumpul-kumpul dengan teman asrama lagi.

Kemarin siang (Sabtu, 25 Oktober), aku dan beberapa teman penerjemah ke Bandung. Niatnya kami ingin menambah wawasan dan meningkatkan kualitas sebagai penerjemah buku. Acaranya di kantor Penerbit Mizan, Bandung.

Selama acara aku berusaha tidak memegang ponsel. Niatnya sih sejak awal, aku pengin lebih konsentrasi mendengarkan pembicara. Hanya sesekali memotret. Ponsel aku taruh dalam tas. Sempat juga kutitipkan ke suamiku yang menunggu di luar. Entah kenapa pada sesi kedua acara aku ingin memotret. Tapi saat itu kamera kutitipkan ke Oni–suamiku yang menunggu sambil membaca di luar ruangan. Aku keluar dan menemuinya. Dia bilang, kamera ada di dalam tas yang ada di dalam ruangan, di sebuah meja yang berseberangan denganku. Waktu aku mencari kamera, aku melihat kantong ponselku dan tergoda membukanya. Ada panggilan masuk tak terjawab. Siapa ya? Ternyata salah seorang teman asrama, Ayung. Tumben dia telepon. Penasaran, aku sms dia: Kenapa telepon? Dia bilang, tadinya dia mau tanya tentang Reni.

Reni? Aku langsung berpikir, apakah Ayung mau mengajak menengok Reni yang sakit. Tapi aku kemudian balik bertanya untuk memastikan maksudnya, “Kenapa Reni?”

Reni meninggal.

Serius?

Aku jadi serbasalah setelah itu. Beberapa teman asrama mengabari akan melayat sore itu juga. Duh Ren, kenapa kamu perginya pas aku tidak di Jakarta sih?

Mendadak kenangan dengan Reni berlompatan di kepalaku. Suara Reni ketika kami bercakap di telepon seolah masih terngiang di telingaku.

Aku tak percaya. Baru sebulan lalu kami ketemu. Sehari sebelumnya aku sempat melihat dia pasang status di FB. Kok sekarang dia sudah tidak ada sih?

Pada akhirnya aku mesti merelakan Reni. Mungkin ini yang terbaik buatnya. Selamat jalan, Ren! Semoga bahagia dalam pelukan Sang Mahacinta. Terima kasih atas sapaan dan sudah memperkaya hidupku.

One thought on “Reni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s