Cerita yang Klise

Berapa banyak cerita yang kamu ingat? Sebagian cerita yang kuingat adalah cerita yang kubaca ketika aku masih kecil. Entah kenapa, cerita-cerita yang kubaca zaman aku masih SD seolah melekat dalam benak. Misalnya cerita Leo si singa jenaka yang kelaparan tengah malam. Lalu si Jimmy–sahabatnya, seekor tikus–menyiapkan sekantung buah di dekat tempat tidur Leo, sehingga Leo bisa memakannya sewaktu-waktu saat rasa lapar menyerangnya. Itu hanya salah satu cerita. Sebagian cerita yang kuingat adalah cerita dari majalah anak-anak yang kubaca dulu–Bobo dan Ananda.

Kalau niat menulis dan mendokumentasikan setiap cerita yang mampir ke telingaku, barangkali bisa banyak sekali jumlahnya. Tapi aku memang tidak terlalu rajin. Jadi, seringnya kubiarkan cerita itu lewat begitu saja.

Cerita-cerita yang kudapatkan, macam-mcam sumbernya. Ada yang dari majalah, dari buku, dari obrolan teman, atau tak sengaja kudapat dari hasil nguping di angkot. Kapan hari waktu naik angkot, aku berbarengan dengan beberapa anak SMP. Dalam angkot mereka heboh bercerita. Salah seorang dari mereka mengatakan mantan pacarnya masih suka mengontaknya.

“Heran deh, dia itu cerewet banget pas tahu gue pulang malam. Pacar gue yang sekarang saja tidak secerewet itu,” kata gadis yang berkulit gelap.
Temannya menimpali, “Itu tandanya dia masih sayang sama elu.”

Klise ya? Pernah kan dengar cerita semacam itu?

Ya, memang. Kupikir-pikir, cerita di sekitar kita banyak yang klise. Soal putusnya persahabatan, soal penyelewengan, soal kebahagiaan bertemu teman lama, soal bos yang arogan, soal kesenangan karena gaji naik. Macam-macam. Kurasa, sebagian (besar) cerita-cerita itu klise. Maksudku, inti ceritanya sama, tapi kemasannya beda.

Tadi pagi, waktu membuka postingan di sebuah grup, aku menemukan ada orang yang memasang foto wanita yang sudah tua, tapi kabarnya wanita itu masih sehat karena sepanjang hidupnya dia banyak makan sayur dan membatasi konsumsi daging merah. Berapa umurnya? Ada yang menebak umurnya 100 tahun lebih. Sepertinya sih benar. Aku tidak mengikuti lagi postingan itu.

Foto itu membuatku teringat cerita seorang teman lama. Dulu dia pernah bercerita bahwa neneknya yang sudah sepuh sering terbangun tengah malam, lalu tak bisa tidur.
“Wonten nopo, Mbah?” tanya temanku. (Ada apa, Mbah?)
“Aku ra iso turu meneh. Kelingan kanca-kancaku.” (Aku tidak bisa tidur lagi. Teringat teman-temanku.)
Temanku bilang, neneknya suka “mengeluh” kenapa usianya sepanjang ini. Dia kesepian. Teman-temannya sudah banyak yang berpulang.

Jawaban neneknya itu mengingatkanku pada cerita kakakku. Konon ada seorang pastor yang kurang suka mendapat ucapan “panjang umur” ketika beliau berulang tahun. Beliau lebih suka didoakan supaya mendapat “umur yang secukupnya.” Aku menangkapnya, tidak perlu dikaruniai umur panjang. Itu tafsiranku sih. Aku tidak mengonfirmasi apakah tafsiranku benar atau salah.

Sejak mendengar cerita itu, aku suka berpikir, apakah umur panjang sebetulnya salah satu yang membahagiakan? Mungkin sebagian orang ingin berumur panjang dan tetap sehat. Kalau aku sendiri, sebetulnya tetap sehat saja sudah cukup. Siapa yang suka sakit-sakitan sih? Nah, soal umur, yaaa… monggo kerso–terserah–Sang Penguasa Waktu saja. Kalau tua dan kesepian, mungkin tidak enak juga. Apalagi kalau tua, kesepian, dan sakit-sakitan, tentu bukan itu yang diminta ya?

Foto yang kujumpai di sebuah grup FB tadi pagi itu membuatku bertanya-tanya, apakah nenek yang panjang umur itu bahagia dengan usianya yang panjang?

Ah, hidup ini barangkali memang klise. Jadi, barangkali yang perlu dilakukan adalah… mari menyebarkan cinta. (Kalimat ini mengutip tulisan seseorang yang beberapa waktu lalu minta aku menyunting tulisannya.) Dengan begitu, harapannya hidup kita senantiasa berwarna, berguna bagi sesama, dan kita pun bahagia. Begitu, katanya.

 

4 thoughts on “Cerita yang Klise

  1. Konon usia yang panjang & sehat itu merupakan berkat dari Tuhan. Di Alkitab juga ada tertulis supaya kita menghormati kedua orang tua kita supaya lanjut usia kita.

    Iya, sih. Pernah baca juga di Amsal atau Mazmur ya? Ah, lupa. Hehe.

  2. Kalau hidup di Indonesia mungkin tak terlalu kesepian…..tapi yang nggak enak, karena teman2 nya satu per stau meninggalkan dunia ini.
    Nggak usah jauh2 Kris, setiap reuni, selalu ada saja teman yang duluan berpulang…entah karena rata2 umur di Indonesia relatif rendah…atau memang saya sudah tua ya? hehehe….justru karena itu, saya banyak kesibukan, agar merasa produktif (menurut saya lho).
    (Aku sms diterima nggak?)

  3. Aku jadi ingat ada kenalanku (udah berumur memang) yang bilang aku ingin hidup sesuai jatah umurku dari Gusti.. panjang umur, awet di dunia tapi sakit-sakitan ya malah merepotkan yang hidup…

  4. Renungan yang menarik.
    Awal januari lalu ketika balik dari Indonesia sendirian (anak istri masih di Jakarta) terkait kepulangan papa mertuaku, sopir taksiku yang orang indonesia juga bilang kepadaku,
    “Donny, pada akhirnya bukan soal umur yang panjang tapi soal kamu bahagia nggak di sepanjang umurmu?”

    Dan hal itu seperti semakin kuteguhkan lewat postinganmu iki…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s