Menguping Obrolan Dua Wanita

Siang itu aku naik sebuah mikrolet. Angkot itu tak banyak penumpangnya. Hanya lima orang termasuk aku. Empat yang lain adalah anak sekolah. Di dekat sebuah mal, naik dua wanita. Salah satu dari mereka menggendong bayi dan menuntun seorang bocah perempuan sekitar dua tahun. Aku bergeser ketika mereka di mulut pintu angkot itu. Kulihat ibu yang menggendong bayi itu agak kerepotan karena selain harus menggendong bayi, dia pun perlu mengangkat anak perempuannya naik tangga angkot yang cukup tinggi. Sesampai di dalam angkot, mereka langsung menempati bangku yang kosong. Si ibu bayi persis duduk di sebelahku, sedangkan wanita satu lagi di seberangnya. Sepertinya mereka bersaudara–mungkin kakak-adik.

Tak lama mereka pun langsung memenuhi angkot dengan suara percakapan mereka. Ibu itu angkat bicara, “Duh repot deh bawa dua anak. Sekarang (aku) nggak pernah bisa pergi-pergi.” Wanita di seberangnya hanya mendengarkan. Termasuk aku ikut menguping. Eh, tidak menguping ya kalau suara mereka cukup keras, dan mau tak mau telingaku menangkap pembicaraan mereka.

Bocah perempuan kemudian merengek minta duduk, yang dijawab si ibu: “Mau duduk di mana? Sudah penuh.” Anak itu lalu berlendotan di dekat kaki ibunya. Kemudian ibunya mengamati hidung si bocah. “Waduh, kamu ingusan pula.” Dibersihkannya ingus anaknya dengan jari, tanpa tisu atau sapu tangan. Bocah itu tertawa-tawa. Kemudian dia menunjuk-nunjuk tas tantenya.
“Mau apa?” tanya si tante.
Bocah itu hanya menunjuk-nunjuk bulatan kecil warna perak penghias tas si tante.
“Itu nggak bisa diambil,” jawab ibunya. Dan… menangislah si bocah.
“Aduh, kamu minta apa sih? Bilang dong,” ujar tantenya lagi. Anak itu hanya menunjuk-nunjuk tidak jelas. “Oh, tisu? Bilang yang bener dong.”
(Dalam hati aku bertanya-tanya, anak itu sudah bisa bicara atau belum ya?) Setelah diberi tisu, anak itu asyik mengutik-utik hidung dan ingusnya dengan tisu. Wajahnya gembira.

Tak lama kemudian si tante bertanya, “Dari turun angkot nanti, naik ojek berapa ongkosnya?”
“Mana gue tahu,” jawab si ibu.
“Masak elu kagak tahu?”
“Gue kagak pernah pergi-pergi lagi.” Dia menunduk memandang si bayi. “Duh, untung ya dulu gue udah puas mainnya sebelum kawin. Setelah kawin gue kagak bisa pergi-pergi. Ngurusin dua ini,” tambahnya.
“Ha… ha… ha… Untung di gue ya?” jawab si tante. “Gue belum kawin. Biar aja orang tanya, ‘Kapan?’ ‘Kapan?’ Ah, peduli amat.”
“Iya, puas-puasin deh main sebelum kawin. Ntar biar nggak nyesel setelah kawin.”

Terdengar bunyi dering telepon genggam. Rupanya itu bunyi ponsel si tante. Sementara itu ponselku berbunyi. Ada SMS masuk. Kubaca sekilas lalu kusimpan ponselku. Aku tak terlalu menyimak kata-kata si tante yang sedang bertelepon. Tapi si tante tak lama berbicara.

“Siapa?” tanya si ibu.
“Biasa, abang lu.”
“Ngapain?”
“Ah…” si tante mendecakkan lidah. “Makin parah dia sekarang,” tambahnya. Binar matanya mendadak pudar. Mungkin ada yang tidak menyenangkan, pikirku.

Kulihat pemandangan di luar angkot. Aku hampir sampai. “Pojok depan, ya Bang!” seruku kepada sopir angkot. Aku turun.

Pembicaraan dua wanita itu masih terekam di benakku. Aku lalu teringat obrolan dengan seorang teman beberapa waktu lalu. “Aku pengin kawin,” katanya ringan. Aku tertawa mendengar kata-katanya. Bukan apa-apa, kawanku ini beberapa kali pacaran dan putus terus. “Memangnya sekarang pacarmu siapa? Mbok aku dikenalin.” Kalau dia bilang pengin kawin, asumsiku dia sudah punya pacar.
“Nggak punya pacar aku.” Dan ngakaklah aku.
“Asem, malah diketawain,” ujarnya.
“Emang kenapa kamu kok tiba-tiba bilang pengin kawin?”
“Semua temanku sudah menikah. Tinggal aku yang belum. Mereka kalau ketemu ngomongin soal anak dan istri atau suaminya. Lha trus aku ngomongin apa? Pacar nggak punya. Kerjaan ya begini-begini saja.” Mestinya temanku itu mendengar pembicaraan dua wanita di angkot tadi.

Seseorang memasuki pernikahan dengan impian di kepalanya. Yang namanya impian, tentunya indah-indah kan? Tapi barangkali ketika semua debar yang mengiringi rasa jatuh cinta itu usai, tinggallah kenyataan. Kenyataan itu bisa lebih baik dari impian yang dibayangkan sebelum memasuki pernikahan, bisa juga lebih buruk. Lalu aku teringat kalimat yang kulontarkan kepada kawanku sebelum kami mengakhiri obrolan tak jelas kami, “Serius, kamu pengin kawin?” Menurutku, pernikahan itu tidak wajib. Pernikahan itu mungkin perlu dipasangi embel-embel: “Menikahlah bila perlu–dan bila mau memperjuangkan keyakinan bahwa hidupmu akan jadi lebih baik dengan menikah.”

One thought on “Menguping Obrolan Dua Wanita

  1. Kayaknya ibu tadi nyesel kawin ya? Masalahnya si anak mendengar pembicaraannya, bisa luka batin tuh.

    Aku tidak tahu persisnya, si ibu itu nyesel menikah atau nyesel punya anak. Tapi mungkin dua-duanya. Entahlah. Iya, memang anaknya mendengar percakapan ibunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s