On Children Literature

Maap, sok-sokan pakai judul bahasa Inggris. Soalnya bingung ngarang judulnya.πŸ˜€πŸ˜€ *Atau barangkali ada yang mau menyumbang judul?*

Beberapa minggu lalu, temanku memberiku informasi bahwa akan ada workshop penulisan cerita anak. Aku yang waktu itu sedang berpusing-pusing merampungkan terjemahan berpikir, iya deh, nanti aku daftar. Tapi menjelang hari H aku masih belum daftar juga. Lupa. Waktu itu aku berpikir untuk batal saja. Kurasa sudah tidak ada tempat lagi. Temanku bilang, coba saja daftar. Yah… iseng-iseng saja, apa salahnya. Lagi pula setelah kutimbang-timbang dan karena temanku bilang aku boleh bareng dia berangkatnya, aku pun menghubungi pihak panitia. Toh, workshop ini gratis.

Akhirnya Sabtu kemarin, tanggal 22 Maret aku ke Museum Nasional untuk ikut workshop tersebut. Di sana aku ketemu Mbak Wikan yang bekerja di Yayasan Lontar.

Bagaimana acaranya?

Hmm… jujur saja, menurutku biasa saja. Kalau untuk pemula, atau orang yang tidak tahu sama sekali bagaimana menulis cerita anak, kurasa lumayan lah. Tapi barangkali aku sudah beberapa kali ikut pelatihan menulis, jadi kesanku workshop itu tidak jauh berbeda dengan yang pernah kuikuti dulu. Sebagian peserta kulihat orang tua bersama anak-anaknya. Sepertinya sih para ortu itu pengin anaknya jadi penulis. Sekarang memang ada penerbit yang menerbitkan buku yang ditulis anak-anak.

Oya, sekadar info, workshop ini diadakan oleh Media Indonesia. Selain workshop ada beberapa acara lain seperti lomba mewarnai untuk anak-anak, lomba story-telling, meet and greet penulis cerita anak.

Sebenarnya, sebelum berangkat ke Museum Nasional, aku melihat ada acara di TIM yang merupakan rangkaian dari Asean Literary Festival. Acara mulai pukul 4 sore. Acara itu bertajuk Children’s Literature: A Quest for Identity. Pembicaranya Arswendo, Clara Ng, dan Icha Rahmanti. Jadi, setelah dari Museum Nasional aku dan Mbak Wikan berangkat ke TIM. Ternyata untuk menuju TIM tidak susah. Hanya tinggal jalan ke dekat BI, lalu nyambung naik bus 502. Sampai deh depan TIM. Ketahuan kan kalau aku ini jarang keluar rumah. Untung bareng Mbak Wikan, jadi bisa naik kendaraan umum.πŸ˜€

Menurutku, acara di TIM jauh lebih seru. Plus waktu registrasi aku dapat buku Imung karangan Arswendo.πŸ˜€πŸ˜€ Lumayan pakai bangetπŸ™‚.

Arswendo bercerita bahwa dia menulis karena memang senang saja. Dia bilang, dia hanya bisa mengarang. Dari beliau aku tahu bahwa ternyata tahun 70-an pemerintah Orde Baru mengeluarkan Inpres soal pembuatan dan penyebaran buku anak kepada anak-anak. (Kurang lebih begitu deh yang kudengar kemarin. Kalau ada yang salah, tolong koreksi ya.) Waktu Arswendo ditanya, nilai apa yang ingin disampaikan ketika menulis cerita anak, beliau menjelaskan bahwa nilai yang ingin disampaikan tidak muluk-muluk; hanya agar anak tahu bisa membedakan mana yang fiksi dan tidak fiksi; bisa membedakan mana yang jahat dan yang nakal. Sederhana ya. Dikatakan bahwa seorang penulis harus memiliki kreatifitas, need for achievement, dan rasa percaya diri.

Arswendo menulis tidak dari ide-ide besar. Beliau mengatakan bahwa mungkin karena dia dibesarkan dalam keadaan miskin, jadi yang ditulis adalah hal-hal yang ada di sekitarnya.

Pembicara berikutnya adalah Clara Ng. Selama ini Clara Ng dikenal sebagai penulis cerita dewasa–chicklit, metropop. Lalu kenapa dia menulis cerita anak? Ceritanya agak panjang. Wanita bertubuh mungil ini sempat mengenyam pendidikan di Amerika. Waktu itu dia suka berkunjung ke perpustakaan. Biasanya kalau ke perpustakaan dia akan langsung menuju ke ruang tempat peminjaman yang ada di belakang. Untuk menuju ruang tersebut Clara Ng mesti melewati sebuah ruangan. Suatu kali dia penasaran, ingin tahu apa yang ada di balik ruangan itu. Memenuhi penasarannya, dia memasuki ruangan tersebut. Ternyata di situ tampak anak-anak dari berbagai usia sedang asyik memegang buku dan membaca. Bukunya pun bermacam-macam. Waktu mendengar cerita Clara Ng itu aku jadi membayangkan ruangan yang sangat luas, penuh buku. *Ngiri deh* Dia tertarik mengambil salah satu buku, judulnya The Giving Tree. Clara Ng sangat tersentuh dengan buku itu dan dia berniat kelak akan menulis buku anak. Jadi, bisa dikatakan menulis buku dewasa adalah “jalan memutar” sampai akhirnya dia menulis buku anak-anak.

Sebagai seorang ibu, Clara Ng ingin anaknya juga mengenal dan diperkaya oleh cerita anak-anak lokal. Alasan itu hampir sama seperti yang dikemukakan oleh Icha Rahmanti. Awalnya dia menulis cerita chicklit–Cintapuccino. Tapi setelah menjadi ibu, dia kemudian menulis cerita anak.

Sebetulnya kenapa sih anak-anak Indonesia perlu membaca buku cerita lokal? Entah seberapa bagusnya cerita terjemahan, pasti ada bagian yang terasa jauh bagi anak-anak. Misalnya saja dari segi budayanya. Aku ingat kalau membaca buku Lima Sekawan, biasanya seting waktunya adalah pas liburan musim panas. Jelas, anak Indonesia tidak mengenal liburan musim panas, kan? Di sini liburan biasanya liburan kenaikan kelas, libur Lebaran, atau libur Natal/akhir tahun. Keunggulan cerita lokal adalah lebih terasa dekat dan lebih terasa “gue banget.”

Waktu sesi tanya jawab, aku tidak terlalu banyak mencatat. Tapi ada satu pertanyaan yang menurutku menarik. Pertanyaannya kurang lebih begini: Bagaimana pendapat ketiga pembicara tersebut soal buku cerita anak yang ditulis oleh anak-anak. Jawaban yang paling kuingat adalah jawaban dari Clara Ng. Dia melontarkan pertanyaan (retoris): Salah nggak sih kalau ada anak yang bisa main piano lalu pentas sampai ke luar negeri? Menurutnya, anak-anak menulis itu tidak salah. Tapi ketika tulisan itu dibawa ke dunia bisnis, itu yang meresahkan. Bagaimanapun ada uang besar yang bermain di situ. Seandainya sekolah-sekolah kita menyediakan ruang untuk seni bagi anak, barangkali tidak perlu sampai ada buku-buku tersebut. Misalnya, sekolah membuat majalah sehingga anak/murid bisa menulis di situ. Bagus-bagus saja kan? Tapi murid-murid sekolah kita kebanyakan dibebani dengan UN dan segala macamnya. Jadi, ya memang sedikit sekali ruang untuk anak menyalurkan kreativitasnya. Kalau menurut Icha Rahmanti, buku-buku tersebut cukup baik sebagai gerbang untuk anak agar mereka mau membaca. Bagaimanapun, budaya baca dan menulis masih kurang di Indonesia. Arswendo sendiri sempat diminta menulis kata pengantar untuk buku semacam itu. Tapi buku tersebut batal diterbitkan karena Arswendo yang beragama Katolik dianggap tidak sepantasnya menulis kata pengantar untuk buku yang ditujukan bagi anak muslim. Yah, memang pada kenyataannya perbedaan agama kerap dijadikan alasan pengotak-kotakan di negara ini. Sayang ya. Padahal dengan perbedaan kita justru bisa belajar banyak.

Bagiku, diskusi tentang literatur anak-anak itu menarik. Mungkin karena pembicaranya juga menarik dalam menyampaikan pikiran mereka. Satu hal yang kutangkap dari diskusi itu adalah sastra anak Indonesia masih sangat kurang. Jadi, mari (membaca dan) menulis!

5 thoughts on “On Children Literature

  1. Wah, bagus Kris. Terima kasih sudah sharing. Saya mendukung soal cerita anak karena lewat cerita kita bisa menyampaikan pesan moral dan nilai-nilai yang mau diajarkan ke anak-anak kita. Bravo buat semua penulis cerita anak!

    Terima kasih sudah mampir, KakπŸ˜€ Saya sendiri kadang masih ingat cerita anak yang dulu pernah saya baca.πŸ™‚ Jadi, betapa pentingnya cerita anak yang bermutu ya.

  2. ah iya…ingat dulu baca novel anak terjemahan.. Lima sekawan, rumah kecil di padang rumput dll… janggal rasanya ada waktu sarapan, minum teh pagi, makan siang, minum teh sore dan makan malam… wuihhh, makan melulu ya… lalu istilah menu-menu yang aneh-aneh: es limun jahe, panekuk, olahan kepala babi dll… nggak famiiar dgn keseharian kita.. tapi malah bagus menurutku, jadi kita yg baca bisa semakin berimajinasi..

    Iya, aku dulu suka penasaran kaya apa ya rasanya limun jahe. Eh, sampai sekarang masih penasaran ding.πŸ˜€

  3. Menarik sekali Kris…
    Setelah punya cucu, saya sering menemani dia baca buku, mendongeng…juga menemani nonton TV (Disney yunior). Ternyata saya senang juga nonton cerita anak-anak…malah jadi kecanduan.

    Saat anak-anak krcil, dulu banyak bacaan legenda…akhirnya tiap diajak ke suatu daeah, anakku tanya…legenda nya gimana bu? Mati aku, kan tak semua daerah ada legendanya….hehehe…..hayoo nulis Kris, nanti bisa dibaca oleh cucuku (sekarang umurnya 3 tahun tapi sudah bisa didongengi dan serius mendengarkannya…jadi senang punya teman kecil).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s