Apakah Kamu Bercita-cita Jadi Presiden?

Terus terang aku lupa apa cita-citaku ketika aku masih kecil. Ah, ya… partner in crime-ku selalu bilang ingatanku tidak seperti gajah. Alias, mudah lupa. Dan aku betul-betul tidak ingat. Mungkin yang kuingat dulu adalah aku mesti rajin membuat PR. Jangan sampai lupa. Kalau lupa, itu memalukan. Satu hal yang kuingat adalah rasa tidak enak ketika aku sampai lupa mengerjakan PR atau lupa membawa buku tertentu ke sekolah. Biasanya aku akan deg-degan, berkeringat dingin, dan perut melilit. Sungguh tidak enak.

Seingatku, Bapak ingin aku jadi dokter. Tapi jelas saja aku tolak keinginan itu. Aku takut melihat darah. Pokoknya yang berbau suntik dan darah begitu aku takut. Lagi-lagi membuat perutku mulas, berkeringat dingin, dan tulang seperti dilolosi. Aku tidak suka. Biarlah orang-orang pemberani saja yang jadi dokter. Bahkan aku pun tak berminat jadi istri dokter. Serius. Walaupun aku tidak pernah punya pacar dokter–atau minimal mahasiswa kedokteran–aku tak berminat. Aku pilih yang… ah, mau tahu saja kalian.😀😀

Mungkin karena cita-citaku tidak jelas begitu akhirnya aku hanya mengikuti minatku saja. Eh, ya… seingatku aku pernah ingin jadi arsitek; pernah juga ingin menjadi wartawan. Tapi aku memang tidak serius mengejar cita-citaku. Lagi-lagi aku mengikuti minatku saja, yaitu bahasa Inggris. Walaupun tidak jago-jago amat, tapi lumayanlah. Setidaknya nafkahku dari sini, yaitu menjadi penerjemah (buku). Sebagian orang mengatakan “Wah, asyik ya kerjaannya” ketika kuceritakan pekerjaanku saat ini.

Oke, sebetulnya aku mau bilang kalau aku ini agak-agak GR yang tidak pada tempatnya ketika aku tahu Pak Jokowi berulang tahun pada tanggal yang sama denganku. Sepertinya tanggal 21 Juni adalah tanggal bagus sehingga pada tanggal itu memunculkan orang-orang yang kuanggap hebat. Eh, aku tidak bermaksud kampanye ya.

Begini, suatu hari aku bilang ke ibuku, “Aku kalau jadi Jokowi, tidak mau nyapres.” Ibuku bertanya, “Kenapa?” Karena untuk jadi capres itu melelahkan. Setidaknya itu menurut pandanganku. Aku membayangkan kalau jadi Jokowi, aku akan sakit kepala tidak sembuh-sembuh selama jadi capres. Jadi gubernur DKI saja aku ogah. Apa enaknya? Orang-orang Jakarta itu nyebelin. (Maap ye…) Tapi selama tinggal di Jakarta, aku merasa orang di kota ini lebih susah diatur. Masalah sepele saja misalnya, soal memakai helm. Dulu, waktu aku tinggal di Madiun, mana berani aku naik sepeda motor tanpa memakai helm? Aku sempat merasakan ketika peraturan pemakaian helm ditetapkan. Waktu itu memakai helm semacam paksaan. Terasa menyebalkan memang. Dan saat itu para pengendara motor yang tidak memakai helm betul-betul ditilang. Bagiku, si anak penakut ini, ditilang itu bagaikan ditakut-takuti masuk penjara. Mengerikan! Akibatnya, sampai sekarang aku merasa perlu pakai helm jika naik motor–walaupun jarak dekat. Memang harus begitu kan? Demi keselamatan pribadi juga kan? Tapi berbeda ketika aku di Jakarta. Kuakui aku beberapa kali melanggar peraturan: tidak mengenakan helm saat naik motor. Aku memang hanya dibonceng sih. Tapi teman yang memboncengkan aku hanya bilang: “Tenang saja, tidak apa-apa.” Dan memang tidak terjadi apa-apa. Banyak orang naik motor tidak memakai helm di sini. Banyak, banyak sekali! Bahkan ketika polisi melihatnya, mereka tidak ditegur, disemprit, atau dapat peringatan. Itu terjadi berulang kali dan saat itu aku lewat jalan protokol! Bayangkan. Kalau di Madiun, aku pasti tidak akan berani melakukannya. Sampai sekarang pun, aku tidak akan berani. Jadi, aku menyimpulkan, orang Jakarta lebih berani melanggar aturan. Kebayang kan betapa dibutuhkan ketegasan dan hati seluas samudera untuk jadi gubernur DKI, memimpin masyarakat yang susah diatur dan punya permasalahan yang kompleks? Ah, aku sih ogah. Capek lahir batin. Tapi kok Pak Jokowi mau sih? Apalagi dia suka blusukan begitu. Mungkin simbahku akan bilang, dia itu wong sing ra duwe kesel. Tidak punya rasa capek.

Oh, ya balik ke soal capres tadi. Iya, jadi capres itu melelahkan. Aku membayangkan akan menangis berapa kali ya kalau selama masa kampanye aku dapat fitnahan kiri kanan, atas bawah. Dibilang kafirlah, dibilang antek asinglah, dan entah apa lagi. Pernahkah kamu difitnah? Aku lupa. Lagi-lagi aku memang pelupa. Tapi aku ingat, ketika mendengar selentingan tidak mengenakkan tentang diriku saja, rasanya sangat mengesalkan! Tapi mau tidak mau harus menelan itu semua kan kalau kita maju jadi capres. Setidaknya itu yang terjadi sekarang. Setidaknya itu yang menimpa kedua capres kita. Banyak orang bermulut tajam dan menghalalkan segala cara agar capres jagoannya menang. Memang jahat. Mengerikan isi otak manusia itu.

Aku ingat, dulu waktu SD aku pernah terpilih jadi ketua kelas. Tapi untungnya cuma sekali. Dan itu sangat tidak mengenakkan. Ketika guru kelas keluar, aku wajib mencatat nama teman-temanku yang ramai sendiri. Wah, padahal kalau guru sedang tidak di tempat paling asyik kalau kita ikut membuat gaduh kan? Iya, itu memang ide anak badung. Mungkin itu sebabnya aku tidak suka jadi ketua kelas. Jadi pemimpin itu sulit–menurutku. Dalam pikiranku, idealnya seorang pemimpin itu mesti orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Maksudku, idealnya pemimpin itu tulus, tidak punya kepentingan pribadi. Kalau orang itu punya banyak kepentingan, selama memimpin dia akan sibuk memenuhi keinginannya sendiri lalu lupa bahwa dia perlu mengurusi rakyatnya.

Aku rasa, jika saat ini ada anak yang bercita-cita jadi presiden, itu ibaratnya dia bercita-cita jadi santo/a. Jadi orang suci. Orangtuanya wajib tirakat puasa Senin-Kamis bertahun-tahun barangkali agar cita-cita anaknya terkabul. Dan dari kecil si anak mesti latihan menahan hawa nafsu, plus dia harus cerdas. Jadi, waktu menjadi presiden dia sudah melepaskan segala keinginan dan benar-benar mengabdi untuk bangsa dan negara. Mudahkah? Kurasa itu jalan yang terjal. Tidak semua orang mampu. Karena untuk jadi pemimpin, apalagi menjadi presiden sebuah negara, selain diperlukan otak yang cukup cerdas, diperlukan ketulusan. Namanya juga mau mengabdi, kan? Kalau dia punya banyak kepentingan, nanti salah-salah dia mengabdi dirinya sendiri atau sibuk mencari proyek untuk memakmurkan dirinya sendiri.

Ah, tulisan ini sudah terlalu panjang kurasa. Semakin membosankan. Jadi kuakhiri saja. Aku hanya berharap, presiden kita nantinya orangnya tulus dan baik. Sederhana ya? Kalau soal pintar, aku rasa walaupun itu perlu, juga dia juga perlu bisa mengumpulkan orang-orang pintar untuk menjadi pembantunya. Tentunya orang-orang itu juga tulus dan ikhlas. Menurutku lebih sulit menjadi orang tulus dan berhati bersih daripada menjadi orang pintar. Orang pintar banyak, tapi yang hatinya bersih? Adakah? Semoga ada. Kalau tidak, yaaa… mungkin perlu beberapa generasi lagi agar bangsa ini maju–sebelum tergilas oleh kebodohannya sendiri.

3 thoughts on “Apakah Kamu Bercita-cita Jadi Presiden?

  1. aku ngga deh kalo jadi presiden, bisa ngga tidur aku. Trus takutnya aku ngga sabaran ngadepin orang yang ndableg hehehe

    kalau aku bisa pusing, sakit perut, campur gatal-gatal kali, Mbak. hahaha!

  2. Baru baca bukunya Pak SBY Mba, dia cerita tentang masa2 jadi Presiden, jalan2 aja ga bisa karena kerjaan banyak banget, ga deh aku, hahaha, yang lain aja deh yang jadi Presiden😀 aku masih suka menikmati hidup

    Tos! Pasti pekerjaannya banyak banget. Belum lagi kalau didemo. Dimaki orang banyak. Aduh, pusing.

  3. Semoga tahun depan bisa ulang tahun bareng ya…..hehehe

    Presiden? Nggak deh? Semakin tinggi jabatan, tuntutan kinerjanya juga makin tinggi, dan kayaknya saya bukan tipe orang mengejar segalanya. Cukup bisa punya kerjaan, membahagiakan keluarga…sudah cukup. Saya malah bisa jalan2 setelah pensiun, karena pekerjaan bisa diatur sesuai selera kita, saat masih aktif pergi pagi2, pulang malam, kadang nginep di kantor. Sedih kalau ingat masa-masa itu, apa yang saya cari?

    Bu Enny, saya tertarik dengan pertanyaan yang terakhir itu: apa yang saya cari? Pertanyaan seperti itu sering muncul di benak saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s