Soal “Harta Karun”

Beberapa waktu lalu aku ketemu teman lama. Ini pertemuan setelah sekian belas tahun kami berpisah. Bisa ditebak, dalam pertemuan kemarin isinya nostalgia. Lalu aku iseng tanya kabar salah seorang temannya. Dulu menganggap mereka itu kawan dekat. Aku sering melihat mereka bareng.

“Trus, gimana kabar si X?” tanyaku.

“X? Ngilang dia. Aku juga nggak tahu.”

“Loh, kan kalian deket banget dulu? Sama sekali nggak kontak-kontakan lagi?”

“Enggak,” jawabnya. Lalu dia cerita kalau si X sempat ada masalah dengan banyak orang, lalu menghilang. Putus kontak dengan semua teman.

Hm, ya… agak mengagetkan bagiku. Eh, tapi cerita seperti itu sudah sering kita dengar dalam bermacam-macam versi kan?

Ngomong-ngomong soal kontak, soal teman lama, soal relasi, aku jadi merenung memang ada teman yang datang dan pergi. Dulu dekaaaat banget, tapi sekarang SMS pun tidak. (Eh, sekarang sih zamannya pakai WhatsApps, email, Line, ya? Ada yang baru lagi?) Ada teman yang berubah, lalu aku jadi tidak nyaman lagi untuk sekadar mengobrol dengannya. Ada teman yang sudah sibuk sekali, sehingga aku sungkan untuk mengontaknya. Memang banyak hal bisa mengubah seseorang: pekerjaan, agama, keluarga, pandangan politik, dll.

Suatu kali seorang temanku mengeluh dia kesepian. “Kesepian kenapa?” tanyaku. Selama ini aku mengira dia banyak teman. Tapi ternyata dia mengalami kesepian juga. Dia cerita teman-temannya sudah berkeluarga, sedangkan dia belum. Kalau teman-temannya berkumpul, yang dibahas soal anak mereka masing-masing. Sementara dia putus melulu. (Aku antara kasihan dan geli waktu mendengar ceritanya.) Tapi memang begitu kan ya? Kalau orang sudah berkeluarga dan punya anak, biasanya anak akan jadi topik pembicaraan yang tidak ada habisnya. Dan orang yang masih lajang atau belum punya anak akhirnya cuma banyak mendengarkan. Plus mereka diceramahi supaya cepat menikah dan punya anak sehingga tidak jarang menjadi merasa bahwa ada yang kurang dalam hidup mereka; bahwa mereka kurang bahagia, bahwa mereka harus melakukan ini dan itu supaya semakin bahagia. (Dan pertanyaannya: apakah orang tidak bisa bahagia dengan keadaannya yang sekarang? Walaupun masih melajang dan hidup pas-pasan, barangkali?)

Kadang aku merasa hidup ini semacam urutan kenaikan kelas. Dari kelas 1 SD lalu naik kelas 2. Dari SD lalu naik ke jenjang SMP, lalu SMA, lalu kuliah. Waktu satu per satu teman-teman mulai lulus, aku mulai galau karena belum lulus juga. Setelah itu, satu per satu temanku menikah. Mulai deh dihantui pertanyaan: Kapan nyusul? Kurasa jenjang kenaikan kelas itu terus berjalan sampai tua (mungkin), dilengkapi dengan pertanyaan: Berapa cucunya? Berapa cicitnya? Sudah berapa depositonya? Sudah punya rumah di mana saja?

Suatu pagi, aku mendengar ada keramaian di depan. Ternyata ada tetangga meninggal. Orang itu usianya sudah lanjut dan sudah lama sakit, begitu kabar yang kudengar dari bapak penjaga kontrakan. Aku hanya bertanya-tanya, ketika orang sudah tua dan mendengar ada tetangganya yang meninggal, apa yang terlintas di benaknya? Apakah rasanya kurang lebih sama ketika aku tahu teman-temanku sudah lulus sementara aku masih berjuang merampungkan bab 2 dari skripsiku? Takut? Sedih? Pengin segera “dipanggil” juga karena satu per satu temannya yang biasa diajak mengobrol pergi? Pengin segera “naik kelas” menuju “kehidupan yang baru”? Kehidupan seperti apa yang ingin diwariskannya?

Ah, ya… ada teman-teman yang datang dan pergi. Ada saudara yang dulu dekat dan kemudian jauh. Ada orang yang dulu kita sebut sahabat, tapi sekarang kabarnya sayup-sayup terdengar. Orang berubah. Kadang aku merasa kehilangan. Dan memang ada yang hilang. Tapi bukankah hidup memang begitu ya? Aku pun mungkin dianggap berubah oleh teman-temanku yang lain. Karena itu, jika ada orang yang masih bisa enak kita ajak bicara, jika ada teman yang “tidak berubah” (yang berubah hanya umurnya, hanya semakin tambah tua, hanya semakin keriput), jika ada orang masih dengan mudah kita jangkau dan kontak, barangkali itu adalah harta karun dalam hidup ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s