Sepeda: Sebuah Kerinduan dan Kebebasan

Kapan kamu mulai bisa naik sepeda? Dibanding teman-teman sebayaku, aku lebih lambat. Baru ketika naik kelas 4 SD aku bisa naik sepeda. Sebelumnya aku takuuut! Memang dasar penakut aku ini. Sebelumnya aku sudah pernah belajar naik sepeda, tapi aku beberapa kali jatuh dan kapok. Jatuhnya sih tidak seberapa. Tapi waktu itu kuku jempol kakiku sempat nggasruk aspal, sehingga copot dan berdarah-darah. Jadi, aku sempat mandeg tidak mau latihan naik sepeda cukup lama.

Lama aku mengubur keinginan untuk bisa naik sepeda. Ketika menyaksikan teman-teman sebayaku bisa naik sepeda, kok aku jadi pengin ya? Akhirnya aku mencoba latihan lagi. Aku ingat, dulu aku latihan naik sepeda di dekat stadion. Di sana ada lapangan kecil yang cukup rindang dan sepi. Seingatku aku tidak terlalu lama latihan dan akhirnya bisa. Mungkin saking penginnya, jadi akhirnya cepat bisa. Meskipun begitu, aku tidak pernah bisa memboncengkan teman. Tidak pernah latihan. Sampai sekarang pun aku tidak bisa. Aku hanya bisa memboncengkan orang lain saat naik sepeda motor.

Selama ini, sepeda yang kumiliki tidak pernah sepeda yang baru. Aku selalu dapat lungsuran. Sepeda pertamaku adalah sepeda mini merah bekas milik kakakku. Ketika aku memakai sepeda mininya, dia punya sepeda jengki. Setelah dia melanjutkan SMA di Jogja, aku ganti memakai sepeda jengkinya. Dulu sempat pengin sepeda federal (waktu aku SMP, sepeda model itu lagi tren), tapi tidak pernah kesampaian. Sepeda-sepedaku dibarui hanya dengan dicat ulang. Warnanya memang jadi kinclong dan membuatku pangling.

Ya, sejak kelas 4 SD sampai aku SMA, sepeda adalah salah satu bagian hidupku. Hampir selalu aku naik sepeda untuk beraktivitas ke sekolah dan ke gereja. Waktu SMA, aku memang mulai naik sepeda motor, tapi untuk ke sekolah aku tetap naik sepeda atau jalan kaki.

Ketika aku kuliah di Jogja, aku tidak membawa sepeda. Waktu itu aku merasa cukuplah aku naik angkot dan jalan kaki. Tapi dalam hati, aku kangen juga naik sepeda. Entah kenapa aku waktu itu tidak memutuskan membawa sepeda, aku tak ingat. Mungkin karena aktivitasku hanya di kampus dan asrama. Lalu setelah lulus, aku mulai naik sepeda motor di Jogja. Sepeda motor jadi bagian yang tak terpisahkan. Menurutku, Jogja kurang bersahabat kendaraan umumnya. Tidak bisa diandalkan. Jadi, kalau mau lebih leluasa ke sana-sini, paling enak naik sepeda motor.

Sekarang aku tinggal di Jakarta dan… aku suka kangen naik sepeda. Tapi aku tetap tidak membawa sepeda ke sini. Aku pikir, tidak terlalu efektif. Lagi pula, kota ini terlalu besar untuk dikelilingi dengan sepeda dan lalu lintasnya kurang bersahabat. Belum lagi polusinya. Jadi males deh bawa-bawa sepeda ke sini.

Rasa-rasanya, ceritaku tentang sepeda tadi biasa saja. Aku pun selama ini merasa, perempuan sepertiku bisa naik sepeda itu hal yang biasa. Begitu pula soal kekangenanku naik sepeda yang sekarang seringnya kutumpahkan saat aku pulang ke Jogja. Itu pun juga kalau bangunku tidak kesiangan. Lalu apa istimewanya ceritaku soal sepeda itu? Aku tersadar bahwa aku bisa naik sepeda semasa kecil dulu adalah hal yang istimewa ketika menyaksikan film Wadjda kemarin di Erasmus Huis. Aku tidak punya ekspektasi apa pun saat akan menyaksikan. Malahan aku agak bingung waktu membaca sinopsis film itu pada awalnya. Dikatakan bahwa Wadjda (si tokoh utama di film itu) pengin beli sepeda. Apa istimewanya keinginan anak perempuan punya sepeda? Hampir semua anak bisa naik sepeda kan? Tapi rupanya sepeda itu adalah simbol. Simbol kebebasan.

Jadi, ceritanya ada anak perempuan di Arab Saudi bernama Wadjda. Dia masih SD. Kesanku, anak itu bandel. Tapi yaaa… bandelnya anak-anak. Biasa. Menurutku, dia agak lain daripada teman-temannya yang lain. Dia berani dan punya kemauan keras. Dan sepertinya dia tidak ingin cepat-cepat dinikahkan seperti hal kebiasaan yang lazim di sana. Dia cuma pengin sepeda warna hijau agar bisa berlomba naik sepeda dengan Abdullah, temannya yang suka menggoda dia. Di film itu terlihat hanya dia yang punya teman laki-laki. Sepertinya di sana memang dibatasi pertemanan antara laki-laki dan perempuan–bahkan untuk anak-anak.

Saking penginnya Wadjda punya sepeda, dia melakukan segala cara. Mulai dari merayu ibunya, jualan gelang buatannya sendiri–yang akhirnya ini pun dilarang oleh gurunya karena dipandang suatu hal yang tidak pantas (atau haram?), menjadi kurir surat teman sekolahnya yang ditujukan kepada teman pria. Suatu hari dia berniat ikut lomba menghapal ayat Al-Quran. Dia pun ikut semacam kegiatan ekstra keagamaan agar bisa berlatih. Alasan utama ikut lomba itu adalah, jika memenangkan lomba menghapal Al-Quran tersebut, uangnya cukup untuk membeli sepeda.

Di situlah aku merasa bahwa sebagai seorang perempuan, aku cukup merasakan kebebasan di negara ini. Aku tidak bisa membayangkan jika untuk hal-hal remeh saja aku dibatasi misalnya tidak boleh naik sepeda, tidak boleh berteman dengan laki-laki. Apa enaknya hidup seperti itu? Terlebih lagi, apa enaknya jadi warga kelas dua?

Pada akhirnya, Wadjda berhasil memenangkan lomba menghapal ayat Al-Quran. Dia jadi juara satu. Terang saja guru-gurunya kagum dan takjub. Anak nakal itu sudah berubah, pikir mereka. Tibalah saat penyerahan piagam dan hadiah. Wadjda dipanggil ke panggung, lalu ditanya uang yang didapatnya itu mau buat apa. Dengan polosnya gadis cilik itu menjawab akan memakainya untuk membeli sepeda. Semua temannya tertawa. Gurunya terhenyak. Ternyata anak ini belum berubah, pikir bu guru bermata tajam itu. Tahu apa yang dilakukan ibu guru itu? Dia memutuskan hadiah uang untuk Wadjda itu disumbangkan ke Palestina. Waktu mendengar keputusan guru itu, aku ikut sebal. Apa-apaan sih? Jelas itu haknya Wadjda. E… enak saja dia mau menyumbangkan uang tersebut. Tapi Wadjda hanya diam menanggapi keputusan sepihak gurunya.

Sesampainya di rumah, Wadjda tidak menjumpai ibunya. Hanya ada ayahnya (yang tampaknya pulang sesekali saja). Ternyata, si bapak hari itu memutuskan akan menikah lagi karena ibu Wadjda yang cantik itu tidak bisa memberikan anak laki-laki. Duh, rasanya pengin nampol si bapak itu deh. Di akhir film itu diperlihatkan Wadjda menjumpai ibunya di loteng sedang merokok. Rambut ibunya yang panjang dan indah sudah pendek. Mungkin itu adalah bentuk perlawanan ibunya setelah suaminya memutuskan menikah lagi. Selain itu, Wadjda akhirnya mendapat sepeda yang diidamkan dari ibunya. Akhir yang manis, menurutku.

Menyaksikan film itu rasanya campur aduk: kesal, geli, marah, dan merasa ngenes. Aduuuh… kenapa ya ada yang seperti itu di belahan dunia lain? Memang itu bukan kisah nyata, tapi itu potret budaya. Film itu disutradarai oleh Haifaa al-Mansour, seorang wanita Arab. Itu adalah film pertama yang syutingnya keseluruhan dilakukan di Arab Saudi, yang mana ini adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan di sana karena budayanya yang sangat didominasi laki-laki.

Aku merasa beruntung menyaksikan film ini. Selain gratis, rasanya kemarin itu adalah satu-satunya kesempatanku untuk menyaksikan Wadjda. Rasanya tak mungkin film seperti ini bisa ditayangkan di bioskop Indonesia. Setelah menyaksikan film itu aku merasa bersyukur di negara ini kaum perempuan masih dihargai dan bisa menikmati kebebasan. Setidaknya waktu kecil, aku bisa naik sepeda dengan gembira keliling kota. Baru kusadari, tidak semua perempuan bisa menikmati bersepeda dengan bebas.

Jika tertarik, silakan menyaksikan wawancara Haifaa al-Mansour di sini dan ini trailernya.

//

One thought on “Sepeda: Sebuah Kerinduan dan Kebebasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s