Meminjam Bumi

Kurasa ada dua jenis orang ketika mencuci tangan di wastafel.

Jenis I:
Buka keran, membasahi tangan. Setelah itu mengambil sabun dan membiarkan keran air tetap terbuka. Setelah kedua belah tangan disabuni, dibasuh dengan air dari keran yang masih mengalir tadi. Setelah selesai, keran dimatikan.

Jenis II:
Hampir sama seperti orang jenis pertama, tapi bedanya, sebelum mengambil sabun, keran air dimatikan terlebih dahulu. Tujuannya sederhana, agar air bersih tidak terbuang percuma. Setelah tangan disabun, baru keran dibuka lagi untuk membilas. Setelah selesai, keran dimatikan.

Kamu termasuk jenis yang mana?

Beberapa waktu lalu, aku janjian dengan temanku, Adel, untuk makan di sebuah rumah makan tak jauh dari rumah kami berdua. Temanku ini mengajak anaknya yang masih TK, Hiero. Sebelumnya aku mau cerita hubungan dengan Hiero ini. Entah bagaimana hubunganku dengan Hiero itu rasanya antara benci dan rindu. Haha, lebay istilahnya ya. Jadi begini ceritanya, hubungan kami ini dimulai sejak Hiero masih ada di dalam perut ibunya. Waktu Adel hamil Hiero, kami beberapa kali jalan berdua, entah makan bareng, belanja, atau sekadar ngerumpi sambil jalan-jalan. Waktu Hiero sudah lahir, aku kadang main ke rumahnya. Nah, biasanya kalau aku pamit pulang, dia pasti nangis menahanku tidak boleh pulang. Repotnya kalau sudah malam dan mau tidak mau aku harus pulang. Dia nangisnya sampai lama banget. Kasihan emak dan bapaknya yang sibuk menenangkan dia saja sih. Jadi kalau bisa, aku pulang pas dia sudah tidur. Orang Jawa bilang, istilah dilimpe. Hahaha. Sekarang Hiero sudah agak besar. Tapi anak itu sepertinya perasa dan suka ngambek. Aku termasuk tante iseng yang kadang-kadang membuat dia ngambek lalu ujung-ujungnya nangis. Nah, kalau sudah ngambek, aku dan Hiero jadi sebel. Ish… pokoknya gitu deh. Kalau dia sudah sebel sama aku, dia biasanya bilang begini, “Tante Nik pulang sana!” Haha. Aku antara geli dan sebel kalau dia mulai ngomong begitu. Tapi kalau kami lama tidak ketemu, suka kangen. Jadi, begitulah cerita hubungan benci dan rinduku dengan Hiero.

Oke, balik ke urusan cuci tangan dan makan di restoran tadi. Sambil menunggu makanan kami datang, Hiero diminta cuci tangan oleh ibunya. Awalnya ibunya yang mau mengantar dia cuci tangan, tapi Hiero menolak. “Mau sama Tante Nik aja.” Iya, begitu tuh dia kalau belum ngambek sama aku. Suka manja-manja gimana gitu deh.šŸ˜€šŸ˜€ Akhirnya aku temani dia cuci tangan. Setelah dia membuka keran dan mengambil sabun, kulihat dia tidak mematikan keran. Aku pun menegur dia, “Hiero, kalau setelah ambil sabun, kerannya dimatikan dulu ya? Biar air bersihnya tidak kebuang sia-sia. Hiero mesti jaga air bersih soalnya nanti makin lama, air bersih susah didapat. Hiero bakal hidup lebih lama dari Tante Nik. Jadi, Hiero akan butuh air bersih lebih banyak lagi. Oke?” Aku tidak tahu dia mengerti ucapanku apa tidak. Tapi dia mengangguk-angguk mendengarnya.

Dilihat dari segi umur, aku dan Hiero usia kami terpaut jauh. Tadi aku mengatakan bahwa Hiero akan hidup lebih lama dari aku. Memang aku tidak bisa menebak umur manusia, tapi dari hitungan nalar manusia, benar seperti itu kan? Kurasa Hiero dan generasi dia selanjutnya akan punya tantangan lebih besar lagi dalam mengelola lingkungan. Zaman sekarang lingkungan kita saja sudah banyak tercemar. Apalagi nanti kalau Hiero sudah seumur aku ya? Seberapa tinggi lagi pencemaran lingkungan yang terjadi? Apakah air bersih akan sama mudah didapatnya seperti sekarang? Atau bakal lebih sulit? Atau pemerintah ke depan akan menerapkan pengelolaan air bersih dengan lebih canggih? Aku rasa tidak bijak juga kalau kita take for granted air bersih yang selama ini kita pakai.

Untuk urusan seperti ini barangkali aku terkesan riwil dan lebay bagi sebagian (besar?) orang. Tapi aku merasa yang kulakukan ini baik. Menjaga dan tidak menyia-nyiakan air bersih itu penting dan perlu ditanamkan sejak anak masih kecil. Siapa yang bisa mengajari? Orang yang lebih dewasa tentunya–guru, orang tua, kerabat, saudara, dll. Kita meminjam bumi yang kita tempati ini dari anak cucu kita. Ya, kalau tidak punya anak atau cucu, anggap saja kita pinjam dari anak atau cucu tetangga atau saudara.šŸ˜€ Kalau memang punya anak dan cucu, mestinya lebih sadar dong. Namanya meminjam, mestinya dikembalikan dengan baik dong. Iya kan?

Nah, dalam hal mencuci tangan, kamu termasuk orang jenis pertama atau kedua?

One thought on “Meminjam Bumi

  1. aku termasuk yg kedua Nik, matikan dulu airnya barulah ambil sabun
    cara lain hemat air di rumahku dgn pasang paving block aja bukan disemen supaya air hujan bisa meresap masuk tanah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s